Eksportir minyak terbesar di dunia, Saudi Aramco, kembali mengambil langkah penting dengan memangkas pasokan minyak mentah untuk para pembeli di Asia yang dijadwalkan pada bulan April mendatang. Ini merupakan kali kedua perusahaan minyak dan gas nasional milik Arab Saudi tersebut melakukan pengurangan serupa, sebuah indikasi kondisi pasar yang kian bergejolak.
Keputusan krusial ini diambil sebagai respons terhadap dampak eskalasi ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel, yang secara signifikan mengganggu aktivitas perdagangan minyak melalui jalur vital Selat Hormuz. Gangguan ini memaksa produsen untuk mencari alternatif demi menjaga stabilitas pasokan.
Melansir laporan dari Reuters, tiga sumber anonim mengungkapkan bahwa untuk bulan April, produsen hanya akan menyediakan jenis minyak mentah Arab Light yang diekspor melalui pelabuhan Yanbu di Laut Merah kepada para pelanggan jangka panjang. Imbasnya, pasokan untuk kilang-kilang minyak di Asia akan tetap ketat, yang pada gilirannya dapat membatasi volume produksi produk olahan mereka.
Dalam keterangannya, yang juga dikutip oleh Reuters pada Selasa (24/3), Saudi Aramco menyatakan, “Kami terus berupaya memastikan pasokan energi yang andal dengan memanfaatkan jalur ekspor alternatif melalui Yanbu sebagai respons terhadap kondisi regional yang terus berubah.” Pernyataan ini menegaskan strategi adaptif Aramco dalam menghadapi dinamika geopolitik.
Data terbaru dari perusahaan analisis Kpler menunjukkan bahwa ekspor minyak mentah Arab Saudi sepanjang bulan Maret ini hanya mencapai 4,36 juta barel per hari. Angka ini menurun drastis dari 7,11 juta barel per hari yang tercatat pada Februari lalu, mencerminkan adanya perubahan signifikan dalam pola pengiriman minyak.
Di tengah situasi ini, Saudi Aramco berupaya keras untuk meningkatkan ekspor minyak mentah melalui Yanbu sebagai langkah untuk mengimbangi gangguan di Selat Hormuz. Muatan minyak melalui jalur ini bahkan diperkirakan akan mencapai volume tertinggi pada bulan Maret ini, menunjukkan upaya maksimal untuk mengalihkan rute.
Sebagai contoh konkret dari peningkatan aktivitas di Yanbu, Sinopec, kilang minyak terbesar di China, dijadwalkan akan memuat sekitar 24 juta barel minyak mentah Saudi dari pelabuhan Yanbu pada bulan Maret ini. Ketergantungan pada rute alternatif ini menjadi semakin jelas bagi pembeli utama di Asia.
Namun, jalur alternatif ini juga tidak sepenuhnya bebas hambatan. Aktivitas bongkar muat minyak di pelabuhan Yanbu sempat terganggu beberapa hari lalu setelah sebuah drone jatuh di kilang SAMREF yang merupakan milik Saudi Aramco. Insiden ini menyoroti kerentanan infrastruktur vital di tengah ketegangan regional yang terus berlangsung.