
Kabar duka menyelimuti upaya konservasi satwa di Jawa Barat. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat telah mengonfirmasi kematian tragis dua anak harimau Benggala yang bernama Huru dan Hara. Keduanya, yang baru berusia delapan bulan, mengembuskan napas terakhir akibat serangan mematikan virus Panleukopenia. Huru dilaporkan meninggal pada Kamis (26/3), menyusul saudarinya, Hara, yang telah berpulang lebih dulu pada Selasa (24/3) di lingkungan Kebun Binatang Bandung (Bandung Zoo).
Juru Bicara BBKSDA Jawa Barat, Eri Mildranaya, mengungkapkan kesedihan yang mendalam atas kehilangan ini. “Secara umum keduanya terinfeksi Panleukopenia. Berbagai upaya sudah dilakukan secara maksimal, tetapi hasil akhirnya berkata lain,” ujar Eri di Bandung, Kamis (26/3). Ia menekankan bahwa penanganan medis telah dilaksanakan secara kolaboratif dan intensif. Tim yang terlibat terdiri dari berbagai instansi, mulai dari Rumah Sakit Hewan Cikole, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP), BBKSDA, hingga para medis ahli dari kebun binatang, menunjukkan keseriusan dalam penanganan kasus ini.
Eri menjelaskan lebih lanjut mengenai gejala yang muncul pada kedua anak harimau tersebut. Gejala yang teramati antara lain muntah, diare, dan bahkan adanya darah pada feses, yang menjadi indikasi kuat bahwa virus tersebut telah menyerang sistem pencernaan dan imunitas tubuh mereka secara parah. Virus Panleukopenia sendiri, menurut Eri, memiliki potensi penularan dari berbagai faktor, termasuk lingkungan sekitar satwa. Kondisi ini membuat kewaspadaan terhadap potensi penyebaran menjadi sangat penting.
Meskipun demikian, BBKSDA belum dapat memastikan apakah ada satwa lain yang turut terjangkit virus mematikan ini. “Saat gejala muncul, anakan langsung diisolasi ke kandang karantina dan ditangani secara intensif,” tutur Eri, menggambarkan respons cepat saat deteksi awal. Huru dan Hara sendiri merupakan bagian dari koleksi satwa Bandung Zoo, lahir pada tanggal 12 Juli 2025 dari pasangan induk Sahrulkan (jantan) dan Jelita (betina). Kepergian mereka meninggalkan duka mendalam bagi seluruh tim dan masyarakat yang mencintai mereka, sebab seperti yang diungkapkan Eri, “Kedua anak harimau ini bukan sekadar satwa tetapi sudah menjadi bagian dari keluarga besar masyarakat Bandung.”