BMKG waspadai bibit siklon 95S, 93S, siklon Bakung saat libur Nataru, apa itu?

Menjelang libur panjang Natal dan Tahun Baru (Nataru), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini terkait ancaman tiga sistem cuaca yang berpotensi memicu kondisi ekstrem di wilayah Indonesia. Ketiga sistem tersebut adalah Bibit Siklon Tropis 95S, Bibit Siklon Tropis 93S, dan Siklon Tropis Bakung, yang diperkirakan akan memengaruhi cuaca dan perairan di seluruh nusantara. BMKG, melalui unggahan Instagram pada Selasa (16/12), menegaskan bahwa dampak tidak langsung dari fenomena ini dapat berupa hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, angin kencang, serta gelombang laut tinggi di berbagai wilayah perairan dan daratan. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan.

Advertisements

Apa Itu Bibit Siklon 95S dan Bahayanya?

Bibit Siklon Tropis 95S, yang baru terbentuk pada Senin (15/12), menjadi salah satu perhatian utama. BMKG mencatat bahwa sistem ini terpantau di sekitar 8,8°LS – 134,4°BT, tepatnya di wilayah Laut Arafura selatan Kepulauan Aru, Maluku. Bibit siklon ini memiliki kecepatan angin maksimum sekitar 20 knot atau 37 kilometer per jam dengan tekanan minimum 1005 hPa. Meskipun demikian, potensi Bibit Siklon Tropis 95S untuk berkembang menjadi siklon tropis dalam 24 jam ke depan masih dikategorikan rendah.

Kendati demikian, kemunculan Bibit Siklon Tropis 95S tetap akan memberikan dampak tidak langsung pada beberapa wilayah di Indonesia, meliputi:

  • Hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat di Maluku bagian Tenggara.
  • Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di Papua Selatan.
  • Gelombang tinggi 1,25 meter sampai 2,5 meter di Laut Arafura, Laut Banda, serta Perairan Kepulauan Kai dan Aru.
Advertisements

Apa Itu Bibit Siklon 93S dan Bahayanya?

Sistem angin lainnya yang diwaspadai adalah Bibit Siklon Tropis 93S, yang telah terbentuk sejak 11 Desember. Bibit siklon ini terpantau di sekitar 12,8°LS – 113,5°BT, tepatnya di Samudra Hindia selatan Jawa Timur. Kecepatan angin maksimumnya sekitar 15 knot atau 28 kilometer per jam dengan tekanan minimum 1005 hPa. Sama seperti 95S, potensi Bibit Siklon Tropis 93S untuk berkembang menjadi siklon tropis dalam 24 jam ke depan juga masih berada pada kategori peluang rendah.

Meskipun peluangnya rendah, dampak tidak langsung dari Bibit Siklon Tropis 93S patut diwaspadai, di antaranya:

  • Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat berpotensi terjadi di Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara Barat.
  • Angin kencang berpotensi terjadi di Jawa Timur dan Bali.
  • Gelombang tinggi 1,25 meter sampai 2,5 meter berpotensi terjadi di Samudera Hindia selatan Banten hingga Sumba.
  • Gelombang tinggi 2,5 meter sampai 4 meter berpotensi terjadi di Samudera Hindia selatan Jawa hingga NTB.

Pakar klimatologi dari BRIN, Erma Yulihastin, menyoroti potensi bahaya dari badai yang dihasilkan oleh Siklon Tropis 93S, yang disebutnya berpotensi menjadi ‘next Senyar’, mirip dengan penyebab banjir bandang dan longsor di Sumatra sebelumnya. “Waspadai next Senyar, yang diperkirakan mendarat di NTT pada 1 – 10 Januari 2026. Ini adalah hasil prediksi resolusi tinggi submusiman hingga musiman dari KAMAJAYA – BRIN, alat sistem pendukung keputusan, yang didedikasikan untuk mitigasi cuaca esktrem dalam enam bulan ke depan,” ungkap Erma melalui akun X pada Kamis (11/12).
Dampak tidak langsung dari sistem ini diperkirakan terjadi di Samudra Hindia dan perairan selatan Indonesia. Namun, yang lebih mengkhawatirkan adalah perkiraan pendaratan Siklon Tropis 93S di Laut Flores, dekat NTT, Kupang, dan Timor Leste, yang dinilai dapat membawa dampak lebih berbahaya.

