Pesawat Smart Air mendarat darurat, Menhub minta publik tunggu KNKT

JakartaMenteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi menegaskan pentingnya publik untuk menanti hasil investigasi resmi dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) terkait insiden pendaratan darurat pesawat Smart Air yang baru-baru ini terjadi.

Advertisements

Menhub Dudy menggarisbawahi bahwa, meskipun insiden tersebut tergolong sebagai pendaratan darurat, KNKT memiliki otoritas penuh untuk melakukan penelitian dan investigasi mendalam guna mengungkap penyebab pasti di balik peristiwa tersebut. “Kita harus menunggu KNKT. Walaupun ini bersifat pendaratan darurat, KNKT tetap wajib meneliti atau menginvestigasi mengapa keputusan pendaratan darurat itu diambil,” jelas Menhub Dudy saat ditemui di kompleks Parlemen DPR RI, Jakarta Pusat, pada Selasa (27/1).

Setiap insiden penerbangan yang menyangkut aspek keselamatan wajib melalui proses investigasi ketat sesuai prosedur standar. Hasil investigasi ini, menurutnya, krusial sebagai dasar bagi pemerintah untuk menyampaikan informasi yang akurat dan terverifikasi kepada masyarakat. Menhub Dudy melanjutkan, “Untuk kasus yang melibatkan investigasi semacam ini, KNKT harus menyelesaikan penelitiannya terlebih dahulu. Sebagai otoritas, kami tidak diperbolehkan mengeluarkan pernyataan resmi sebelum hasil investigasi tersebut dirilis.”

Lebih lanjut, Dudy Purwagandhi mengingatkan pentingnya sikap hati-hati dalam menyikapi setiap informasi seputar insiden penerbangan. Hal ini bertujuan untuk mencegah timbulnya spekulasi atau opini publik yang belum didukung oleh fakta-fakta valid dari penyelidikan. “Sangat penting bagi kita untuk tidak menyebarkan opini atas sesuatu yang hasil investigasinya belum keluar, karena hal itu dapat memengaruhi persepsi publik,” tegasnya.

Advertisements

Dugaan Awal: Gangguan Mesin Pesawat Smart Air

Insiden pendaratan darurat yang dimaksud terjadi pada Senin (27/1/2026) sekitar pukul 13.01 WIT, melibatkan Pesawat Smart Air tipe C208B dengan registrasi PK-SNS. Pesawat tersebut, yang tengah melayani rute Nabire (NBX)–Kaimana (KNG), terpaksa melakukan pendaratan darurat di Bandar Udara Douw Aturure Nabire, Papua Tengah.

Laporan awal mengindikasikan bahwa pesawat Smart Air tersebut mengalami gangguan pada mesin (engine). Pilot in Command (PIC), Capt. Tania K., awalnya berencana untuk melakukan Return to Base (RTB) kembali ke Bandara Douw Aturure Nabire. Namun, dengan kondisi daya dorong (thrust power) yang terus menurun, Capt. Tania K. kemudian mengambil keputusan krusial untuk melakukan pendaratan darurat di area ujung pantai landasan pacu 17 bandara.

Beruntungnya, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara mengonfirmasi bahwa tidak ada korban jiwa dalam insiden ini. Seluruh penumpang dan awak pesawat yang berjumlah total 13 orang berhasil dievakuasi dengan selamat ke terminal bandara. Saat ini, upaya penarikan pesawat dari area pantai ke lokasi yang lebih aman masih terus berlangsung. Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Lukman F. Laisa, dalam keterangannya pada Selasa (27/1), menyatakan, “Direktorat Jenderal Perhubungan Udara terus berkoordinasi secara intensif melalui UPBU Douw Aturure Nabire bersama operator penerbangan, TNI, kepolisian, serta berbagai pihak terkait lainnya guna memastikan penanganan situasi berjalan aman dan terkendali.”

Advertisements