PT Pertamina Patra Niaga (PPN) membuat terobosan signifikan di pasar bahan bakar industri dengan memperkenalkan Biosolar Performance, varian biosolar non-subsidi yang dirancang khusus untuk memangkas biaya operasional secara drastis, diklaim hingga 70%. Inovasi ini menandai langkah maju dalam penyediaan solusi energi yang lebih efisien dan ekonomis bagi sektor-sektor strategis di Indonesia.
Keunggulan utama Biosolar Performance terletak pada kemampuannya meningkatkan efisiensi mesin secara nyata. Data internal PPN menunjukkan bahwa produk ini berhasil mengurangi kehilangan tenaga kuda dari 9,22% (pada BBM campuran solar dengan 40% minyak sawit atau B40) menjadi hanya 3,44%. Selain itu, permasalahan umum seperti kecenderungan penyumbatan filter juga dapat ditekan signifikan, dari 5,09 poin menjadi 1,43 poin, menjanjikan kinerja mesin yang lebih optimal dan perawatan yang lebih ringan.
Mengingat statusnya sebagai produk non-subsidi, Pertamina Patra Niaga memasarkan Biosolar Performance melalui skema bisnis ke bisnis (B2B). VP Industrial, Marine, & Fuel Business PPN, Oos Kosasih, menjelaskan bahwa produk ini secara spesifik ditujukan bagi sektor industri vital seperti pertambangan, minyak dan gas (migas), serta manufaktur. Sektor-sektor ini selama ini sangat merasakan dampak kenaikan biaya operasi akibat penggunaan biosolar konvensional, terutama karena kandungan air yang tinggi dapat mempercepat kerusakan mesin dan memerlukan penggantian filter BBM yang lebih sering.
Untuk memastikan keandalan dan efektivitasnya, Biosolar Performance telah melalui serangkaian uji coba di berbagai lokasi operasional yang menantang, termasuk kegiatan pengeboran migas di Riau, pengeboran migas lepas pantai di Laut Natuna, serta aktivitas pertambangan di Tanjung Enim. Bagi perusahaan yang berminat memanfaatkan inovasi bahan bakar ini, PPN menegaskan bahwa mereka perlu langsung menghubungi pihak Pertamina Patra Niaga untuk mendapatkan informasi lebih lanjut dan melakukan kuotasi harga sesuai volume kebutuhan mereka. Ketersediaan produk akan disesuaikan dengan delapan area operasi PPN di seluruh Indonesia.
Sementara itu, pemerintah Indonesia telah menyatakan rencana untuk meningkatkan komposisi campuran minyak sawit dalam biosolar menjadi 50% (B50) pada tahun mendatang. Kebijakan ini tentu menimbulkan pertanyaan mengenai dampak terhadap ketersediaan dan jenis biosolar yang akan digunakan di masa depan, terutama bagi sektor industri.
Menjawab kekhawatiran tersebut, Corporate Secretary PPN, Roberth MV Dumatubun, memastikan bahwa Biosolar Performance akan tetap menjadi pilihan bagi pelaku industri, terlepas dari implementasi B50. Roberth mengindikasikan bahwa skema pencampuran B50 kemungkinan besar akan diterapkan khusus pada biosolar bersubsidi, serupa dengan skema B40 sebelumnya. Oleh karena itu, Biosolar Performance akan mempertahankan kandungan campuran minyak sawit sebesar 40%. “Jenis Biosolar Performance jelas, yakni non-subsidi. Karena itu, sektor manufaktur masih tetap bisa menggunakan BBM tersebut untuk alat berat dan mesin-mesin yang ada di industri,” tegas Roberth, memberikan kepastian bagi pengguna industri.
Di sisi lain, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memberikan klarifikasi mengenai program B50. Kementerian menegaskan bahwa mandatori program B50 belum tentu akan diwajibkan kepada semua produsen Bahan Bakar Minyak jenis solar. Keputusan akhir mengenai kewajiban program ini akan sangat bergantung pada hasil dari tiga studi komprehensif yang sedang dilakukan oleh pemerintah.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, memaparkan bahwa ketiga studi tersebut meliputi aspek tekno-ekonomi, harga indeks pasar, dan teknis implementasi di lapangan. Studi-studi ini melibatkan kolaborasi aktif antara produsen BBM, produsen minyak sawit, dan calon pengguna B50, memastikan semua perspektif terakomodasi. “Keputusan mandatori dalam program B50 akan menunggu hasil kajian tersebut. Kami mendiskusikan kajian tersebut dengan pemangku kepentingan agar bisa menentukan arah mandatori B50 seperti apa,” tutup Eniya dalam Indonesia Palm Oil Conference 2025, yang diselenggarakan pada Kamis (13/11).