Sektor energi terbarukan (EBT) diproyeksikan menjadi pendorong utama realisasi investasi di Indonesia tahun ini. Menteri Investasi dan Hilirisasi, Rosan Roeslani, menegaskan bahwa minat investor terhadap sektor EBT kian melonjak, sejalan dengan komitmen pemerintah terhadap kebijakan transisi energi nasional.
“Salah satu sektor yang kami lihat potensinya sangat besar dan appetite-nya dari investor juga sangat tinggi adalah energi baru terbarukan atau renewable energy,” ujar Rosan dalam konferensi pers realisasi investasi 2025 yang digelar akhir pekan lalu, Kamis, 15 Januari. Pernyataan ini menggarisbawahi optimisme pemerintah terhadap prospek EBT.
Rosan, yang juga memimpin Danantara sebagai CEO, menjelaskan bahwa peluang di sektor EBT di Indonesia masih sangat terbuka lebar. Data menunjukkan bahwa Indonesia memiliki potensi EBT mencapai 3.700 gigawatt. Namun, kapasitas terpasang saat ini baru sekitar 15,1 gigawatt, atau kurang dari 1% dari total potensi tersebut. Angka ini mencerminkan celah besar untuk pengembangan lebih lanjut dan menunjukkan bahwa sektor ini memiliki nilai tambah signifikan bagi perekonomian nasional.
Sejalan dengan ambisi tersebut, Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025-2034 memproyeksikan bahwa porsi energi terbarukan dalam bauran energi nasional akan mencapai 76%. Indonesia diberkahi dengan beragam sumber EBT, mulai dari tenaga surya, hidro, hingga panas bumi atau geothermal yang melimpah di seluruh pelosok negeri.
Untuk tahun ini, pemerintah telah menetapkan target investasi mencapai Rp 2.175 triliun. Kontribusi investasi ini diharapkan dapat menyumbang 28-29% terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. “Inilah yang bisa kami dorong juga melalui kehadiran Danantara,” tambah Rosan, menekankan peran strategis lembaga tersebut.
Menilik Bisnis Emiten EBT: BREN, ADRO, hingga ARC
Di tengah gelombang transisi energi ini, sejumlah perusahaan terbuka di Bursa Efek Indonesia (BEI) tak mau ketinggalan. Mereka kini gencar melakukan diversifikasi bisnis ke sektor energi bersih. Salah satu pemain utama yang patut disorot adalah PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), perusahaan milik konglomerat Prajogo Pangestu, yang telah kokoh membangun portofolio EBT.
BREN saat ini aktif memperkuat portofolio bisnisnya di sektor panas bumi (geothermal) dan pembangkit listrik tenaga angin (wind farm). Dengan target ambisius mencapai total kapasitas pembangkit 2.300 MW pada tahun 2032, perseroan memiliki serangkaian proyek strategis yang akan rampung bertahap hingga 2026. Saat ini, BREN telah mengoperasikan tiga aset panas bumi vital, yaitu Wayang Windu, Salak, dan Darajat, dengan total kapasitas 710 MW, memposisikannya sebagai pemimpin nasional di industri panas bumi. Pada penutupan perdagangan pekan lalu, saham BREN berada di level Rp 9.700 dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp 1.297 triliun.
Menyusul BREN, ada pula emiten pelat merah PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) yang menonjol di sektor energi panas bumi. Posisi PGEO semakin kuat berkat kerja sama strategisnya dengan Danantara dalam proyek-proyek yang tergolong investasi prioritas nasional, membuka peluang ekspansi signifikan dalam jangka menengah.
Dalam laporan keterbukaan informasi terbarunya, manajemen PGEO menunjukkan komitmen kuatnya untuk memperluas pemanfaatan energi bersih. Mereka berencana mengembangkan green data center yang sepenuhnya berbasis energi panas bumi. Langkah inovatif ini didukung oleh kolaborasi strategis dengan Indonesia Data Center Provider Organization (IDPRO) dan Fakultas Teknik Universitas Indonesia, menegaskan visi PGEO dalam mendukung ekonomi digital berkelanjutan.
Tidak hanya perusahaan yang fokus pada EBT, emiten sektor emas, PT Archi Indonesia Tbk (ARCHI), juga telah mengambil langkah berani dengan melakukan diversifikasi bisnis ke sektor EBT. Melalui pembentukan perusahaan patungan PT Toka Tindung Geothermal (TTG) bersama Ormat Geothermal Indonesia, ARCHI kini merambah proyek energi panas bumi.
Proyek panas bumi yang berlokasi di Bitung, Sulawesi Utara, menargetkan kapasitas 40 MW dan telah berhasil mengantongi izin resmi. Ini merupakan langkah strategis bagi ARCHI, karena membuka keran pendapatan baru yang signifikan di luar bisnis utama mereka di sektor emas dan perak, sekaligus mendukung pengembangan energi terbarukan.
Dari Grup Sinarmas, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) menunjukkan komitmen komprehensif dalam pengembangan portofolio EBT, dari hulu hingga hilir. Tak hanya fokus pada panas bumi dengan potensi awal 440 MW, DSSA juga berinvestasi dalam pembangunan pabrik sel dan panel surya berkapasitas 1 GW per tahun di Kawasan Industri Kendal, menegaskan posisinya sebagai pemain multi-sektor dalam energi bersih.
Terakhir, dari grup Adaro, PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) kini memusatkan perhatian pada bisnis mineral dan energi terbarukan. Hal ini menyusul pemisahan bisnis batu baranya ke PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI). Pengembangan EBT oleh ADRO dijalankan melalui anak usaha, PT Alamtri Renewables Indonesia, yang tengah menggarap proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Kalimantan Tengah serta Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di kawasan industri Kalimantan Utara, menandai era baru bagi grup ini dalam mendukung transisi energi.