Rapor saham konglomerasi 2025: emiten afiliasi Happy Hapsoro tancap gas

Babaumma – , JAKARTA – Pada tahun 2025, pasar saham Indonesia diwarnai oleh dominasi kinerja emiten-emiten konglomerasi yang berhasil menjadi penopang utama laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Fenomena ini terjadi di tengah perlambatan pergerakan saham-saham blue chips yang biasanya menjadi motor penggerak indeks. Di antara berbagai konglomerasi yang mencatatkan pertumbuhan impresif, saham-saham afiliasi Happy Hapsoro tampil sebagai pemimpin dengan kenaikan paling signifikan.

Advertisements

Laporan dari Stockbit Sekuritas yang dirilis pada 30 Desember 2025 mengungkapkan bahwa tahun 2025 menjadi kelanjutan sekaligus akselerasi tren positif bagi saham-saham konglomerasi, setelah sebelumnya menunjukkan performa apik pada periode 2023 dan 2024. Istimewanya, akselerasi pada tahun ini tidak hanya terkonsentrasi pada konglomerasi tertentu, melainkan menyebar ke lebih banyak grup, sehingga mampu mengangkat IHSG sebesar 22,13% secara year to date (YtD). Pencapaian ini menjadi sorotan mengingat pada saat yang sama, saham-saham dari empat bank terbesar justru mengalami tekanan.

“Tahun ini menjadi saksi kemunculan tiga konglomerasi baru yang menonjol dengan kenaikan harga saham secara keseluruhan paling signifikan, yakni grup yang terafiliasi dengan Happy Hapsoro, Bakrie, dan Haji Isam,” demikian kutipan laporan Stockbit Sekuritas, seperti dikutip pada Rabu (31/12/2025).

Grup afiliasi Happy Hapsoro mencatat rekor pertumbuhan yang fantastis. Saham PT Bukit Uluwatu Villa Tbk. (BUVA) meroket hingga 2.680% YtD, diikuti oleh PT Minna Padi Investama Sekuritas Tbk. (PADI) yang melonjak 1.130%, dan PT Red Planet Indonesia Tbk. (PSKT) dengan kenaikan 868,8%. Kinerja cemerlang juga ditunjukkan oleh PT Raharja Energi Cepu Tbk. (RATU) yang naik 756,5%, PT Sanurhasta Mitra Tbk. (MINA) naik 712,8%, PT Pakuan Tbk. (UANG) dan PT Singaraja Putra Tbk. (SINI) keduanya naik 512,2%, serta PT Rukun Raharja Tbk. (RAJA) dengan kenaikan 124,3%.

Advertisements

Tidak kalah gemilang, saham-saham afiliasi Grup Bakrie juga menunjukkan penguatan signifikan. PT Intermedia Capital Tbk. (MDIA) mencatat kenaikan 780% YtD, PT Visi Media Asia Tbk. (VIVA) naik 700%, PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG) melonjak 595,7%, PT Graha Andrasentra Propertindo Tbk. (JGLE) tumbuh 583,3%, dan PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk. (VKTR) menguat 550%. Selain itu, PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) naik 503,6%, PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk. (UNSP) naik 349,5%, PT Bakrieland Development Tbk. (ELTY) naik 275%, PT Bakrie & Brothers Tbk. (BNBR) naik 262,9%, PT Ancara Logistics Indonesia Tbk. (ALII) naik 236%, PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) naik 217,9%, dan PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) yang tumbuh 210,2%.

Sementara itu, emiten-emiten afiliasi Haji Isam juga turut memeriahkan bursa dengan lonjakan yang mengesankan. PT Pradiksi Gunatama Tbk. (PGUN) memimpin dengan pertumbuhan 2.205,4% YtD, PT Jhonlin Agro Raya Tbk. (JARR) naik 941,9% YtD, PT Dana Brata Luhur Tbk. (TEBE) naik 317,6%, dan PT Fast Food Indonesia Tbk. (FAST) tumbuh 100,3%.

Kendati demikian, kinerja saham konglomerasi sepanjang 2025 tidak selalu mulus. Stockbit Sekuritas menganalisis bahwa perkembangan saham-saham ini dapat dibagi menjadi dua periode utama, dipengaruhi oleh dinamika Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang menjadi faktor kunci sentimen pasar. Pada semester I 2025, sentimen cenderung negatif menyusul pengumuman dan wacana MSCI untuk memperketat kriteria inklusi indeks.

Pada Februari 2025, MSCI mengumumkan bahwa saham BREN, CUAN, dan PTRO tidak akan dimasukkan ke dalam MSCI Indonesia Investable Market Index pada peninjauan indeks Februari 2025 karena potensi kendala investasi. Kemudian pada April 2025, MSCI kembali menegaskan bahwa ketiga saham tersebut tetap tidak akan masuk dalam daftar inklusi pada peninjauan Mei 2025. Lebih lanjut, MSCI juga mengkaji penambahan regulasi yang menyatakan bahwa saham-saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dalam 12 bulan terakhir pernah masuk dalam pengumuman unusual market activity (UMA) dan/atau papan pemantauan akibat pergerakan harga yang tidak biasa, tidak akan dipertimbangkan untuk masuk ke dalam MSCI Global Investable Market Indexes.

Namun, angin perubahan berhembus kencang pada semester II 2025. Sentimen berbalik positif seiring dengan pembatalan wacana pengetatan kriteria MSCI tersebut. Momentum penguatan semakin terasa ketika dalam pengumuman MSCI Agustus 2025, dua saham konglomerasi, yakni DSSA dan CUAN, berhasil masuk ke dalam indeks MSCI Indonesia Global Standard, menandai babak baru kepercayaan investor terhadap segmen pasar ini.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Advertisements