
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) siap kembali membuka sesi perdagangannya pada Rabu, 25 Maret, setelah jeda panjang libur Nyepi dan Lebaran. Para pelaku pasar memprediksi pergerakan indeks pada awal perdagangan pasca-libur ini akan sangat dipengaruhi oleh dinamika sentimen global yang telah berkembang pesat selama bursa domestik tutup.
Mencermati jejak historis, performa IHSG setelah periode libur Lebaran tidak selalu menunjukkan tren yang positif. Bahkan, dalam dua tahun terakhir, IHSG tercatat ditutup melemah pada hari pertama perdagangan setelah perayaan Lebaran, sebuah indikasi perlunya kehati-hatian.
Sebagai contoh, pada perdagangan pasca-Lebaran tahun 2025, IHSG sempat mengalami koreksi signifikan sebesar 7,90%. Penurunan tajam ini dipicu oleh pengumuman tarif global oleh Amerika Serikat (AS) yang kala itu menimbulkan gejolak di pasar. Tidak hanya itu, pada perdagangan pasca-Lebaran tahun 2024, IHSG juga terkoreksi 1,68%, menunjukkan pola kelemahan pasca-libur yang berulang.
Puncak tekanan pasar bahkan terjadi pada tahun lalu, ketika penurunan drastis di awal sesi memaksa otoritas bursa untuk memberlakukan penghentian sementara perdagangan atau trading halt. Kejadian ini menjadi pengingat akan potensi volatilitas tinggi yang kerap menyertai pembukaan kembali pasar setelah libur panjang.
Baca juga:
- Penyebab Harga Emas Anjlok di Tengah Perang Iran – AS
Menyikapi proyeksi pergerakan IHSG pasca-Lebaran tahun ini, Analis pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, mengungkapkan bahwa pasar akan sangat dipengaruhi oleh kombinasi antara sentimen global dan faktor musiman domestik. Analisis komprehensif ini menjadi kunci bagi investor untuk merumuskan strategi yang tepat.
Menurut Hendra, jika melihat kondisi global selama periode libur panjang kemarin, pasar saham di Amerika Serikat dan Asia terpantau menunjukkan penguatan yang solid. Hal ini didorong oleh meredanya tensi geopolitik serta stabilnya harga energi, menciptakan iklim yang kondusif. Kondisi global yang membaik ini secara otomatis menjadi sentimen positif awal yang menjanjikan bagi pasar saham Indonesia.
“Dengan mengamati kondisi global yang positif tersebut, IHSG memiliki potensi untuk bergerak menguat pada awal pembukaan pasca-libur. Namun, penguatan ini diperkirakan akan bersifat terbatas dan masih berada dalam fase konsolidasi, dengan potensi untuk menguji level resistance di kisaran 7.150–7.200,” jelas Hendra Wardana kepada Katadata.co.id, Selasa (24/3).
Meskipun demikian, para pelaku pasar tetap diimbau untuk mewaspadai berbagai risiko eksternal yang bisa sewaktu-waktu mengubah arah pasar. Apabila tensi geopolitik kembali memanas, terjadi lonjakan harga energi yang signifikan, atau kebijakan suku bunga The Fed kembali diperketat melebihi ekspektasi pasar, IHSG berpotensi besar untuk kembali tertekan dan menguji area support psikologis krusial di level 7.000.