Alasan mengapa Siklon Tropis 93S dianggap berbahaya adalah:

  • Bibit badai ini memiliki kemampuan untuk tumbuh cepat menjadi siklon tropis.
  • Bibit siklon yang mendarat di wilayah timur berpotensi membawa hujan ekstrem, angin kencang berjam-jam, gelombang tinggi, hingga memicu banjir bandang dan longsor.

Puncak risiko dari bibit badai Siklon Tropis 93S diperkirakan terjadi antara 11 hingga 20 Desember, bahkan berpotensi berlanjut hingga awal Januari 2026, bertepatan dengan periode libur Natal dan Tahun Baru.

Apa Itu Siklon Bakung dan Bahayanya?

Ancaman ketiga datang dari Siklon Tropis Bakung, yang berawal dari Bibit Siklon Tropis 91S dan mulai berubah menjadi siklon sejak 12 Desember. Pada hari ini, Selasa (16/12), pukul 07.00 WIB, Siklon Tropis Bakung terpantau di sekitar 10,8°LS – 93,2°BT, tepatnya di Samudra Hindia sebelah barat daya Lampung. Siklon ini memiliki kecepatan angin maksimum sekitar 40 knot atau 76 kilometer per jam dengan tekanan udara minimum 997 hPa, menjadikannya kategori satu. Meski demikian, BMKG memprakirakan bahwa dalam 24 jam ke depan, intensitas Siklon Tropis Bakung akan menurun dan kembali menjadi kategori rendah.

Meski intensitasnya diprediksi menurun, Siklon Tropis Bakung tetap akan memberikan dampak tidak langsung, antara lain:

  • Gelombang tinggi 1,25 meter sampai 2,5 meter berpotensi terjadi di Samudera Hindia barat Kepulauan Mentawai, Samudera Hindia barat Lampung, dan Selat Sunda bagian Selatan.
  • Gelombang tinggi 2,5 meter sampai 4 meter berpotensi terjadi di Samudera Hindia barat Bengkulu.

Dampak Bibit Siklon 93S, 95S, serta Bakung Jelang Libur Nataru

BMKG mencatat beberapa provinsi di Indonesia telah mengalami curah hujan sangat lebat dalam tiga hari terakhir, di antaranya Sumatera Barat (121 mm/hari), Bali (110 mm/hari), dan Riau (106 mm/hari). Rekapitulasi bencana hidrometeorologi berupa banjir/genangan, tanah longsor, dan gangguan transportasi juga telah terjadi dalam sepekan terakhir. Menurut BMKG, faktor-faktor yang memengaruhi kejadian ini meliputi keberadaan Siklon Tropis Bakung di Samudra Hindia Barat Lampung, Bibit Siklon Tropis 93S di Samudera Hindia selatan Jawa, dan Bibit Siklon Tropis 95S di Perairan Nusa Tenggara Timur.

Ketiga sistem ini—Bibit Siklon Tropis 93S, Bibit Siklon 95S, dan Siklon Tropis Bakung—secara kolektif memengaruhi pola angin, membentuk daerah konvergensi, dan memicu peningkatan curah hujan dengan intensitas sedang hingga sangat lebat di sejumlah wilayah Indonesia. Dampak ini khususnya terasa di Sumatera bagian tengah hingga Nusa Tenggara. Dengan kondisi atmosfer yang masih aktif dan kompleks, potensi peningkatan pertumbuhan awan hujan serta cuaca ekstrem berupa hujan yang dapat disertai kilat/petir, angin kencang, dan gelombang laut tinggi diperkirakan akan berlanjut di berbagai wilayah Indonesia dalam sepekan ke depan, terutama menjelang libur Nataru.

Dalam menyikapi potensi cuaca ekstrem ini, BMKG mengimbau masyarakat untuk menjauhi wilayah terbuka, pohon, bangunan, dan infrastruktur yang rapuh saat terjadi hujan yang disertai petir dan/atau angin kencang. Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk mewaspadai potensi bencana hidrometeorologi lainnya, seperti banjir, banjir bandang, dan tanah longsor, demi keselamatan bersama.

Advertisements