Asyik dengan medsos, publik tetap cari pers saat butuh informasi terpercaya

Ketua Dewan Pers, Komaruddin Hidayat, mengamati bahwa masyarakat Indonesia saat ini sedang asyik menikmati hiruk-pikuk media sosial yang kental dengan sensasi dan luapan emosi. Meskipun demikian, di tengah lautan informasi tersebut, kebutuhan akan pers sebagai sumber informasi yang tepercaya tetap menjadi prioritas utama bagi publik. Fenomena ini menunjukkan bahwa di balik gemerlap disrupsi, kredibilitas pers tetap dicari dan dibutuhkan.

Advertisements

Hidayat menggambarkan arus deras disrupsi informasi dari media sosial layaknya sebuah bencana banjir besar. Dalam situasi kacau akibat banjir informasi yang membingungkan, masyarakat pada akhirnya akan mencari dan merindukan “air bersih”, yakni informasi yang jernih, akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan. Analogi ini menekankan peran krusial pers di tengah banjir informasi.

“Pers ini merupakan semacam lembaga penyulingan. Bagaimana menemukan kembali, mengemas kembali, sehingga banyak air bersih yang bisa ditawarkan kepada masyarakat,” ujar Komaruddin dalam Konvensi Nasional Media Massa pada peringatan Hari Pers Nasional, Minggu (26/2). Pernyataan ini menegaskan kembali fungsi pers sebagai filter dan pemurni informasi, memastikan bahwa hanya berita yang terverifikasi dan relevan yang sampai ke tangan publik.

Hasil penelitian terbaru turut memperkuat pandangan ini. Studi tersebut menunjukkan bahwa publik yang merasa bingung dan lelah dengan tumpukan informasi dari media sosial cenderung kembali mencari kejelasan dari media arus utama. Fenomena ini, menurut Hidayat, adalah bukti nyata bahwa pers masih memegang peran sentral sebagai penyedia informasi yang kredibel dan dapat diandalkan, jauh dari sekadar sensasi.

Advertisements

Hidayat juga menegaskan bahwa disrupsi informasi ini bukan hanya terjadi di Indonesia, melainkan sebuah fenomena global yang merupakan bagian tak terpisahkan dari dinamika sejarah peradaban. Oleh karena itu, ia mendorong para insan pers untuk tetap memelihara semangat optimisme dan kreativitas dalam menghadapi berbagai perubahan yang ada. “Kita boleh berkeluh kesah, tetapi jangan lama-lama,” pesannya, menyerukan agar segera bangkit dari keluhan dan terus berinovasi.

Menurutnya, disrupsi adalah sebuah konstanta atau keniscayaan dalam sejarah yang selalu hadir di setiap fase perjalanan peradaban manusia. Justru dengan adanya disrupsi, peradaban didorong untuk terus bergerak maju, karena manusia ditantang untuk berpikir lebih kreatif dan menjadi inovator di tengah ketidakpastian.

“Ketika kita berada di tengah suasana disrupsi, sering kali muncul kebingungan. Namun sesungguhnya, ini adalah bagian dari mata rantai panjang perjalanan sejarah itu sendiri,” ia menambahkan, menekankan bahwa kondisi ini adalah bagian alami dari evolusi peradaban.

Dalam setiap era disrupsi, Komaruddin mengidentifikasi setidaknya ada tiga kelompok masyarakat yang terbentuk. Pertama, mereka yang merasa kalah dan cenderung terus-menerus mengeluh tanpa tindakan. Kedua, kelompok yang bersikap wait and see, memilih untuk bertahan sambil membaca dan menganalisis situasi tanpa bergerak signifikan. Ketiga, kelompok kreatif dan pionir yang justru melihat disrupsi sebagai peluang emas. Mereka inilah yang proaktif mencari solusi, menemukan cara baru menghadapi perubahan, dan berhasil membuka dunia serta potensi baru di balik gejolak disrupsi tersebut.

“Saya merasa gembira melihat insan pers yang saya temui tetap optimis, dinamis, dan bersemangat menghadapi era disrupsi. Antusiasme yang terlihat hari ini menjadi bukti nyata semangat tersebut,” pungkas Komaruddin, mengakhiri pesannya dengan nada positif dan apresiasi terhadap kegigihan para pekerja media.

Advertisements