IHSG rontok hampir 7% imbas MSCI umumkan aturan baru soal free float saham

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami guncangan signifikan pada pembukaan perdagangan hari ini, Rabu (28/1), dengan penurunan tajam hampir 7%. Kejatuhan drastis ini dipicu oleh pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengenai hasil penilaian terhadap perubahan metodologi perhitungan porsi saham publik atau free float di pasar saham Indonesia.

Advertisements

Data dari Bursa Efek Indonesia (BEI) pada pukul 09.01 WIB menunjukkan bahwa IHSG ambruk sebesar 6,42%, kehilangan 576,52 poin dan berakhir di level 8.403. Aktivitas pasar juga mencatatkan volume transaksi perdagangan yang masif, mencapai 8.000 miliar saham dengan frekuensi sebanyak 436,25 ribu kali, serta nilai kapitalisasi pasar yang mencapai Rp 15.211 triliun.

Keputusan MSCI ini bukan tanpa alasan. Inti dari pengumuman tersebut adalah pembekuan sementara terhadap sejumlah perubahan indeks yang melibatkan saham-saham Indonesia. Langkah ini diambil sebagai respons atas kekhawatiran serius dari investor global terkait kurangnya transparansi data kepemilikan saham serta aspek kelayakan investasi atau investability di pasar modal Indonesia.

Melalui proses konsultasi intensif mengenai penilaian free float saham Indonesia, MSCI mengungkapkan bahwa mayoritas investor global menyuarakan keprihatinan mereka terhadap penggunaan Laporan Komposisi Kepemilikan Bulanan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sebagai acuan untuk menentukan porsi saham beredar bebas di Indonesia. Meskipun demikian, sebagian kecil investor menyatakan dukungannya terhadap metode tersebut.

Advertisements

Para investor secara khusus menyoroti bahwa masalah fundamental terkait kelayakan investasi di Indonesia masih terus berlanjut. Ini terutama disebabkan oleh minimnya transparansi dalam struktur kepemilikan saham serta adanya kekhawatiran mengenai potensi perilaku perdagangan terkoordinasi yang dapat mengganggu pembentukan harga yang akurat dan wajar. Meskipun demikian, mereka mengakui adanya sedikit perbaikan pada data saham beredar yang disediakan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI).

Dalam pengumuman resminya yang dikutip pada Rabu (28/1), MSCI menegaskan, “Untuk mengatasi beberapa kekhawatiran ini, diperlukan informasi yang lebih rinci dan andal tentang struktur kepemilikan saham, termasuk kemungkinan pemantauan konsentrasi kepemilikan saham yang tinggi, untuk mendukung penilaian yang kuat terhadap saham beredar bebas dan kelayakan investasi di seluruh sekuritas Indonesia.” Ini menggarisbawahi urgensi peningkatan data untuk menjaga integritas pasar.

Poin-Poin Kebijakan MSCI
Menyikapi berlanjutnya kekhawatiran investor global mengenai perubahan metodologi perhitungan free float di Indonesia, MSCI dengan tegas mengumumkan penerapan pembekuan sementara terhadap sejumlah perubahan indeks yang berkaitan dengan sekuritas Indonesia. Pembekuan ini mencakup hasil tinjauan indeks berkala, bahkan hingga periode tinjauan indeks Februari 2026, dan akan diberlakukan secara efektif segera.

Adapun ketentuan detail dari pembekuan sementara ini meliputi:

  • MSCI membekukan secara menyeluruh segala bentuk peningkatan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS) bagi saham-saham Indonesia.
  • MSCI tidak akan melakukan penambahan saham Indonesia ke dalam indeks MSCI Investable Market Indexes (IMI).
  • MSCI juga tidak akan menerapkan migrasi naik antar segmen indeks ukuran, seperti perpindahan dari indeks Small Cap ke Standard Index.

Menurut MSCI, langkah-langkah preventif ini diambil dengan tujuan utama untuk menekan risiko perputaran indeks yang tidak stabil dan mengurangi potensi risiko investasi bagi para pelaku pasar. Selain itu, kebijakan ini juga diharapkan dapat memberikan waktu yang cukup bagi otoritas pasar terkait di Indonesia untuk melakukan perbaikan dan meningkatkan transparansi secara substansial, demi pasar modal yang lebih sehat dan terpercaya.

Advertisements