
Di tengah tekanan ekonomi yang membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 17,88% secara year to date (ytd) dan aksi jual bersih (net sell) investor asing mencapai Rp 42,74 triliun, investor kawakan Lo Kheng Hong justru melihat peluang besar. Baginya, kondisi pasar yang sedang bergejolak bukan saatnya untuk panik, melainkan momen krusial untuk berinvestasi.
Saat ditemui di Jakarta, Rabu (29/4), Lo Kheng Hong menegaskan bahwa keputusan investor untuk melakukan cut loss ketika harga saham anjlok adalah sebuah kekeliruan fatal. Menurutnya, penurunan harga saham justru merupakan peluang emas bagi mereka yang jeli melihat nilai fundamental perusahaan.
“Beli! Ketika saham lagi turun mesti beli. Saham yang turun itu peluang emas,” ujar investor yang dikenal dengan gaya investasi nilai (value investing) tersebut. Ia secara khusus merekomendasikan beberapa sektor yang dinilai menarik untuk dikoleksi, di antaranya sektor perbankan, komoditas, batu bara, hingga kelapa sawit.
Saran Lo Kheng Hong tampak kontras dengan tren pasar saat ini. Berdasarkan data RTI Business dalam sepekan terakhir, sektor perbankan justru menjadi sasaran utama aksi jual asing. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatatkan jual bersih terbesar mencapai Rp 3,4 triliun, disusul PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebesar Rp 2,1 triliun, dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) senilai Rp 1,8 triliun. Bahkan, saham PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) juga dilepas asing dengan nilai mencapai Rp 68,4 triliun.
Selain perbankan, tekanan jual investor asing juga terlihat pada saham-saham besar lainnya seperti PT Astra International Tbk (ASII) senilai Rp 221,4 miliar, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) sebesar Rp 212,9 miliar, dan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) sebesar Rp 184 miliar.
Meski dihantam arus keluar modal asing, IHSG pada perdagangan hari ini berhasil ditutup menguat 28,83 poin atau naik 0,41% ke level 7.101. Penguatan ini ditopang oleh sektor industrial yang melonjak 2,41%, sementara sektor material dasar menjadi penekan utama setelah terkoreksi 1,08%.
Di sisi lain, analis dari Pilarmas Investindo Sekuritas menilai bahwa pergerakan bursa Asia saat ini dipengaruhi oleh sentimen global yang beragam. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Cina yang kembali memanas menjelang pertemuan antara Donald Trump dan Xi Jinping menjadi sorotan utama. Selain itu, langkah AS dalam memperketat pengawasan terhadap hubungan Cina-Iran, termasuk pemberian sanksi terhadap kilang minyak, turut membayangi stabilitas pasar.
Untuk pasar domestik, penguatan IHSG dinilai didorong oleh aksi beli saat harga murah (buy on weakness) yang membantu memulihkan sentimen investor. Kendati demikian, Pilarmas Investindo Sekuritas mengingatkan bahwa potensi kenaikan pasar ke depan masih bersifat terbatas. Hal ini dipicu oleh peringatan dari Badan Urusan Logistik (BULOG) mengenai keterbatasan pasokan minyak goreng bersubsidi akibat minimnya suplai baru dari produsen, yang menjadi catatan bagi pelaku pasar di tengah ketidakpastian ekonomi saat ini.
Ringkasan
Investor kawakan Lo Kheng Hong menilai pelemahan IHSG saat ini merupakan peluang emas untuk berinvestasi, bukan momen untuk melakukan cut loss. Ia menyarankan investor untuk tetap tenang dan fokus mengoleksi saham-saham dengan fundamental kuat, terutama pada sektor perbankan, komoditas, batu bara, dan kelapa sawit.
Saran tersebut muncul di tengah masifnya aksi jual bersih investor asing pada berbagai saham berkapitalisasi besar. Meskipun pasar sedang dibayangi ketidakpastian ekonomi global dan sentimen domestik, pergerakan IHSG mulai menunjukkan penguatan yang didorong oleh aksi beli pada harga murah atau buy on weakness.