Mengapa Trump menyerang Venezuela hingga menangkap Presiden Nicolas Maduro?

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada Sabtu (3/1) mengumumkan penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro beserta istrinya. Penangkapan ini terjadi di tengah gelombang serangan besar-besaran yang dilancarkan AS terhadap negara Amerika Latin tersebut. Keduanya dilaporkan telah dibawa keluar dari Venezuela dalam operasi yang diklaim Trump bekerja sama dengan penegak hukum AS.

Advertisements

Pengumuman dramatis ini disampaikan Trump melalui akun Truth Social miliknya, dengan janji detail lebih lanjut akan diungkap dalam konferensi pers pada pukul 11 pagi waktu Florida, atau pukul 23.00 WIB pada hari yang sama. Sementara itu, CNN melaporkan bahwa ibu kota Venezuela, Caracas, dilanda beberapa ledakan dan suara pesawat yang hilir mudik pada Sabtu (3/1) dini hari. Ledakan pertama disaksikan sekitar pukul 01.50 waktu setempat (12.50 WIB), mengakibatkan pemadaman listrik di beberapa wilayah kota.

Lantas, apa sebenarnya alasan di balik intensitas serangan Amerika Serikat terhadap Venezuela hingga berujung pada penangkapan presidennya? Trump menuduh pemerintahan Maduro bertanggung jawab atas membanjirnya Amerika dengan narkoba dan anggota geng kriminal. Ia secara terang-terangan menyalahkan Maduro atas gelombang kedatangan ratusan ribu migran Venezuela ke AS. Para imigran ini, termasuk di antara hampir delapan juta warga Venezuela yang diperkirakan telah melarikan diri dari krisis ekonomi dan penindasan di negara itu sejak tahun 2013. Tanpa memberikan bukti konkret, Trump juga menuduh Maduro sengaja mengosongkan penjara dan rumah sakit jiwa, lalu memaksa para narapidana tersebut untuk bermigrasi ke Amerika Serikat.

Fokus utama Trump juga tertuju pada upaya pemberantasan masuknya narkoba, khususnya fentanyl dan kokain, ke wilayah AS. Untuk itu, ia telah menetapkan dua kelompok kriminal Venezuela, Tren de Aragua dan Cartel de los Soles, sebagai Organisasi Teroris Asing (FTO). Lebih jauh, Trump bahkan menuduh bahwa Cartel de los Soles, sebuah jaringan yang para analis gambarkan sebagai istilah untuk pejabat korup yang memfasilitasi transit kokain melalui Venezuela alih-alih kelompok hierarkis, justru dipimpin langsung oleh Maduro. Sebagai bentuk tekanan, Trump telah menggandakan hadiah untuk informasi yang mengarah pada penangkapan Maduro dan secara resmi menetapkan pemerintahannya sebagai FTO.

Advertisements

Di sisi lain, Presiden Nicolas Maduro dengan tegas membantah tuduhan memimpin kartel narkoba. Ia menuding balik Amerika Serikat menggunakan “perang melawan narkoba” sebagai dalih semata untuk mencoba menggulingkan pemerintahannya. Menurut Maduro, motif sebenarnya AS adalah untuk menguasai cadangan minyak Venezuela yang sangat besar.

Eskalasi Serangan Amerika Serikat ke Venezuela

Amerika Serikat telah melancarkan serangkaian serangan ke Venezuela sejak Desember 2025. Serangan pertama yang dilaporkan terjadi pada 29 Desember 2025, menargetkan area dermaga tempat berlabuh kapal-kapal yang diduga membawa narkoba dari Venezuela, meskipun lokasi spesifik serangan tidak disebutkan. Apabila serangan AS di daratan Venezuela ini terkonfirmasi, tindakan tersebut akan menandai peningkatan drastis dalam kampanye Washington melawan pemerintah Maduro. Kampanye ini diprakarsai oleh pemerintahan Trump dengan tuduhan Maduro membanjiri AS dengan narkoba dan anggota geng.

Sejak bulan lalu, AS juga telah mengerahkan 15.000 tentara serta sejumlah kapal induk, kapal perusak rudal, dan kapal serbu amfibi ke wilayah Laut Karibia. Pengerahan kekuatan militer ini merupakan yang terbesar di kawasan tersebut sejak AS menginvasi Panama pada tahun 1989. Sebelumnya, pasukan AS juga memainkan peran kunci dalam blokade angkatan laut yang diberlakukan Trump terhadap semua kapal tanker minyak yang dikenai sanksi, baik yang masuk maupun keluar Venezuela. Di antara armada AS, terdapat USS Gerald Ford, kapal induk terbesar di dunia. Helikopter-helikopter AS dilaporkan lepas landas dari kapal tersebut sebelum pasukan AS menyita sebuah kapal tanker minyak di lepas pantai Venezuela pada 10 Desember. AS mengklaim kapal tanker tersebut digunakan untuk mengangkut minyak yang dikenai sanksi dari Venezuela dan Iran, sementara Venezuela mengecam tindakan tersebut sebagai pembajakan internasional.

Maduro: AS Mengincar Cadangan Minyak Venezuela

Sehari sebelum serangan masif, Presiden Maduro sempat menyatakan kesiapannya untuk melakukan dialog konstruktif dengan Washington demi memerangi perdagangan narkoba. Namun, ia meyakini bahwa Washington sesungguhnya ingin memaksakan perubahan pemerintahan di Venezuela dan mendapatkan akses ke cadangan minyak mereka. “Apa yang mereka cari? Jelas bahwa mereka berusaha memaksakan diri melalui ancaman, intimidasi, dan kekerasan,” kata Maduro dalam sebuah wawancara yang direkam sebelumnya dan ditayangkan di televisi pemerintah. Ia menegaskan bahwa Venezuela telah memberitahu pemerintah Amerika Serikat tentang keseriusannya dalam membahas kesepakatan untuk memerangi narkoba.

Di sisi lain, Maduro juga menyatakan bahwa ia sebenarnya siap menerima investasi dari AS jika negara tersebut memang menginginkan minyak dari Venezuela. “Seperti dengan Chevron, kapan pun mereka menginginkannya, di mana pun mereka menginginkannya, dan bagaimana pun mereka menginginkannya,” ujarnya, merujuk pada Chevron sebagai satu-satunya perusahaan minyak besar yang mengekspor minyak mentah Venezuela ke Amerika Serikat. Perlu diketahui, Venezuela memiliki cadangan minyak terbukti terbesar di dunia. Wawancara tersebut direkam pada Malam Tahun Baru, hari yang sama ketika militer AS mengumumkan serangan terhadap lima kapal yang diduga menyelundupkan narkoba.

Namun, pernyataan Maduro tampaknya tidak diindahkan oleh Trump. Serangan AS terus berlanjut, dimulai di lepas pantai Karibia Venezuela pada 29 Desember 2025, dan kemudian meluas hingga ke Samudra Pasifik bagian timur. Terlebih lagi, Maduro telah didakwa atas terorisme narkoba di AS, dengan imbalan sebesar US$50 juta atau setara Rp835 miliar bagi siapa pun yang dapat menginformasikan penangkapannya.

Advertisements