Babaumma – , JAKARTA — PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) siap menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 10 April 2026. Salah satu agenda utama yang paling dinanti adalah pembahasan potensi pembagian dividen untuk tahun buku 2025, yang mana manajemen telah memberikan sinyal optimis terkait rasio pembayaran yang lebih tinggi dari biasanya.
Sinyal positif mengenai potensi rasio dividen yang lebih besar ini disampaikan langsung oleh Direktur Utama BRI, Hery Gunardi. Ia menekankan bahwa keputusan tersebut akan didasarkan pada kondisi permodalan perseroan yang kokoh dan kebutuhan ekspansi di masa mendatang. Hery menjelaskan, posisi permodalan BRI per akhir tahun 2025 sangat impresif, dengan rasio kecukupan modal (CAR) mencapai 23,53%. Angka ini jauh melampaui batas yang ditetapkan oleh regulator, mengindikasikan kelonggaran bagi perseroan. “Mempertimbangkan kondisi tersebut, seyogyanya kami memiliki ruang untuk memberikan dividen dengan payout ratio yang lebih tinggi dibandingkan dengan level histori yang selama ini ada,” tegas Hery, membuka prospek cerah bagi para pemegang saham.
Kinerja finansial BRI sepanjang tahun 2025 menjadi fondasi kuat di balik potensi dividen tinggi ini. Perseroan berhasil membukukan laba bersih konsolidasian yang solid sebesar Rp57,13 triliun. Capaian ini didukung oleh pertumbuhan pendapatan bunga yang mencapai Rp207,78 triliun, meningkat signifikan 4,27% secara tahunan. Tak hanya itu, pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) juga menunjukkan performa gemilang dengan angka Rp150,50 triliun, tumbuh 5,52% dibandingkan periode tahun sebelumnya.
Konsistensi pembagian dividen BBRI yang besar bukanlah hal baru. Dalam beberapa tahun terakhir, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. telah dikenal sebagai emiten yang sangat loyal kepada pemegang saham, secara reguler mengalokasikan porsi laba yang signifikan. Sebut saja pada tahun buku 2020, BRI menyepakati rasio dividen 65% dari laba bersih Rp18,65 triliun, menghasilkan total dividen Rp12,12 triliun. Angka ini melonjak tajam setahun kemudian, di mana rasio pembayaran dividen meningkat menjadi 85% dari laba bersih, dengan total dividen tunai Rp26,4 triliun atau setara minimal Rp174,23 per saham pada tahun 2021.
Tren dividen tinggi ini berlanjut pada tahun 2022, di mana BRI kembali membagikan dividen tunai sebesar Rp43,5 triliun, juga dengan rasio 85% dari laba bersih. Pada tahun buku 2023, perseroan menyalurkan Rp48,1 triliun dividen, atau sekitar 80% dari laba bersih, setara Rp319 per saham (termasuk dividen interim Rp84 per saham dan final Rp235 per saham). Puncaknya, untuk tahun buku 2024, BRI mencatat rekor pembagian dividen sebesar Rp51,74 triliun atau Rp343,40 per saham, yang merepresentasikan 85,32% dari laba bersih perseroan yang mencapai Rp60,64 triliun. Riwayat ini memperkuat ekspektasi positif untuk dividen tahun 2025.
Melihat rekam jejak yang solid ini, para analis pun turut memproyeksikan dividen BRI untuk tahun buku 2025 akan tetap berada di kisaran angka yang menarik. James Stanley Widjaja, analis dari Henan Putihrai Sekuritas, memperkirakan dividend per share (DPS) BBRI bisa mencapai sekitar Rp317,7 per saham. Perhitungan ini telah mempertimbangkan dividen interim sebesar Rp137 per saham atau senilai Rp20,33 triliun yang telah dicairkan kepada pemegang saham pada 15 Januari 2025 lalu. Dengan demikian, sisa dividen final BRI yang berpotensi diterima oleh investor diperkirakan sekitar Rp180,7 per saham.