Dunia pasar modal selalu dipenuhi dinamika, dan salah satu aspek yang paling menarik sekaligus membingungkan adalah pergerakan harga saham. Bagi investor, baik pemula maupun yang sudah berpengalaman, memahami mengapa harga saham bisa naik atau turun adalah kunci untuk membuat keputusan investasi yang cerdas dan terukur. Harga saham tidak pernah statis; ia terus berfluktuasi, didorong oleh beragam faktor internal perusahaan dan kondisi makroekonomi global. Fenomena ini, di mana harga saham dapat berubah secara tak terduga, adalah hal lumrah dalam investasi saham. Secara sederhana, hukum penawaran dan permintaan berlaku: harga saham akan melesat naik saat permintaan meningkat tajam, dan sebaliknya akan tertekan turun ketika permintaan melemah. Kompleksitas inilah yang menjadikan saham sebagai instrumen investasi berisiko tinggi, namun dengan potensi imbal hasil yang menarik bagi mereka yang memahami seluk-beluknya, khususnya bagi investor muda dan generasi milenial yang tertarik mendalami dunia saham.
Menyelami lebih dalam, terdapat beberapa faktor krusial yang memengaruhi naik turunnya harga saham. Memahami setiap faktor ini akan membantu investor mengidentifikasi peluang dan memitigasi risiko. Berikut adalah ulasan mendalamnya.
1. Kondisi Fundamental Perusahaan

Faktor utama yang menjadi landasan penilaian harga saham adalah kondisi fundamental perusahaan itu sendiri. Kesehatan fundamental ini merefleksikan performa dan prospek jangka panjang sebuah entitas bisnis. Indikatornya dapat diamati melalui berbagai aksi korporasi strategis seperti akuisisi, merger, atau divestasi yang mengubah struktur dan potensi perusahaan. Lebih lanjut, analisis mendalam pada laporan keuangan perusahaan—termasuk laba rugi, neraca, dan arus kas—sangat krusial. Perusahaan dengan kinerja finansial yang solid, pertumbuhan pendapatan yang konsisten, dan profitabilitas yang kuat akan menarik minat investor, sehingga memicu peningkatan permintaan dan mendorong harga saham melonjak. Sebaliknya, laporan keuangan yang memburuk atau prospek bisnis yang suram akan meredupkan minat, menyebabkan penurunan permintaan dan potensi anjloknya harga saham.
2. Fluktuasi Kurs Rupiah terhadap Mata Uang Asing

Dinamika nilai tukar atau kurs rupiah terhadap mata uang asing, terutama dolar Amerika Serikat, merupakan faktor makroekonomi penting yang dapat memengaruhi harga saham secara signifikan. Perubahan kurs ini dapat membawa dampak ganda, baik positif maupun negatif, terutama bagi perusahaan-perusahaan yang memiliki eksposur terhadap valuta asing, misalnya dalam bentuk utang atau biaya operasional. Ketika rupiah melemah, perusahaan dengan beban utang dalam mata uang asing akan menghadapi lonjakan biaya operasional karena harus membayar lebih banyak rupiah untuk melunasi utangnya atau membeli bahan baku impor. Kondisi ini secara otomatis dapat menekan profitabilitas dan pada gilirannya, menyebabkan harga saham perusahaan tersebut menurun. Tak jarang, pelemahan kurs rupiah yang signifikan juga berkorelasi dengan penurunan indeks harga saham secara keseluruhan seperti Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
3. Kebijakan Pemerintah

Peran kebijakan pemerintah sebagai salah satu faktor penentu harga saham tidak bisa diabaikan. Baik kebijakan yang sudah resmi diberlakukan maupun yang masih dalam tahap wacana, semuanya memiliki potensi untuk menciptakan volatilitas di pasar modal. Contohnya meliputi regulasi terkait ekspor dan impor yang bisa memengaruhi kinerja sektor-sektor tertentu, kebijakan mengenai perseroan terbatas, strategi pengelolaan utang negara, hingga insentif atau pembatasan terhadap penanaman modal asing (PMA). Setiap keputusan pemerintah ini dapat mengubah sentimen pasar, prospek bisnis perusahaan, dan akhirnya berdampak langsung pada pergerakan harga saham.
4. Kepanikan Pasar (Panic Selling)

