
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai ambruknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang melemah 718 poin atau anjlok 8% ke level 8.261 poin pada awal berlangsungnya sesi kedua perdagangan hari ini merupakan peluang bagi para investor.
Purbaya menilai melemahnya IHSG dipicu sentimen rilis Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengenai perubahan metodologi perhitungan porsi saham publik atau free float. Situasi tersebut memicu Bursa Efek Indonesia memberlakukan penghentian sementara perdagangan saham atau trading halt.
“Kalau bursa saham jatuh gara-gara itu, dan kita tahu akan diperbaiki sebelum Mei, harusnya sekarang a good time to buy,” kata Purbaya di Istana Merdeka Jakarta pada Rabu (28/1)
Purbaya meyakini IHSG akan kembali menguat pasalnya pemerintah telah berupaya memperkuat pondasi ekonomi nasional.
“Tidak usah takut, akan rebound karena pondasi ekonomi kami perbaiki secara betul-betul serius,” katanya.
Menurutnya, pelemahan IHSG ini merupakan reaksi pasar yang berlebihan, pasalnya, kata dia, laporan MSCI tersebut baru bersifat awal dan masih menyisakan waktu eksekusi hingga Mei.
Dii sisi lain, Purbaya mengungkapkan telah berkomunikasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) guna memastikan seluruh catatan MSCI dapat diselesaikan sebelum batas waktu tersebut.
“Mereka (OJK) bilang ini akan dibereskan sebelum Mei. Jadi ini hanya shock sesaat,” katanya.
Adapun, IHSG anjlok hampir 7% pada pembukaan perdagangan hari ini, Rabu (28/1). Penurunan terjadi imbas pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) soal hasil penilaian perubahan metodologi perhitungan porsi saham publik atau free float di pasar modal Indonesia.
Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) IHSG ambruk 6,42% atau 576,52 poin ke level 8.403 pukul 9.01 WIB. Volume transaksi perdagangan mencapai 8.000 miliar saham.
Sementara itu frekuensi perdagangan sebanyak 436,25 ribu kali dan kapitalisasi pasar sebesar Rp 15.211 triliun Salah satu hasil pengumuman MSCI tersebut adalah memutuskan membekukan sementara sejumlah perubahan indeks yang melibatkan saham-saham Indonesia.
Hal ini dilakukan menyusul kekhawatiran investor global terhadap transparansi data kepemilikan saham serta aspek kelayakan investasi (investability) pasar. Dalam pengumuman tersebut, MSCI menyatakan telah menyelesaikan proses konsultasi terkait penilaian free float saham Indonesia.
Dia menyatakan, kebanyakan investor global menyampaikan kekhawatiran terhadap penggunaan Laporan Komposisi Kepemilikan Bulanan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) untuk melihat free float di saham Indonesia.
Meskipun beberapa investor menyatakan dukungan penggunaan KSEI tersebut. Investor menyoroti masalah fundamental terkait kelayakan investasi masih berlanjut karena kurangnya transparansi dalam struktur kepemilikan saham dan kekhawatiran tentang kemungkinan perilaku perdagangan terkoordinasi yang merusak pembentukan harga yang tepat.
Kendati demikian, investor mengakui bahwa terdapat beberapa peningkatan kecil pada data saham beredar Bursa Efek Indonesia (BEI).
“Untuk mengatasi beberapa kekhawatiran ini, diperlukan informasi yang lebih rinci dan andal tentang struktur kepemilikan saham, termasuk kemungkinan pemantauan konsentrasi kepemilikan saham yang tinggi, untuk mendukung penilaian yang kuat terhadap saham beredar bebas dan kelayakan investasi di seluruh sekuritas Indonesia,” tulis MSCI dalam pengumuman resminya, dikutip Rabu (28/1).