BI sebut outlook negatif Fitch tak cerminkan fundamental ekonomi RI

Jakarta, IDN Times – Bank Indonesia (BI) dengan tegas menyatakan bahwa perubahan outlook peringkat kredit Indonesia oleh Fitch Ratings, dari stabil menjadi negatif, sama sekali tidak mencerminkan adanya pelemahan fundamental dalam perekonomian nasional. Meskipun prospeknya direvisi menjadi negatif, Fitch tetap mempertahankan peringkat utang jangka panjang Indonesia di level ‘BBB’.

Advertisements

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, dalam keterangan tertulisnya pada Rabu (4/3/2026), menegaskan, “Penyesuaian outlook ini tidak menunjukkan pelemahan mendasar pada perekonomian. Prospek ekonomi Indonesia tetap solid dan memiliki daya tahan yang kuat.”

Perry merinci, kekuatan ekonomi Indonesia nyata terlihat dari pertumbuhan domestik yang konsisten solid, bahkan di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Ditambah lagi, inflasi berhasil dikendalikan dengan baik, termasuk inflasi inti yang terjaga rendah. Nilai tukar rupiah pun terus diperkuat melalui serangkaian kebijakan stabilisasi di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) luar negeri, serta transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.

Stabilitas sistem keuangan nasional juga tetap terjaga berkat likuiditas yang memadai, permodalan perbankan yang kokoh, dan risiko kredit yang rendah. Fondasi ekonomi Indonesia semakin diperkuat oleh ekosistem digitalisasi sistem pembayaran yang luas, infrastruktur yang stabil, dan struktur industri yang sehat, semua berperan penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi.

Advertisements

Memandang ke depan, Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka menengah akan terus solid, disertai inflasi yang terkendali sesuai target. Untuk tahun 2026, pertumbuhan ekonomi diperkirakan berada dalam rentang 4,9–5,7 persen, dan diproyeksikan akan meningkat pada tahun 2027.

Dari sisi eksternal, perekonomian Indonesia menunjukkan ketahanan yang kuat. Hal ini tercermin dari Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) yang sehat, didukung oleh kinerja neraca perdagangan yang solid. Cadangan devisa per Januari 2026 tercatat sebesar 154,6 miliar dolar AS, angka ini setara dengan pembiayaan 6,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, jauh di atas standar kecukupan internasional yang umumnya sekitar 3 bulan impor. Selain itu, defisit transaksi berjalan tahun 2026 diperkirakan akan tetap rendah, yakni di kisaran 0,9–0,1 persen dari PDB.

Bank sentral berkomitmen untuk terus memperkuat bauran kebijakan demi menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Langkah ini juga bertujuan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian. BI juga akan intens bersinergi dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) dan pemerintah, serta memperkuat komunikasi kebijakan guna menjaga kepercayaan pasar.

Perry Warjiyo lebih lanjut menjelaskan bahwa, menurut laporan Fitch, afirmasi peringkat Indonesia di level ‘BBB’ mencerminkan rekam jejak konsisten Indonesia dalam menjaga stabilitas makroekonomi, prospek pertumbuhan ekonomi jangka menengah yang solid, rasio utang pemerintah terhadap PDB yang relatif rendah, dan ketahanan eksternal yang memadai.

Meskipun demikian, revisi outlook menjadi negatif dipengaruhi oleh pandangan Fitch terkait potensi peningkatan ketidakpastian kebijakan dan kekhawatiran mengenai konsistensi serta kredibilitas kebijakan di Indonesia.

Advertisements