Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Lukman F. Laisa, menyoroti tingginya antusiasme maskapai internasional untuk melayani penumpang umrah dari Indonesia. Minat besar ini terutama terfokus pada rute menuju Jeddah dan Madinah, dua kota suci utama bagi jemaah.
“Begitu banyak penumpang umrah dan begitu banyak maskapai penerbangan yang ingin mengangkut umrah,” ungkap Lukman saat peluncuran Indonesia Aviation Association di Hotel Mulia, Jakarta, pada Rabu (28/1). Pernyataan ini menegaskan potensi pasar umrah Indonesia yang sangat besar di mata industri penerbangan global.
Saat ini, sebagian besar jemaah umrah Indonesia, mencapai sekitar 80%, diangkut oleh maskapai asal Arab Saudi. Selain itu, maskapai lain seperti Emirates juga berhasil merebut porsi signifikan, khususnya dengan memanfaatkan penerbangan tidak langsung melalui hub regional, termasuk Bali.
Data dari Kementerian Agama menunjukkan bahwa jumlah aktual penumpang umrah jauh lebih besar dibandingkan klaim maskapai. Maskapai penerbangan melaporkan mengangkut sekitar 55% penumpang umrah, namun data pemerintah mencatat angka tersebut mencapai 75% khusus untuk tujuan Arab Saudi. Lukman menegaskan, “Ini Saudi saja, 75%. Umrah ke Saudi.”
Baca juga:
- Kronologis Pemberhentian Sementara Bupati Mirwan Imbas Umrah saat Bencana Aceh
- Indonesia Kedatangan Maskapai Baru Mukhtara Air, Mulai Terbang Januari 2026
- 38 Pesawat Maskapai RI Terkena Recall Airbus, Jadwal Penerbangan akan Terganggu
Meskipun demikian, pemerintah tetap memberlakukan sikap tegas terhadap maskapai yang berkeinginan untuk memperluas operasionalnya di Indonesia. Sebagai contoh, permohonan izin terbang Emirates ke Jakarta menggunakan pesawat Airbus A380 belum disetujui. Penolakan ini disebabkan oleh persyaratan pemanfaatan sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang belum terpenuhi.
Lukman menguraikan tiga syarat utama yang diajukan kepada maskapai. “Saya minta tiga hal: bagaimana MRO-nya (Maintenance, Repair, and Overhaul) di Indonesia, bagaimana menggunakan kru orang Indonesia, dan bagaimana kotanya nambah. Kalau tiga ini tidak dipenuhi, saya tidak keluarkan izin,” tegasnya.
Berbeda dengan Emirates, maskapai lain dinilai lebih kooperatif dalam mempekerjakan pilot dan SDM asal Indonesia. Qatar, misalnya, memiliki sekitar 90 pilot Indonesia, sementara Etihad sekitar 40 pilot. Sebaliknya, Emirates tercatat hanya memiliki enam pilot Indonesia dan menawarkan satu kru dalam operasional penerbangan yang diajukan.
“Airbus A380 itu besar. Kalau cuma satu kru Indonesia, ini bisa jadi masalah, apalagi penumpang umrah kita jumlahnya besar dan sebagian lansia,” jelas Lukman. Ia mencontohkan berbagai kendala komunikasi yang sering terjadi antara kru asing dengan penumpang umrah lanjut usia, mulai dari perbedaan bahasa hingga kualitas pelayanan di dalam kabin pesawat.