Kasus dugaan penipuan wedding organizer (WO) yang menyeret nama Ayu Puspita mendadak viral dan menghebohkan jagat media sosial. Ratusan korban, diperkirakan mencapai 200 orang, meluapkan kekecewaan mereka dengan menggeruduk kediaman pemilik WO Ayu Puspita di Jalan Beton, Kayu Putih, Jakarta Timur, pada Minggu (7/12) malam. Insiden penggerudukan ini bahkan memaksa Polres Metro Jakarta Timur untuk segera turun tangan guna meredam kericuhan dan memastikan situasi tetap terkendali, seiring para korban menuntut pertanggungjawaban penuh dari pemilik WO tersebut.
Menanggapi kejadian ini, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Pernikahan dan Gaun Indonesia (Appgindo), Andie Oyong, angkat bicara. Ia menjelaskan bahwa sejatinya, bisnis utama Ayu Puspita bukanlah wedding organizer murni, melainkan lebih fokus pada usaha katering. Meskipun demikian, Ayu menawarkan paket pernikahan “all-in-one” atau paket lengkap dengan berkolaborasi bersama vendor pernikahan lain. Kondisi ini membuat para profesional WO merasa profesi mereka tersudut, mengingat Ayu Puspita—meskipun memiliki tiga divisi bisnis—utamanya bergerak di sektor katering, demikian ujar Andie kepada Katadata pada Senin (15/12).
Andie lebih lanjut mengungkapkan bahwa Ayu Puspita hingga kini tidak terdaftar sebagai anggota dalam asosiasi manapun, baik itu wedding organizer, katering, maupun dekorasi. Ketiadaan keanggotaan ini menjadi kendala besar, sebab asosiasi tidak memiliki wewenang untuk melakukan pengawasan terhadap usaha yang bukan bagian dari teritorinya. Oleh karena itu, guna mencegah terulangnya kasus penipuan pernikahan serupa, Andie mengimbau kepada seluruh calon klien dan rekan usaha untuk selalu menelusuri rekam jejak setiap vendor pernikahan yang akan dipilih. Ia menekankan pentingnya memeriksa kelancaran pembayaran dan eksekusi proyek; pembayaran yang tertunda lebih dari sebulan dari kesepakatan bisa menjadi indikasi adanya masalah keuangan pada vendor tersebut.
Memilih vendor pernikahan yang tergabung dalam asosiasi dapat secara signifikan mengurangi risiko penipuan, kata Andie. Anggota asosiasi dianggap lebih amanah karena telah melalui proses verifikasi ketat dan pemeriksaan latar belakang sebelum diterima. Namun, Andie juga menegaskan bahwa tidak semua vendor yang belum bergabung dengan asosiasi berarti bermasalah; banyak di antaranya tetap profesional dan amanah. Sayangnya, akibat kasus penipuan WO Ayu Puspita ini, banyak vendor lain yang amanah justru turut terimbas, menghadapi kehilangan kepercayaan dari klien dan banyaknya pertanyaan skeptis.
Andie menambahkan, dampak lebih lanjut dari kasus penipuan pernikahan ini adalah pergeseran preferensi klien. Banyak calon pengantin yang kini memilih untuk mundur dari layanan paket pernikahan ‘all-in-one’ dan justru memutuskan untuk secara mandiri memilih vendor pernikahan sesuai preferensi mereka, tanpa terikat pada paket terpadu.
Kronologi Kasus
Pihak kepolisian, khususnya Polres Metro Jakarta Timur, telah menerima berbagai aduan masyarakat terkait kasus penipuan WO Ayu Puspita. Menindaklanjuti laporan tersebut, tim kepolisian segera bergerak menuju lokasi untuk memastikan keamanan tetap terkendali, demikian pernyataan Kapolres Metro Jakarta Timur Kombes Pol Alfian Nurrizal pada Senin (8/12), yang dikutip dari Antara.
Perkembangan terbaru menunjukkan bahwa Ayu Puspita kini telah diamankan oleh pihak kepolisian. Tak hanya Ayu, empat orang lainnya yang terlibat, yaitu HE, BDP, DHP, dan RR, juga turut ditangkap dan diperiksa. Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Utara Kompol Onkoseno Gradiarso Sukahar membenarkan bahwa pihaknya telah menerima laporan dari para korban penipuan WO tersebut. “Kami sudah menerima laporan dari para korban WO itu. Saat ini dari semalam, ada lima orang dari pihak WO itu lagi kita periksa. Iya termasuk (Ayu),” jelas Onkoseno kepada wartawan pada Senin (8/12), seraya menambahkan bahwa kelima orang tersebut masih berstatus saksi. Kasus penipuan WO ini sendiri mulai mencuat dan viral di media sosial setelah salah satu rekan korban membagikan kisah nahas yang menimpa rekannya.
Dua kisah tragis dari korban penipuan pernikahan ini menjadi sorotan. Pada hari pernikahannya yang dijadwalkan Sabtu, 6 Desember 2025, seorang korban yang telah mempercayakan impian hari bahagianya kepada WO Ayu Puspita harus menelan kekecewaan pahit lantaran katering yang telah dipesan tidak kunjung dikirimkan. Kasus serupa juga dilaporkan oleh korban lain berinisial SOG ke Polres Metro Jakarta Utara dengan dugaan penipuan atau penggelapan. SOG mengaku telah melunasi biaya resepsi senilai Rp 82,7 juta, namun fasilitas yang diterima pada hari-H jauh dari kesepakatan awal, tanpa adanya itikad baik dari Ayu untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.
Jumlah korban penipuan oleh Ayu Puspita terus bertambah, bahkan sebelum insiden penggerudukan terjadi, tercatat sudah 87 korban dari berbagai daerah, khususnya Jabodetabek, yang melaporkan Ayu ke pihak kepolisian. Mengingat cakupan korban yang luas, kasus penipuan pernikahan ini dikoordinasikan secara intensif antara Polres Metro Jakarta Timur dan Polda Metro Jaya. Aparat kini sedang giat mengumpulkan berbagai bukti, mulai dari riwayat percakapan dengan korban, bukti transfer uang, hingga data relevan lainnya. Kerugian yang dialami para korban pun bervariasi, namun Kasat Reskrim Kompol Onkoseno menaksir total kerugian keseluruhan mencapai ratusan juta rupiah. “Sampai ratusan (juta), kalau total dari semuanya. Dia menawarkan paket pernikahan, pada kenyataannya tidak memenuhi ketentuan itu,” pungkasnya, menggambarkan modus operandi WO Ayu Puspita yang menjanjikan layanan namun gagal memenuhi komitmen.