IHSG diprediksi turun, analis rekomendasikan saham MBMA, BMRI, BRIS hingga HRUM

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menunjukkan performa yang kurang menggembirakan, melanjutkan tren negatifnya pada perdagangan hari Kamis (22/1). Penurunan ini tak terhindarkan setelah pada sesi sebelumnya, Rabu (21/1), IHSG ditutup terkoreksi cukup dalam sebesar 1,36%, mendarat di level 9.010.

Advertisements

Melihat kondisi ini, Herditya Wicaksana, Analis dari MNC Sekuritas, mengeluarkan peringatan dini akan potensi koreksi lanjutan. Ia memprediksi IHSG berpotensi menguji rentang area 9.026–9.054, yang diidentifikasi sebagai bagian dari wave (iv) dari wave 5. Herditya menekankan bahwa pergerakan IHSG saat ini masih sangat didominasi oleh tekanan jual yang kuat, bahkan hingga membuat indeks ditutup terkoreksi.

Dalam analisis teknikal, MNC Sekuritas telah menetapkan level-level penting bagi pergerakan IHSG. Area support terdekat berada di 8.956 dan 8.905, sementara level resistance terdekat diperkirakan di 9.120 dan 9.192. Untuk diketahui, support adalah area harga saham yang diyakini sebagai titik terendah pada suatu waktu, di mana harga umumnya akan kembali naik karena meningkatnya daya beli. Sebaliknya, resistance adalah tingkat harga saham yang dinilai sebagai titik tertinggi, yang setelah disentuh biasanya memicu aksi jual signifikan dan menahan laju kenaikan harga.

MNC Sekuritas juga memberikan sejumlah rekomendasi saham bagi para investor. Untuk PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), mereka merekomendasikan strategi buy on weakness, dengan akumulasi beli di rentang Rp 745–Rp 775, target harga di Rp 825–Rp 880, dan level stoploss di bawah Rp 735. Strategi serupa, buy on weakness, juga disarankan untuk PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) di level Rp 3.480–Rp 3.530 dengan target harga Rp 3.640–3.870. Sementara itu, untuk PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), rekomendasi yang diberikan adalah sell on strength di level Rp 5.000–5.050.

Advertisements

Beralih ke pandangan lain, Phintraco Sekuritas turut menganalisis koreksi IHSG yang mencapai level 9.010,33 (-1,36%) pada perdagangan Rabu (21/1). Menurut Phintraco, penurunan ini utamanya dipicu oleh aksi ambil untung yang masif setelah indeks mencetak rekor tertinggi pada sesi sebelumnya. Sentimen negatif ini diperparah oleh memburuknya kondisi domestik, menyusul keputusan Presiden Prabowo yang mencabut izin 28 perusahaan di sektor kehutanan, perkebunan, energi, dan pertambangan akibat pelanggaran lingkungan. Kebijakan ini jelas menambah tekanan jual di pasar modal.

Tekanan jual tersebut berlangsung secara lintas sektor, dengan sektor industri (-6,33%), properti (-3,44%), dan transportasi (-3,04%) menjadi penekan utama pergerakan indeks. Secara teknikal, IHSG juga ditutup di bawah MA5, disertai dengan penyempitan area positif pada indikator MACD, serta stochastic RSI yang bergerak turun dari area jenuh beli. Kondisi ini, menurut Phintraco, membuka peluang koreksi lanjutan dengan potensi pengujian area support di kisaran 8.950–9.000.

Menghadapi situasi pasar yang menantang ini, Phintraco Sekuritas merekomendasikan sejumlah saham yang patut dicermati investor. Saham-saham tersebut meliputi PT Vale Indonesia Tbk (INCO), PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL), PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS), dan PT Harum Energy Tbk (HRUM).

Advertisements