65% wilayah Aceh masih krisis air bersih, pemerintah bangun ratusan sumur bor

Dalam respons cepat terhadap dampak bencana banjir dan longsor yang melanda Aceh, kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan aparat keamanan kini fokus pada pembangunan ratusan sumur bor. Langkah darurat ini diinisiasi untuk memastikan pasokan air bersih bagi warga yang terdampak di berbagai wilayah. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa 12 dari 18 kabupaten/kota, atau sekitar 65% wilayah di Aceh, masih menghadapi gangguan signifikan terhadap layanan air bersih akibat parahnya dampak bencana.

Advertisements

Abdul Muhari, selaku Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, menjelaskan bahwa kendala akses air bersih di daerah-daerah tersebut dipicu oleh dua faktor utama: kerusakan parah pada jaringan pipa PDAM dan pencemaran sumber air di sejumlah lokasi. Kondisi ini membuat upaya pemulihan layanan menjadi lebih kompleks dan membutuhkan penanganan khusus.

Abdul Muhari memproyeksikan bahwa pemulihan penuh layanan air bersih di area yang terdampak akan memerlukan waktu yang lebih panjang. “Saat ini, penggantian pipa juga terus dilakukan. Namun, sebagai solusi sementara, kami telah mengkhususkan upaya pada pembangunan sumur bor,” ujarnya dalam konferensi pers yang disiarkan secara daring melalui kanal YouTube BNPB Indonesia pada Jumat, 2 Januari. Pernyataan ini menegaskan prioritas pada solusi jangka pendek untuk memenuhi kebutuhan mendesak.

Menanggapi situasi krusial ini, BNPB bersama TNI, Polri, dan Kementerian Pekerjaan Umum terus mengintensifkan pembangunan sumur bor di wilayah-wilayah yang paling terdampak. Hingga saat ini, Kodam Iskandar Muda telah berkontribusi dengan membangun 121 unit sumur bor. Rinciannya menunjukkan bahwa 69 titik telah rampung, 21 titik masih dalam tahap pengerjaan, sementara 31 titik lainnya berada dalam fase persiapan dan pengecekan lokasi.

Advertisements

Baca juga:

  • BNPB: Korban Tewas Banjir Sumatera – Aceh Capai 1.157 Jiwa, Pengungsi 380 Ribu
  • CORE: Pertumbuhan Ekonomi 2025 Terpangkas Akibat Banjir di Sumatera
  • Kondisi Pesantren Darul Mukhlisin Mulai Pulih, Kayu-kayu Sisa Banjir Dibersihkan

Sebaran sumur bor tersebut mencakup berbagai kabupaten, dengan Aceh Tamiang menjadi fokus utama dengan 80 titik. Disusul oleh Aceh Utara dengan 24 titik, Bireuen 6 titik, Bener Meriah 5 titik, serta Pidie Jaya dan Aceh Timur masing-masing 3 titik. Tingginya jumlah pengeboran di Aceh Tamiang disebabkan oleh tingkat kerusakan jaringan air bersih yang paling parah di wilayah tersebut, menjadikannya prioritas utama dalam upaya pemulihan.

Kontribusi masif juga datang dari Polri yang telah menyediakan 146 titik sumur bor siap pakai. Senada dengan itu, Pusat Teritorial Angkatan Darat (Pusterad) turut serta membangun 6 sumur bor baru di Aceh Tamiang. Sementara itu, Kementerian Pekerjaan Umum melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air juga bergerak cepat dengan melakukan pengeboran bertahap di 12 kecamatan di Aceh Tamiang. “Memang fokus dari pembuatan sumur bor ini paling banyak di Aceh Tamiang,” imbuh Abdul Muhari, menggarisbawahi urgensi di wilayah tersebut.

Abdul Muhari menambahkan bahwa pembangunan sumur bor tidak hanya terpusat di Aceh Tamiang, melainkan juga akan dilanjutkan ke wilayah lain seperti Aceh Utara, Aceh Tengah, dan Aceh Timur. Pengadaan sumur bor ini akan disesuaikan secara fleksibel berdasarkan permintaan dan kebutuhan warga di lokasi terdampak, memastikan efektivitas bantuan.

Selain pemasangan sumur bor, pemenuhan air bersih di lokasi bencana selama masa tanggap darurat juga diupayakan melalui berbagai metode lain. Ini mencakup pengoperasian mobil penjernih air, penyediaan hidran umum, serta distribusi air bersih menggunakan mobil tangki untuk menjangkau daerah-daerah yang sulit akses.

Advertisements