Sejauh apa kayu gelondongan banjir Sumatera bisa dimanfaatkan?

Di tengah upaya pemulihan pascabencana banjir dan longsor yang melanda Sumatra, para korban kini mulai mencari solusi praktis dengan memanfaatkan sebagian kayu gelondongan yang terbawa hanyut. Inisiatif ini mendapat tanggapan positif dari Pengamat Tata Ruang, Yayat Supriatna, yang menilai bahwa kayu-kayu tersebut masih memiliki potensi besar untuk digunakan kembali, asalkan melalui proses pemilahan yang cermat, meskipun telah terendam air dan lumpur.

Advertisements

Yayat menjelaskan bahwa tidak semua jenis kayu kehilangan kualitasnya setelah terendam air. “Ada beberapa jenis kayu yang kuat seperti kayu besi (pohon ulin), itu justru terendam air tidak masalah,” ujar Yayat kepada Katadata pada Senin (12/1). Ia menambahkan bahwa pohon-pohon tertentu, seperti ulin atau meranti, memiliki karakteristik yang memang cocok untuk kegiatan konstruksi. Namun, penting untuk diingat bahwa kayu-kayu industri yang umumnya digunakan untuk produksi kertas tidak direkomendasikan untuk pemanfaatan ini.

Untuk memastikan pemanfaatan yang optimal dan aman, Yayat menekankan urgensi pendataan yang komprehensif. Proses ini harus mencakup identifikasi jenis, usia, kualitas, tingkat kekeringan, dan ukuran kayu, serta disesuaikan dengan tingkat kebutuhan hunian sementara di lokasi bencana. Menurutnya, keterlibatan aktif dari Kementerian Kehutanan dalam membantu memproses, mengolah, dan mengumpulkan kayu sangat krusial, sebab mereka memiliki keahlian untuk menentukan mana yang terbaik dan aman digunakan.

Selain menjadi material utama pembangunan hunian sementara bagi para korban, kayu-kayu hanyutan ini juga dapat dialihfungsikan untuk berbagai fasilitas darurat lainnya. Potensi pemanfaatannya mencakup pembangunan dapur darurat atau pusat MCK (Mandi, Cuci, Kakus) yang sangat dibutuhkan. Namun, Yayat mengingatkan bahwa untuk konstruksi bangunan yang bersifat permanen, diperlukan material yang memiliki kualitas lebih tinggi, seperti kayu pilihan terbaik atau bahkan penggunaan baja sebagai struktur utamanya, demi menjamin keamanan dan ketahanan jangka panjang.

Advertisements

Baca juga:

  • Pemerintah Izinkan Warga Pakai Kayu Gelondongan untuk Pemulihan Bencana Sumatra
  • DPR Desak Pemerintah Segera Tetapkan Status Kayu Gelondongan Banjir Sumatra

Bangun 13 Unit Huntara

Implementasi pemanfaatan kayu hanyutan ini telah menunjukkan hasil konkret. Kementerian Kehutanan melaporkan bahwa sebanyak 13 unit hunian sementara (huntara) berhasil dibangun di Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, dengan menggunakan material kayu bekas hanyutan banjir. Dari jumlah tersebut, 10 unit masih dalam tahap pembangunan, sementara tiga unit lainnya telah selesai dan mulai dihuni oleh warga Desa Geudumbak, memberikan harapan baru bagi mereka yang terdampak.

Data terbaru per 11 Januari 2026 menunjukkan bahwa Tim Balai Pengelolaan Hutan Lestari bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup Aceh telah melakukan pengukuran terhadap 938 batang kayu hanyutan. Total volume kayu yang terukur mencapai 1.506,08 meter kubik. Kayu-kayu ini selanjutnya akan dialokasikan dan dimanfaatkan secara maksimal untuk berbagai keperluan mendesak para korban bencana di wilayah tersebut.

Tak hanya di Aceh, upaya pemanfaatan kayu hanyutan juga tengah berjalan di Sumatera Utara. Di Desa Garoga, Huta Godang, dan Aek Ngadol, proses penatausahaan dan pemanfaatan kayu telah memasuki tahap penting. Hingga 11 Januari 2026, total 1.376 keping kayu olahan dengan volume 19,5755 meter kubik berhasil dikumpulkan dari wilayah Garoga. Dari jumlah tersebut, 752 keping atau setara dengan 9,9373 meter kubik kayu telah diangkut menuju lokasi pembangunan hunian sementara di Desa Batu Hula, Kecamatan Batang Toru, menandai langkah signifikan dalam rehabilitasi pascabencana.

Menanggapi kegiatan ini, Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara, Novita Kusuma Wardani, menegaskan komitmen pihaknya. Novita menyatakan fokus utama adalah memastikan bahwa pemanfaatan kayu hanyutan oleh warga ini tidak akan menimbulkan permasalahan baru di kemudian hari. Hal ini mencerminkan perhatian serius pemerintah terhadap keberlanjutan dan dampak jangka panjang dari solusi tanggap darurat yang diterapkan.

Advertisements