Sisi emosional investor seringkali menjadi faktor kuat dalam pergerakan harga saham. Kepanikan, yang kerap dipicu oleh berita negatif atau rumor yang beredar cepat di masyarakat, dapat menyebabkan efek domino di bursa saham. Fenomena ini dikenal sebagai panic selling, di mana para investor secara massal menjual saham yang mereka miliki, bahkan ketika saham tersebut sedang dalam kondisi “merah” atau merugi, dengan harapan mencegah kerugian lebih besar. Keputusan ini umumnya didasari oleh rasa takut dan emosi yang berlebihan, bukan oleh analisis rasional terhadap fundamental perusahaan. Oleh karena itu, penting bagi setiap investor untuk menahan diri dari tindakan impulsif saat panik. Alih-alih terburu-buru menjual, lakukan analisis ulang terhadap fundamental saham tersebut untuk menilai apakah masih prospektif untuk dipertahankan atau memang sudah waktunya untuk divestasi.
5. Manipulasi Pasar dan Rumor

Di tengah kompleksitas pasar modal, terdapat pula faktor yang bersifat artifisial, yaitu manipulasi pasar. Praktik ini seringkali dilakukan oleh investor-investor besar yang berpengalaman dan memiliki modal kuat, dengan tujuan mempengaruhi harga saham sesuai keinginan mereka, baik untuk mendongkrak maupun menjatuhkannya. Salah satu metode yang digunakan adalah dengan menyebarkan informasi atau narasi melalui media massa yang bertujuan untuk membentuk persepsi publik secara tidak benar. Dalam dunia investasi saham, kondisi ini sering disebut sebagai ‘rumor’. Penting untuk diingat bahwa efek dari rumor atau manipulasi pasar ini cenderung bersifat sementara dan tidak bertahan lama. Oleh karena itu, investor perlu berhati-hati dan selalu memverifikasi informasi sebelum mengambil keputusan investasi.
FAQ seputar Faktor yang Memengaruhi Naik Turunnya Harga Saham
Question: Apa faktor utama yang memengaruhi naik turunnya harga saham?
Answer: Faktor utama yang krusial meliputi kinerja fundamental perusahaan, sentimen pasar modal, kondisi ekonomi global, perubahan suku bunga, serta kebijakan pemerintah. Keseluruhan faktor ini secara signifikan memengaruhi dinamika penawaran dan permintaan saham.
Question: Bagaimana kinerja perusahaan memengaruhi harga saham?
Answer: Kinerja perusahaan yang solid, ditandai dengan laba yang tinggi, pertumbuhan pendapatan yang sehat, dan prospek bisnis yang positif, akan meningkatkan kepercayaan investor. Hal ini mendorong permintaan dan berujung pada kenaikan harga saham perusahaan tersebut.
Question: Apa peran sentimen pasar terhadap harga saham?
Answer: Sentimen pasar mencerminkan persepsi dan suasana hati investor terhadap kondisi pasar saat ini dan proyeksi masa depan. Berita atau rumor positif dapat memicu optimisme, mendorong kenaikan harga saham, sedangkan berita negatif bisa memicu kekhawatiran dan penurunan harga.
Question: Apakah kondisi ekonomi global berpengaruh besar pada harga saham?
Answer: Ya, kondisi ekonomi global memiliki dampak yang sangat besar. Peristiwa seperti krisis ekonomi, inflasi yang tinggi, atau perang dagang internasional dapat mengubah penilaian investor terhadap risiko investasi, yang pada gilirannya memengaruhi pergerakan harga saham di berbagai bursa.
Question: Bagaimana kebijakan suku bunga memengaruhi harga saham?
Answer: Kebijakan suku bunga yang ditetapkan oleh bank sentral memengaruhi biaya modal bagi perusahaan dan daya beli masyarakat. Suku bunga yang tinggi cenderung menekan harga saham karena biaya pinjaman bagi perusahaan meningkat, dan investasi saham menjadi kurang menarik dibandingkan instrumen keuangan berpendapatan tetap.