Pemerintah Indonesia terus menggalakkan berbagai program strategis guna mengatasi ancaman serius perubahan iklim. Salah satu inisiatif krusial yang didorong adalah penerapan konsep modern farming dalam pengembangan food estate. Terkait hal ini, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyoroti potensi luar biasa yang dimiliki Merauke, Papua, terutama berkat kualitas tanahnya yang bahkan dinilai lebih unggul dibandingkan dengan tanah di Australia.
Menurut Airlangga, Merauke memiliki kapasitas untuk menghasilkan produk pertanian yang jauh lebih optimal. Kepercayaan ini tidak hanya datang dari pandangan lokal, melainkan juga didukung oleh pengakuan para ahli dari Australia yang meyakini bahwa Merauke sangat berpotensi untuk dikembangkan menjadi lumbung pertanian nasional. Pernyataan ini disampaikan oleh Airlangga dalam acara Road to Jakarta Food Security Summit (JFSS) 2026 yang mengangkat tema “Ketahanan Pangan untuk Menjaga Kedaulatan Bangsa” di Menara Kadin, pada Selasa (13/1) lalu.
Pengembangan komoditas pertanian, seperti tebu di Merauke, disebut Airlangga sebagai salah satu tantangan utama dalam implementasi modern farming. Tebu sendiri merupakan tanaman asli (indigenous) Papua. Para ahli optimistis bahwa Merauke mampu memproduksi tebu dengan kualitas yang lebih baik daripada yang dihasilkan di Australia. Oleh karena itu, pengembangan food estate ini dimaksimalkan sebagai langkah konkret untuk mitigasi dampak perubahan iklim.
Urgensi pengembangan ini semakin terasa melihat kondisi pada tahun 2024, ketika fenomena El Nino dan La Nina terjadi secara bersamaan. Kombinasi dua fenomena iklim ekstrem ini berakibat fatal, menyebabkan penurunan produksi padi nasional hingga sekitar empat juta ton. Hal ini menunjukkan betapa rentannya sektor pangan terhadap gejolak iklim dan pentingnya strategi jangka panjang seperti food estate.
Padahal, sektor pertanian memegang peranan vital dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Sumbangan Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dari sektor ini mencapai 14,35% dan yang lebih krusial, sektor ini mampu menyerap sekitar 40 juta tenaga kerja. Dengan demikian, penguatan ketahanan pangan melalui program food estate dan modern farming bukan hanya untuk kedaulatan bangsa, tetapi juga demi stabilitas ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.