Tak sepakat perang lawan Iran, Direktur Pusat Kontraterorisme AS Joe Kent mundur

Joe Kent, Direktur Pusat Kontraterorisme Nasional Amerika Serikat, membuat langkah mengejutkan dengan mengundurkan diri dari jabatannya. Keputusan krusial ini diambilnya sebagai bentuk penolakan terhadap potensi perang dengan Iran, sebuah sikap yang diungkapkan secara gamblang melalui surat pengunduran dirinya yang diunggah di platform X pada Selasa (17/3).

Advertisements

Dalam surat tersebut, penasihat terkemuka Donald Trump dan pemimpin nasional bidang ancaman teror ini secara tegas menyatakan ketidakmampuannya mendukung konflik yang akan datang. Ia berargumen bahwa Iran “tidak menimbulkan ancaman langsung bagi negara kita,” dan secara kontroversial menambahkan, “jelas bahwa kita memulai perang ini karena tekanan dari Israel dan lobi Amerika yang kuat.” Pernyataan ini, yang dikutip dari unggahan X-nya @joekent16jan19, sontak memicu perdebatan sengit.

Lebih lanjut, Kent menyoroti janji-janji masa lalu Trump untuk mengakhiri keterlibatan Amerika Serikat di kancah internasional. Ia memperingatkan bahwa konflik di Timur Tengah hanyalah jebakan berbahaya yang tidak hanya merenggut nyawa para patriot Amerika, tetapi juga menguras kekayaan dan kemakmuran bangsa.

Kent juga secara kritis membahas frasa “ancaman yang akan terjadi” (imminent threat), yang kerap dijadikan dalih oleh Trump untuk melancarkan serangan militer tanpa persetujuan Kongres AS, sebuah tindakan yang bertentangan dengan hukum AS dan hukum internasional terkait serangan terhadap negara berdaulat.

Advertisements

Tak lama setelah pengunduran diri Kent menjadi perhatian publik, Donald Trump merespons isu tersebut. Mengutip Aljazeera, Trump menyatakan, “Untungnya dia keluar, karena dia mengatakan bahwa Iran bukanlah ancaman. Iran adalah ancaman. Setiap negara menyadari betapa besar ancaman Iran.” Pernyataan ini jelas menunjukkan perbedaan pandangan yang tajam antara keduanya.

Sebelumnya, Kent adalah tokoh yang dinominasikan oleh Trump untuk menduduki posisi Direktur Pusat Kontraterorisme Nasional, setelah ia memberikan dukungan penuh pada kampanye Trump yang sempat gagal dalam perebutan kursi di Dewan Perwakilan Rakyat AS.

Latar belakang militer Kent sendiri sangat mengesankan; ia adalah mantan Ranger Angkatan Darat AS dan anggota Pasukan Khusus AS, dengan rekam jejak 11 penugasan tempur di berbagai wilayah di Timur Tengah.

Namun, ada satu fakta pribadi yang paling memilukan dan kontroversial: istrinya dilaporkan tewas akibat serangan bom bunuh diri ISIL (ISIS) di Suriah pada tahun 2019. Dalam surat pengunduran dirinya yang mengejutkan, Kent bahkan menyebut kematian istrinya dalam perang tersebut sebagai “rekayasa Israel,” sebuah tuduhan yang sangat serius dan belum terverifikasi.

Sikap tegasnya ini dilandasi oleh prinsip moral yang kuat, sebagaimana ia tuliskan: “Saya tidak dapat mendukung pengiriman generasi berikutnya untuk berperang dan mati dalam perang yang tidak memberikan manfaat apa pun bagi rakyat Amerika dan tidak membenarkan pengorbanan nyawa warga Amerika.”

Advertisements