Bitcoin kembali ke level US$ 71.000, cermati agenda penting bulan Maret

Setelah menunjukkan reli impresif dan sempat mendekati level US$ 74.000 (setara Rp 1,25 miliar), harga Bitcoin kini menghadapi koreksi. Pada Kamis (5/3), mata uang kripto terkemuka ini kembali bergerak di sekitar US$ 71.000 (sekitar Rp 1,2 miliar, dengan kurs Rp 16.920/US$), menandai jeda sementara dalam momentum kenaikannya.

Advertisements

Momentum kenaikan Bitcoin di awal pekan mulai memudar seiring pembukaan pasar AS pada hari yang sama. Kondisi ini memicu penurunan harga kripto utama tersebut hampir 2% dalam 24 jam terakhir, membawa nilainya ke US$ 71.400 (sekitar Rp 1,21 miliar).

Pergerakan harga Bitcoin yang lesu ini terjadi bersamaan dengan pelemahan di pasar saham global. Eskalasi konflik di Iran, yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda, turut memicu kekhawatiran investor. Hal ini mendorong harga minyak naik signifikan sebesar 5,3% menjadi US$ 78,70 per barel. Indeks Dow Jones Industrial Average merosot 1,4%, dan S&P 500 juga terkoreksi 0,7%.

Berbeda dengan indeks lainnya, Nasdaq mencatat penurunan yang relatif kecil, hanya 0,4%. Hal ini disebabkan oleh kinerja sektor perangkat lunak yang sebelumnya tertekan, kini justru menunjukkan kenaikan substansial. ETF iShares Expanded Tech-Software Sector (IGV) bahkan melonjak 2% dalam sehari, dan telah menguat sekitar 9% selama lima sesi terakhir.

Advertisements

Laporan Coindesk menyoroti pentingnya indikator-indikator tersebut, mengingat Bitcoin memiliki korelasi yang kuat dengan sektor perangkat lunak. Sejak Oktober, Bitcoin dan saham-saham perangkat lunak kerap bergerak sejalan, sempat anjlok bersamaan di tengah kekhawatiran investor akan disrupsi teknologi AI, dan kini bangkit dari titik terendah secara serentak dalam beberapa hari terakhir.

Bitcoin belum sepenuhnya aman,” ujar Arthur Hayes, CIO Maelstrom, seperti dikutip Coindesk pada Jumat (6/3). Meskipun sempat mencapai reli hingga US$ 74.000, korelasi dengan ETF IGV tetap menjadi perhatian. Para pelaku pasar kripto yang bersikap bullish tentu tidak mengharapkan harga Bitcoin justru menurun saat saham-saham perangkat lunak menunjukkan performa positif.

Agenda Penting Kripto pada Bulan Maret

Platform pertukaran aset kripto global, Luno, menyoroti serangkaian agenda penting yang akan berlangsung pada Maret 2026. Peristiwa-peristiwa ini diperkirakan akan memengaruhi pergerakan Bitcoin dan aset kripto lainnya, sehingga menjadi fokus utama para pelaku pasar kripto. Berikut adalah rincian agenda tersebut:

1. Upgrade Lisovo Polygon
Pada 4 Maret 2026, upgrade Lisovo Polygon direncanakan untuk mempercepat transaksi antaragen dalam jaringan Polygon. Pembaruan ini mencakup biaya gas senilai US$ 1 miliar (setara Rp 16,92 triliun), peningkatan kinerja dompet kripto, serta dukungan smart contract untuk meningkatkan adopsi, likuiditas, dan aktivitas pengguna secara keseluruhan di jaringan.

2. Rilis Angka Pengangguran AS
Pada 6 Maret 2026, data angka pengangguran AS akan dirilis. Data resmi sebelumnya menunjukkan tren positif, di mana angka pengangguran di Amerika Serikat turun menjadi 4,3% pada Januari 2026 dari 4,4% di Desember 2025. Selain itu, non-farm payroll juga mencatatkan penambahan 130 ribu pekerjaan, yang merupakan angka tertinggi dalam setahun terakhir. Perkembangan ini mengindikasikan kestabilan di pasar tenaga kerja AS dan meredakan kekhawatiran akan potensi resesi ekonomi.

3. Angka Inflasi AS
Pengumuman angka inflasi AS dijadwalkan pada 11 Maret 2026. Sebelumnya, Indeks Harga Konsumen (CPI) AS pada Februari 2026 menunjukkan kenaikan 2,4% (year-on-year), mencapai level terendah sejak Mei 2025. Data inflasi ini sangat krusial karena akan memengaruhi keputusan The Fed, bank sentral AS, dalam menentukan suku bunga acuannya pada bulan Maret.

4. Pengumuman Suku Bunga The Fed
Pada 18 Maret 2026, bank sentral AS, The Fed, akan mengumumkan keputusan terkait suku bunga acuannya. Berdasarkan FeWatch Tool dari CME Group, mayoritas pialang berjangka, yakni lebih dari 90%, memprediksi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga acuannya pada bulan ini.

Gubernur The Fed Christopher Waller sebelumnya menyatakan pada Februari 2026 bahwa dukungannya terhadap pemangkasan suku bunga akan sangat bergantung pada penguatan data tenaga kerja yang akan dirilis pada 6 Maret 2026. Angka pengangguran yang rendah akan menjadi sinyal positif bagi kebijakan pelonggaran moneter. Penting diketahui, Waller hanyalah satu dari tujuh anggota dewan gubernur The Fed yang berwenang dalam pengambilan keputusan tersebut.

5. Pengumuman Suku Bunga Bank of Japan
Bank sentral Jepang, atau Bank of Japan, juga akan mengumumkan keputusan suku bunga acuannya pada 19 Maret 2026. Beberapa analis mengemukakan bahwa volatilitas pasar keuangan yang terjadi pada Februari 2026 sebagian besar dipicu oleh spekulasi mengenai potensi kenaikan suku bunga Bank of Japan.

Kenaikan suku bunga ini dapat menurunkan profitabilitas carry trade yen, sebuah strategi di mana investor meminjam yen dengan bunga rendah untuk diinvestasikan pada aset berimbal hasil lebih tinggi di pasar global.

Meskipun demikian, angka inflasi tahunan Jepang pada Februari 2026 melambat hingga di bawah target 2% BoJ untuk pertama kalinya. Kondisi ini menimbulkan perdebatan di kalangan analis mengenai apakah inflasi yang melambat ini akan mengubah arah kebijakan suku bunga bank sentral Jepang.

6. Kunjungan Presiden Donald Trump ke Cina
Presiden AS Donald Trump dijadwalkan akan melakukan kunjungan bersejarah ke Cina pada 31 Maret hingga 2 April 2026, yang merupakan kunjungan pertamanya setelah delapan tahun. Gedung Putih mengumumkan bahwa rencana kunjungan ini muncul setelah Mahkamah Agung AS membatalkan sejumlah tarif yang diberlakukan Trump, termasuk yang menargetkan Cina.

Isu tarif diperkirakan menjadi agenda utama dalam kunjungan tersebut. Para analis dan pelaku pasar akan mencermati setiap dinamika dan perubahan dalam hubungan dagang antara kedua negara adidaya ini, mengingat dampaknya yang signifikan terhadap pasar keuangan global.

Advertisements