
JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah tajam pada perdagangan Jumat (8/5/2026). Indeks utama Bursa Efek Indonesia (BEI) ini terperosok 2,86% atau 204,92 poin ke level 6.969,39. Sepanjang sesi, IHSG bergerak di rentang 6.969 hingga 7.186, dipicu oleh kombinasi sentimen negatif dari kebijakan dalam negeri serta dinamika geopolitik global.
Pelemahan indeks hari ini tergolong luas, dengan 575 saham terkoreksi, sementara hanya 133 saham yang mampu menguat dan 108 saham lainnya stagnan. Kapitalisasi pasar bursa pun tercatat berada di posisi Rp12.431 triliun.
Dampak Kebijakan Royalti Sektor Logam
Managing Director Research and Digital Production Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, mengungkapkan bahwa tekanan pasar meningkat setelah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menggelar uji publik mengenai skema baru tarif royalti progresif. Sentimen ini memberikan pukulan langsung pada sektor-sektor berbasis komoditas.
Akibat kebijakan tersebut, indeks sektor material dasar (basic materials) anjlok 7,80%, disusul sektor energi yang turun 4,59% dan sektor industri terkoreksi 4,55%. Saham-saham emiten logam seperti nikel, timah, tembaga, emas, dan perak menjadi sasaran aksi jual karena dikhawatirkan akan menekan profitabilitas perusahaan dalam jangka menengah.
Sebagai contoh, Harry menyoroti PT Timah Tbk. (TINS) yang sahamnya terkoreksi 14,88%. Menurut estimasinya, laba bersih TINS pada 2026 berpotensi menyusut hingga 20% jika tarif royalti baru resmi diterapkan.
Faktor Eksternal dan Geopolitik
Selain isu royalti, pasar juga merespons sentimen negatif dari penurunan cadangan devisa Indonesia sebesar US$2 miliar serta antisipasi investor terhadap penyesuaian indeks MSCI. Diperkirakan, penyesuaian tersebut dapat memicu arus keluar dana asing (capital outflow) hingga hampir Rp30 triliun.
Tekanan pasar tidak hanya bersumber dari domestik. Tim Riset Pilarmas Investindo Sekuritas mencatat bahwa pelemahan IHSG selaras dengan tren negatif di bursa Asia akibat memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran di Selat Hormuz. Eskalasi geopolitik di jalur strategis tersebut memicu kekhawatiran global setelah adanya laporan mengenai pencegatan kapal perusak AS terhadap serangan Iran.
Di sisi lain, pasar juga masih memantau ketidakpastian hubungan AS-China. Meskipun Presiden Donald Trump dijadwalkan bertemu dengan Presiden Xi Jinping pekan depan, otoritas China dikabarkan masih menunda pembicaraan sebelum situasi konflik di Timur Tengah mereda.
Saham Big Caps Tertekan
Koreksi tajam pada sejumlah saham berkapitalisasi besar (big caps) turut memperparah laju pelemahan IHSG. PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) memimpin penurunan dengan koreksi sebesar 14,94% ke level Rp1.310 per saham.
Tren pelemahan tersebut juga diikuti oleh saham emiten energi dan mineral lainnya. Saham PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) merosot 11,83% ke posisi Rp4.100, sementara PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) melemah 9,27% menjadi Rp4.210 per saham.
Ringkasan
IHSG ditutup melemah tajam sebesar 2,86% ke level 6.969,39 pada perdagangan Jumat (8/5/2026) akibat sentimen negatif kebijakan domestik dan ketegangan geopolitik. Pemicu utama pelemahan adalah rencana skema baru tarif royalti progresif sektor logam oleh Kementerian ESDM, yang menyebabkan sektor material dasar anjlok hingga 7,80% dan memicu aksi jual pada saham-saham komoditas seperti nikel, timah, dan tembaga.
Selain isu royalti, pasar merespons penurunan cadangan devisa Indonesia dan potensi arus keluar dana asing terkait penyesuaian indeks MSCI. Tekanan diperburuk oleh sentimen negatif dari bursa Asia akibat eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran di Selat Hormuz. Kondisi ini menekan kinerja berbagai saham berkapitalisasi besar, termasuk DSSA, BREN, dan AMMN, yang mengalami koreksi signifikan sepanjang sesi perdagangan.