IHSG sesi I rontok 5,9%, saham konglomerat Prajogo hingga Bakrie parkir ARB

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG kembali bangkit pada penutupan perdagangan sesi I, Kamis (28/1) dengan turun 5,9%. ke 7.828. Meski ditutup merah namun pergerakannya sudah naik dari level terendah pada 7.481. 

Advertisements

Merosotnya IHSG imbas pengumuman MSCI yang menangguhkan rebalancing indeks saham Indonesia karena kekhawatiran kepemilikan terkonsentrasi. Bobot Indonesia di Morgan Stanley Capital International (MSCI) Emerging Markets berpotensi turun. 

Tekanan kembali datang setelah lembaga investasi yang berkantor pusat di Amerika Serikat Goldman Sach menurunkan peringkat saham Indonesia. Tekanan jual yang deras membuat kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia susut signifikan menjadi di bawah Rp 15 ribu triliun.

Sebelumnya IHSG sempat rontok 8% ke level 7.654 pada pukul 9.26. WIB. Adapun volume yang diperdagangkan tercatat 13 miliar dengan nilai transaksi Rp 10,86 triliun dan kapitalisasi pasar menjadi Rp 13.861 triliun.

Advertisements

Baca juga:

  • Trading Halt Dua Hari, Purbaya Tetap Yakin IHSG Tembus 10.000 di Akhir 2026
  • Saham BBCA Melorot hampir 9% saat IHSG Tertekan, Harga Kembali ke Level Covid
  • Sinyal Bahaya dari MSCI dan Momentum Pasar Modal RI untuk Berbenah

Ini merupakan trading halt kedua yang dilakukan bursa pada 2026. Penghentian pertama dilakukan bursa pada perdagangan kemarin, Rabu (28/1) pukul 13.43 WIB. Trading halt adalah pembekuan sementara perdagangan bursa dengan kondisi seluruh pesanan yang belum teralokasi (open order) akan tetap berada dalam sistem perdagangan efek otomatis JATS dan dapat ditarik oleh Anggota Bursa.

Hingga penutupan bursa sesi I, dari sebelas sektor yang ada di BEI, seluruhnya terpantau di zona merah. Sektor yang mencatat penurunan terbesar yakni sektor energi yang melorot di atas 9%. Selanjutnya ada sektor infrastruktur yang turun 8,73% diikuti sektor teknologi dengan penurunan 8,6%. 

Tekanan asing paling terasa di saham-saham unggulan perbankan dan emiten berkapitalisasi jumbo. Saham BBCA, BMRI, dan BBRI tercatat sebagai saham dengan nilai transaksi terbesar, sekaligus masuk daftar kontributor utama pelemahan indeks. 

Secara year to date (YTD), asing masih mencatatkan net sell Rp3,71 triliun, menandakan kehati-hatian global investor terhadap pasar saham domestik belum sepenuhnya mereda. Tekanan eksternal dan sentimen global membuat pergerakan asing menjadi faktor kunci yang terus membayangi arah IHSG dalam jangka pendek.

Seiring dengan penurunan IHSG, saham konglomerat seperti Prajogo Pangestu dan Grup Bakrie tercatat masih parkir di zona bawah. Antrian investor menjual saham membuat harga saham mentok di Auto Rejection Bawah (ARB). Beberapa saham Prajogo yang masih parkir di area ARB saat penutupan sesi I adalah PT Petrosea Tbk (PTRO) di harga Rp 6.225. 

Saham dekapan Hapsoro Sukmonohadi atau dikenal Happy Hapsoro juga masih ada yang parkir ARB. Salah satunya adalah saham PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) di Rp 1.230. Sedangkan saham Grup Bakrie PT Bumi Resources Tbk (BUMI) hingga PT Darma Henwa Tbk (DEWA) juga parkir di zona bawah.

Advertisements