Chevron dan ConocoPhillips respons rencana Trump bidik minyak Venezuela

Presiden Amerika Serikat Donald Trump baru-baru ini mengisyaratkan potensi keterlibatan AS dalam pengelolaan cadangan minyak raksasa Venezuela, menyusul skenario hipotetis penangkapan Nicolas Maduro oleh militer Negeri Paman Sam. Sinyal ini membuka kembali diskursus mengenai masa depan salah satu negara dengan kekayaan minyak terbesar di dunia.

Advertisements

Saat ini, di tengah gejolak politik dan ekonomi Venezuela, hanya satu perusahaan minyak dan gas bumi (migas) asal AS, yakni Chevron, yang masih beroperasi. Keberadaan Chevron di sana didukung oleh lisensi terbatas yang dikeluarkan oleh pemerintahan Trump dan disetujui oleh pemerintah Venezuela sendiri, sebuah pengecualian langka dalam kebijakan sanksi AS.

Visi Donald Trump ini secara langsung menciptakan spekulasi tentang potensi masuknya lebih banyak raksasa migas AS ke pasar energi Venezuela yang kolosal. Namun, Chevron menanggapi rencana tersebut dengan sangat hati-hati. Juru bicara perusahaan, pada Sabtu (3/1) yang dikutip dari CNBC, menyatakan, “Chevron tetap fokus pada keselamatan dan kesejahteraan karyawan kami, serta integritas aset kami.” Pernyataan ini menunjukkan prioritas perusahaan di tengah ketidakpastian politik.

Sementara itu, perusahaan migas AS besar lainnya, ConocoPhillips, mengaku tengah memantau ketat situasi di Venezuela dan implikasinya terhadap stabilitas energi global. Dalam keterangan resminya, mereka menegaskan, “Masih terlalu dini untuk berspekulasi tentang aktivitas bisnis atau investasi di masa depan,” mencerminkan sikap menunggu dan melihat. Di sisi lain, ExxonMobil memilih untuk tidak memberikan komentar apa pun terkait perkembangan di Venezuela.

Advertisements

Sebelumnya, Donald Trump memang telah berulang kali menyatakan bahwa penggulingan Presiden Venezuela Nicolás Maduro akan menjadi kunci pembuka bagi akses terhadap cadangan minyak Venezuela yang sangat melimpah. Ia secara eksplisit mengungkapkan keinginannya untuk mendorong perusahaan-perusahaan migas AS agar berinvestasi dan beroperasi di negara tersebut.

Dalam konferensi pers pada Sabtu (3/1), Trump bahkan lebih spesifik lagi mengenai visinya: “Kita akan membiarkan perusahaan-perusahaan minyak Amerika Serikat yang sangat besar, yang terbesar di dunia, masuk, menghabiskan miliaran dolar, memperbaiki infrastruktur yang rusak parah.” Pernyataan ini menyoroti potensi investasi besar dan upaya rekonstruksi yang ia bayangkan.

Klaim dan spekulasi ini bukanlah tanpa dasar. Data dari Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) menunjukkan bahwa pada tahun 2024, total cadangan minyak global mencapai 1,57 triliun barel. Dari jumlah fantastis itu, cadangan minyak Venezuela merupakan yang terbesar di dunia, dengan volume mencapai 303,22 miliar barel, atau setara dengan 19% dari seluruh total cadangan minyak global. Fakta ini menegaskan mengapa Venezuela terus menjadi titik fokus dalam geopolitik energi dunia.

Advertisements