Saham Garuda Indonesia (GIAA), analis soroti likuiditas di BEI setelah Danantara kucurkan Rp23 T

PT Garuda Indonesia Tbk. (GIAA) masih menghadapi tantangan signifikan terkait likuiditas saham dan proses restrukturisasi yang belum tuntas, meski telah menerima suntikan dana jumbo sebesar Rp23 triliun dari lembaga pengelola dana negara (SWF) Danantara. Kondisi ini membuat Mirae Asset Sekuritas tetap mempertahankan rekomendasi not rated untuk saham maskapai pelat merah tersebut.

Advertisements

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji, menyoroti bahwa meskipun suntikan dana segar tersebut berpotensi memperbaiki kinerja perseroan, persoalan likuiditas perdagangan saham GIAA yang rendah masih menjadi perhatian utama. “Saham GIAA untuk sementara not rated sebab tidak likuid,” ujarnya pada Kamis (26/2/2026). Menurutnya, penilaian lebih lanjut terhadap prospek teknikal baru akan dilakukan jika pergerakan saham kembali likuid dan mampu mencerminkan mekanisme pasar yang sehat.

Di sisi lain, Head of Online Trading BCA Sekuritas, Achmad Yaki, menjelaskan bahwa suntikan dana sebesar Rp23 triliun dari Danantara memiliki alokasi yang jelas. Dana tersebut akan diarahkan untuk beberapa kebutuhan krusial, meliputi modal kerja dan operasional Garuda Indonesia, perawatan (maintenance) armada, hingga dukungan pendanaan untuk anak usaha Citilink.

Lebih lanjut, dana jumbo ini juga dialokasikan untuk ekspansi armada dan pembayaran utang bahan bakar Citilink. Langkah strategis ini diharapkan mampu memperbaiki performa operasional yang sebelumnya tertekan hebat akibat pandemi global dan beban utang masa lalu yang signifikan. Namun, Yaki menekankan bahwa suntikan dana saja tidak akan cukup. Perbaikan kinerja harus dibarengi dengan peningkatan efisiensi yang berkelanjutan, baik dari sisi operasional maupun non-operasional, agar dampak positifnya terasa optimal.

Advertisements

Dengan adanya tambahan dana segar yang dibarengi program efisiensi yang ketat, Yaki menilai kerugian GIAA berpotensi menyusut drastis. Bahkan, dalam skenario paling optimistis, tidak menutup kemungkinan perseroan dapat kembali mencatatkan laba. Kendati demikian, sejumlah tantangan besar masih membayangi, salah satunya adalah rencana pembelian 50 unit pesawat Boeing yang berpotensi tertahan.

Rencana ambisius untuk ekspansi armada melalui pembelian 50 unit pesawat Boeing ini dinilai belum tentu berjalan mulus. Pasalnya, Garuda Indonesia masih berada dalam proses Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU). Status restrukturisasi Garuda ini secara otomatis membatasi ruang perseroan untuk memperoleh pinjaman atau fasilitas kredit baru dari lembaga keuangan. Umumnya, institusi finansial akan lebih berhati-hati dalam memberikan pembiayaan kepada emiten yang masih dalam fase restrukturisasi utang.

Di tengah dinamika pasar yang kompleks tersebut, BCA Sekuritas memberikan pandangan taktis terhadap saham GIAA dengan strategi buy on support, menetapkan target harga Rp102.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Advertisements