
Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI) menyambut baik program strategis gentengisasi yang diinisiasi oleh Presiden Prabowo Subianto. Inisiatif ambisius untuk mengganti atap seng dengan genteng ini dipandang sebagai katalisator utama yang tidak hanya akan membuka pangsa pasar baru yang signifikan, tetapi juga memacu ekspansi pesat industri genteng nasional.
Ketua Umum ASAKI, Edy Suyanto, dengan antusiasme tinggi menggarisbawahi bahwa arahan Presiden Prabowo Subianto mengenai gentengisasi merupakan sebuah peluang emas yang tak terbantahkan bagi seluruh pelaku usaha di sektor keramik dan genteng.
“Kami menyambut gembira arahan Bapak Presiden terkait gentengisasi. Ini jelas akan menciptakan pasar baru dan mendorong ekspansi baru bagi industri genteng saat ini,” tegas Edy dalam acara pelantikan pengurus asosiasi keramik yang berlangsung pada Selasa, 3 Februari.
Saat ini, industri genteng yang bernaung di bawah ASAKI telah menunjukkan performa luar biasa dengan tingkat utilisasi yang sangat tinggi. Tercatat, tiga perusahaan genteng saja mampu memproduksi sekitar 85 juta keping per tahun, beroperasi di atas 90% dari kapasitas penuh. Edy menambahkan, “Kapasitas produksi kami saat ini sudah di atas 90%. Dengan hadirnya program gentengisasi, kami optimistis akan semakin banyak pabrik genteng yang tumbuh dan berkembang,” sebuah indikasi kesiapan industri untuk memenuhi lonjakan permintaan.
ASAKI menegaskan kesiapan penuhnya untuk terlibat aktif dalam implementasi program gentengisasi. Asosiasi ini siap berkolaborasi, baik jika dikoordinasikan dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) maupun entitas pemerintah lainnya. “Prinsipnya, kami siap dilibatkan dan bekerja sama. Dari aspek permodalan, teknologi, hingga sumber daya manusia, kami yakin industri genteng tidak akan menghadapi hambatan berarti,” ujar Edy, menunjukkan kepercayaan diri industri.
Minta Dukungan Pasokan Energi dan Bahan Baku
Meskipun demikian, Edy menekankan bahwa dukungan pemerintah tetap menjadi kunci vital, terutama dalam memastikan kelancaran pasokan energi dan bahan baku esensial. “Untuk menyukseskan program gentengisasi ini, kehadiran pemerintah sangat dibutuhkan, khususnya terkait energi gas. Industri genteng kami sangat bergantung pada gas sebagai satu-satunya bahan bakar utama. Oleh karena itu, ekspansi tentu akan sangat membutuhkan ketersediaan gas yang memadai,” jelasnya, menyoroti urgensi pasokan energi.
Selain pasokan energi, ketersediaan bahan baku berupa tanah liat atau clay juga diidentifikasi sebagai salah satu tantangan utama yang harus diatasi untuk menjamin keberlanjutan produksi genteng.
Di kesempatan yang sama, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita turut menyampaikan pandangannya. Ia mengingatkan bahwa industri genteng harus mempersiapkan diri secara optimal untuk menghadapi lonjakan permintaan yang signifikan seiring bergulirnya program gentengisasi ini.
“Tingkat utilisasi rekan-rekan ASAKI sudah mencapai 90%. Dengan program gentengisasi yang akan memicu ekspansi, kita semua harus benar-benar siap,” ujar Agus, menekankan perlunya perencanaan matang dari sektor industri.
Menurut Agus Gumiwang Kartasasmita, genteng memiliki sederet keunggulan superior dibandingkan dengan atap seng atau material alternatif lainnya. Ia menjelaskan, “Genteng sebagai material atap tidak hanya memberikan kesejukan alami, tetapi juga lebih tahan lama, sangat ramah lingkungan, serta menawarkan nilai ekonomis yang lebih baik dibandingkan dengan atap yang bukan berasal dari tanah liat,” sebuah argumentasi kuat yang mendukung implementasi program gentengisasi.
Agus menambahkan bahwa pemerintah telah merancang program gentengisasi ini sebagai komponen integral dalam upaya peningkatan kualitas hunian masyarakat. Sebagai informasi, Presiden Prabowo Subianto pertama kali mencetuskan program gentengisasi yang visioner ini dalam Taklimat Presiden pada Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Daerah 2026. Tujuan utamanya adalah mengganti atap seng dengan genteng, yang tidak hanya menjanjikan kenyamanan lebih baik bagi penghuni, tetapi juga nilai estetika yang superior.