
Kebakaran hebat melanda permukiman padat penduduk di kawasan Kampung Pasar Haji Jiung, Jalan Kemayoran Gempol, Kebon Kosong, Kemayoran, Jakarta Pusat, pada Senin malam (1/6). Si jago merah mulai berkobar sekitar pukul 20.55 WIB dan dengan cepat melahap bangunan di sekitarnya. Musibah ini berdampak cukup luas, dengan perkiraan sekitar 250 rumah rusak dan menyebabkan 330 Kepala Keluarga (KK) kehilangan tempat tinggal.
Dinas Gulkarmat DKI Jakarta merespons cepat dengan mengerahkan 35 unit mobil pemadam kebakaran serta 165 personel. Proses pemadaman berlangsung sengit hingga Selasa pagi (2/6), mengingat dugaan awal pemicu api adalah korsleting listrik. Selain memadamkan api, petugas juga melakukan proses pendinginan untuk memastikan tidak ada titik api yang tersisa.
Kepala Polres Metro Jakarta Pusat, Kombes Pol Reynold Hutagalung, menyatakan bahwa pihaknya telah menerjunkan sekitar 200 personel gabungan dari kepolisian, TNI, pemerintah daerah, dan Brimob. Pasukan ini difokuskan untuk membantu evakuasi warga, mengamankan harta benda yang masih bisa diselamatkan, serta memastikan kelancaran akses bagi kendaraan darurat. Selain itu, petugas melakukan pengaturan lalu lintas dan penutupan akses jalan menuju lokasi guna mempercepat mobilitas ambulans serta armada pemadam kebakaran.
Dampak kesehatan akibat musibah ini juga menjadi perhatian. Tercatat enam warga mengalami sesak napas akibat paparan asap tebal dan telah dievakuasi ke Rumah Sakit Hermina Kemayoran untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut. Palang Merah Indonesia (PMI) Jakarta Pusat pun turut terjun ke lapangan dengan menyiagakan tim kesehatan serta dua unit ambulans untuk pertolongan pertama.
Ketua PMI Jakarta Pusat, Asep Djuanda, menegaskan bahwa pihaknya telah menyiapkan tenda pengungsian bagi warga yang terdampak. Koordinasi erat terus dijalin dengan Dinas Sosial Provinsi DKI Jakarta terkait pemenuhan kebutuhan logistik. Secara teknis, PMI menangani distribusi bantuan pada malam hari, sementara Dinas Sosial mengambil tanggung jawab untuk kebutuhan siang hari. PMI juga menyatakan kesiapan dalam memberikan layanan pemulihan trauma atau trauma healing, terutama bagi anak-anak, setelah fase tanggap darurat tertangani dengan baik.
Di sisi lain, Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Kementerian Dalam Negeri, Safrizal ZA, memastikan bahwa fasilitas pengungsian telah dikelola dengan dukungan berbagai instansi, termasuk BPBD, PMI, dan Baznas. Tiga tenda besar telah didirikan oleh Dinas Sosial DKI Jakarta, sementara mobil logistik telah ditempatkan di lokasi kejadian.
Saat ini, pendataan detail sedang dilakukan secara intensif di dua RW, yakni RW 04 yang mencakup lima RT (RT 12, 13, 14, 15, dan 16) serta RW 05 yang meliputi tiga RT (RT 01, 02, dan 03). Safrizal menjelaskan bahwa data ini mencakup detail usia sekolah guna memastikan akses pendidikan bagi anak-anak korban kebakaran tetap terjamin.
Pemerintah berencana melakukan langkah lanjutan setelah situasi kedaruratan berakhir, mulai dari inventarisasi bangunan hingga diskusi terkait langkah jangka panjang. Pemerintah juga membuka opsi relokasi ke hunian yang lebih aman bagi warga, sebagai upaya mitigasi agar musibah serupa tidak terulang di masa depan.
Ringkasan
Kebakaran besar melanda permukiman padat di Kampung Pasar Haji Jiung, Kemayoran, pada Senin malam (1/6), yang mengakibatkan sekitar 250 rumah rusak dan 330 Kepala Keluarga kehilangan tempat tinggal. Diduga dipicu oleh korsleting listrik, proses pemadaman melibatkan 35 unit mobil pemadam kebakaran serta 165 personel. Selain kerugian material, enam warga dilaporkan mengalami sesak napas akibat paparan asap dan telah mendapatkan perawatan medis.
Pemerintah bersama instansi terkait seperti PMI dan Dinas Sosial telah mendirikan tenda pengungsian serta menyiapkan bantuan logistik bagi warga terdampak di wilayah RW 04 dan RW 05. Saat ini, otoritas setempat sedang melakukan pendataan intensif, termasuk memastikan keberlangsungan pendidikan bagi anak-anak korban. Langkah ke depan meliputi inventarisasi bangunan serta pembahasan mengenai opsi relokasi untuk mitigasi risiko di masa depan.