Strategi efisiensi sektor logistik tanpa korbankan keselamatan

Keselamatan tak hanya menjadi prioritas, melainkan fondasi krusial dalam pengelolaan transportasi logistik. Investasi dalam aspek ini, meskipun sering dianggap mahal, justru krusial untuk efisiensi jangka panjang sebuah perusahaan. Pernyataan ini disampaikan oleh Adrian Tri Laksana, Ketua Tim Substansi Angkutan Barang Umum Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Republik Indonesia, dalam sebuah diskusi panel.

Advertisements

“Fokus utama regulator adalah keselamatan. Kami mengatur aspek keselamatan, dan efisiensi adalah bonus yang menyertainya,” tegas Adrian pada acara diskusi bertajuk ‘Logistik Makin Efisien: Strategi Mengelola Armada di Tengah Tekanan Biaya’ yang diselenggarakan Katadata di JIExpo, Jakarta, Jumat (10/4/2026). Ia menambahkan bahwa investasi keselamatan memang tidak murah, namun justru dapat mencegah pembengkakan biaya yang jauh lebih besar akibat insiden atau kecelakaan yang tidak terduga.

Pemerintah, imbuhnya, secara aktif telah mengambil beragam langkah konkret untuk mendukung terwujudnya keselamatan sekaligus efisiensi dalam sektor transportasi darat. Inisiatif tersebut meliputi penggratisan biaya uji KIR bagi kendaraan angkutan barang, penetapan batas usia maksimal kendaraan 20 tahun, serta pendorongan adopsi teknologi pelacak lokasi GPS. Tak kalah penting, pemerintah juga secara tegas melarang operasional truk dengan muatan berlebih (ODOL – over dimension, overload) demi menjaga keamanan dan infrastruktur jalan.

“Harapan kami adalah agar para pengusaha dapat memanfaatkan berbagai kebijakan ini untuk memastikan armada mereka senantiasa dalam kondisi prima dan aman,” jelas Adrian. Dengan kondisi kendaraan yang baik dan terawat, ia meyakini bahwa operasional logistik akan menjadi lebih menguntungkan dan efisien bagi perusahaan.

Advertisements

Bergeser ke sudut pandang operator armada, Butar Tio, General Manager Sales PT Batavia Prosperindo Trans Ybk (Batavia Rent), menegaskan bahwa perusahaannya menempatkan “keselamatan nomor satu” sebagai inti visi dan misinya. Implementasi dari prinsip ini terlihat jelas dari komitmen Batavia Rent untuk selalu menggunakan suku cadang asli pada setiap kendaraan rental yang mereka operasikan.

“Namun, mengubah pola pikir para pengusaha menjadi sebuah tantangan tersendiri. Biasanya, pengusaha cenderung mencoba menghitung ulang dan memangkas biaya-biaya yang dianggap tidak perlu,” ungkap Butar Tio dalam forum yang sama. Padahal, menurutnya, efisiensi logistik sejati berakar pada manajemen, perawatan, dan pemantauan armada yang cermat, alih-alih mengorbankan keselamatan demi menekan biaya perbaikan dan perawatan.

Butar Tio menjelaskan, “Hal-hal seperti perawatan kendaraan secara rutin dapat mengurangi cost secara tidak langsung dalam jangka panjang.” Di Batavia Rent, perawatan armada dilakukan secara berkala dan teratur, sehingga para pengusaha yang menyewa kendaraan tidak perlu pusing memikirkan aspek perawatan. Mereka dapat fokus menggunakan kendaraan dalam kondisi prima dan siap pakai.

Lebih lanjut, Batavia Rent juga proaktif dalam melakukan pemantauan kendaraan secara berkala, bekerja sama dengan mitra produsen kendaraan. Langkah ini bertujuan untuk memastikan performa armada tetap optimal dan mampu mendukung operasional pelanggan secara maksimal. “Dengan monitoring rutin, kami dapat menyajikan laporan lengkap kepada pelanggan, memungkinkan mereka mengevaluasi pemakaian kendaraan dan mengidentifikasi peluang untuk peningkatan efisiensi,” tambahnya.

Layanan bagi Perusahaan

Membahas lebih dalam mengenai efisiensi bagi pelaku usaha, Butar Tio menyoroti bahwa skema rental kendaraan khusus bagi pelaku usaha (business to business/B2B) bisa menjadi jawaban strategis. Skema ini memungkinkan perusahaan untuk memiliki armada logistik yang memadai tanpa harus menanggung seluruh beban biaya kepemilikan. “Efisiensi dapat tercapai ketika perusahaan beralih dari kepemilikan menjadi skema rental,” jelas Butar Tio.

Dengan lebih dari 7.400 unit kendaraan dalam armadanya, Batavia Rent memiliki daya tawar yang jauh lebih besar dalam mendapatkan layanan after-sales dan suku cadang dari produsen, dibandingkan perusahaan yang hanya memiliki puluhan unit kendaraan. Keunggulan ini secara langsung menguntungkan para penyewa.

Sementara itu, Aji Jaya, Sales & Marketing Director PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors, menggarisbawahi pentingnya layanan purnajual (after-sales service) dari produsen kendaraan yang dirancang fleksibel dan sesuai dengan tuntutan operasional sektor logistik yang tanpa henti. “Operasional logistik ini tidak mengenal waktu, harus siap 24 jam penuh,” kata Aji.

Tantangan bagi produsen seperti pihaknya, lanjut Aji, adalah tidak hanya menyediakan kendaraan yang berkualitas dan variatif, tetapi juga memastikan dukungan after-sales yang mumpuni. Ia juga menyoroti fitur-fitur kendaraan yang relevan untuk perusahaan logistik, seperti sistem telematika pada Mitsubishi FUSO. Sistem ini memungkinkan pengusaha untuk memantau kendaraan dan perilaku pengemudi secara real-time. “Sehingga mereka bisa mengevaluasi apa yang perlu diperbaiki dan meningkatkan kinerja armada,” tutup Aji.

Diskusi ‘Logistik Makin Efisien: Strategi Mengelola Armada di Tengah Tekanan Biaya’ ini secara gamblang menegaskan bahwa efisiensi logistik bukanlah tanggung jawab satu pihak semata. Kolaborasi harmonis antara regulator, operator armada, dan produsen kendaraan menjadi kunci fundamental dalam menciptakan sistem logistik yang tidak hanya lebih efisien, tetapi juga aman, dan berdaya saing tinggi di masa depan.

Advertisements