Purbaya hingga Danantara bahas IHSG trading halt di kantor Airlangga, bos OJK: Semua solid dukung reformasi

Babaumma – – Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar mengungkapkan isi bahasan pertemuan lintas otoritas yang digelar di Kantor Kementerian Koordinator bidang Perekonomian, Jakarta, pada Kamis (29/1) pagi.

Advertisements

Mahendra mengatakan, pertemuan tersebut melibatkan sejumlah pejabat tinggi negara, mulai dari Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Kepala Badan Pengelola BUMN Donny Oskaria, hingga Kepala Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Rosan Perkasa Roeslani.

“Memang tadi pagi kami bertemu dengan Pak Menko, Pak Menkeu, Pak Gubernur BI, Pak Mensesneg, Pak Kepala BP BUMN dan Kepala BPI Danantara,” ujar Mahendra dalam konferensi pers di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (29/1).

IHSG Kemarin Terperosok 8 Persen, BEI Siapkan Formulasi untuk Dibahas saat Bertemu MSCI

Advertisements

Dalam pertemuan itu, lanjut Mahendra, dibahas sejumlah isu strategis terkait stabilitas dan penguatan pasar keuangan. Salah satu topik yang ikut disorot adalah kebijakan dan penilaian lembaga global MSCI, terhadap pasar modal Indonesia.

Mahendra menyebut, dalam pertemuan itu dirinya turut membeberkan sejumlah langkah strategis yang akan dilakukan oleh OJK, Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Self Regulatory Organization (SRO) menyusul trading halt atau pembekuan perdagangan sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam dua hari terakhir.

“Tapi berkaitan dengan ini (kebijakan MSCI), semua mendukung penuh langkah-langkah reformasi, perbaikan dan penguatan yang kita lakukan, seperti yang barusan saya sampaikan tadi,” tegasnya.

3 Langkah OJK hingga BEI Hadapi Kebijakan MSCI yang Bikin Ambrol IHSG

Mahendra menekankan, seluruh pihak yang hadir sepakat dan solid mendukung agenda reformasi pasar keuangan nasional. Dukungan tersebut dinilai penting demi kepentingan nasional agar Bursa Efek Indonesia (BEI) memiliki daya saing dan setara dengan standar internasional.

“Jadi solid semua mendukung hal itu. Karena kepentingan nasional untuk melihat bahwa Bursa Efek Indonesia memang setara dengan kondisi dan perkembangan serta standar yang ada di mancanegara,” jelasnya.

Tak hanya itu, pemerintah dan otoritas juga sepakat mendorong penguatan serta pendalaman pasar keuangan domestik agar lebih resilien dan berkelanjutan ke depan.

Menurut Mahendra, kunci utama dari seluruh agenda tersebut adalah reformasi yang menyentuh aspek transparansi dan integritas pasar. Namun, ia menegaskan fokus utama OJK bukan semata merespons isu tertentu, melainkan memastikan reformasi berjalan secara menyeluruh.

“Jadi itu kunci dasarnya adalah reformasi yang memperbaiki transparansi dan integritas. Tapi kami fokusnya bukan itu, fokusnya adalah reformasi. Perbaikannya itu seluruhnya dan berjalan cepat, tepat, dan efektif,” pungkasnya.

Advertisements