
Adopsi kendaraan listrik secara global diproyeksikan akan membawa dampak signifikan terhadap konsumsi minyak dunia. Menurut skenario pemodelan dari BloombergNEF, penggunaan kendaraan tanpa emisi ini diperkirakan mampu menghemat 2,3 juta barel minyak per hari pada tahun 2025. Angka ini bahkan melonjak drastis, lebih dari dua kali lipat, menjadi 5,25 juta barel minyak per hari pada tahun 2030.
Claudio Lubis, seorang analis minyak di BloombergNEF, menegaskan tren yang tak terbantahkan: semakin banyak masyarakat akan beralih ke kendaraan bertenaga baterai menjelang akhir dekade ini. Pergeseran ini secara otomatis akan menghasilkan penghematan bahan bakar fosil yang jauh lebih besar.
Menariknya, saat ini kontribusi terbesar terhadap penghematan bahan bakar fosil, berdasarkan perhitungan BloombergNEF, justru datang dari kendaraan roda dua dan roda tiga. Pemicunya adalah masifnya pemanfaatan sepeda motor listrik, terutama di negara-negara berkembang.
Proyeksi penghematan minyak pada tahun 2025 sebagian besar didorong oleh adopsi motor listrik. Rinciannya menunjukkan bahwa kendaraan roda dua dan roda tiga akan menghemat sekitar 1,14 juta barel minyak per hari. Diikuti oleh kendaraan pribadi (roda empat) dengan 926,8 ribu barel per hari, bus sebesar 229,8 ribu barel per hari, angkutan umum 217,9 ribu barel per hari, serta truk komersial 194,2 ribu barel per hari.
Namun, pada tahun 2030, lanskap penghematan diprediksi akan bergeser. Kendaraan pribadi (roda empat) akan mengambil alih posisi teratas dengan estimasi penghematan mencapai 2,09 juta barel minyak per hari. Kendaraan roda dua dan roda tiga tetap memberikan kontribusi signifikan dengan 1,35 juta barel per hari, diikuti angkutan umum 775,1 ribu barel per hari, truk komersial 721,7 ribu barel per hari, dan bus 315,7 ribu barel per hari.
Meskipun demikian, perjalanan adopsi kendaraan listrik global tidak luput dari tantangan. Beberapa kebijakan berpotensi menahan lajunya, termasuk penghapusan subsidi kendaraan listrik di Cina serta adanya perubahan atau pelonggaran kebijakan penghentian penjualan kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE) pada tahun 2035 di Eropa. Kontrasnya, lonjakan harga bahan bakar yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah justru seolah membalikkan keadaan, mempercepat minat pada kendaraan listrik.
Senada dengan pandangan ini, Daan Walter, seorang analis dari lembaga think tank energi EMBER, menyoroti bahwa kendaraan listrik kini semakin kompetitif dari segi biaya dibandingkan mobil bertenaga bensin. Ia menambahkan, seperti dikutip dari Bloomberg, “Volatilitas harga minyak menandakan kendaraan listrik sebagai pilihan yang masuk akal bagi negara yang ingin melindungi diri dari guncangan masa depan.”
Analisis dari EMBER juga mengungkapkan bahwa negara-negara di Asia berada di garis depan dalam hal kecepatan adopsi kendaraan listrik. Sebagai contoh, pada tahun 2025, Cina diprediksi akan mencapai 50 persen dari total penjualan mobilnya berupa mobil listrik, baik berbasis baterai murni maupun hibrida plug-in. Sementara itu, Vietnam diperkirakan akan mencapai 38 persen dan Thailand 21 persen.
Perlu dicatat, estimasi penghematan minyak oleh EMBER sedikit berbeda dari BloombergNEF. Berdasarkan perhitungan mereka, adopsi kendaraan listrik akan menghasilkan penghematan sekitar 1,7 juta barel per hari pada tahun 2025, angka yang lebih rendah. Perbedaan ini dijelaskan karena EMBER turut memperhitungkan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) oleh mobil listrik jenis hibrida plug-in.
Lebih jauh, dengan asumsi rata-rata harga minyak sebesar US$80 per barel, EMBER memproyeksikan potensi penghematan finansial yang fantastis. Cina, berkat adopsi kendaraan listrik, dapat menghemat lebih dari US$28 miliar per tahun. Eropa diperkirakan menghemat US$8 miliar per tahun, dan India mencapai US$600 juta per tahun, menunjukkan dampak ekonomi yang substansial.