Bukan harga minyak, konflik AS – Venezuela lebih berdampak ke rupiah

Konflik geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Venezuela kian memanas setelah Presiden AS Donald Trump dilaporkan menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dalam sebuah operasi pada Sabtu (13/1). Insiden ini sontak memperparah ketidakpastian global, yang dampaknya turut dirasakan oleh Indonesia.

Advertisements

Namun, bagi Indonesia, kekhawatiran utama sejumlah ekonom bukan tertuju pada potensi lonjakan harga minyak global, melainkan pada respons cepat pasar keuangan. Eskalasi risiko geopolitik cenderung mengubah sentimen investor global secara drastis, menjadikan rupiah salah satu mata uang yang paling awal merasakan tekanan.

Rupiah Tertekan dan Mengguncang SBN

Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata, menguraikan bahwa dampak jangka pendek dari konflik AS-Venezuela terhadap Indonesia akan terasa melalui jalur pasar keuangan dan pergerakan nilai tukar. Menurut Josua, saat ketidakpastian global meningkat, minat risiko investor global cenderung menurun. Kondisi ini biasanya memperkuat dolar AS, yang pada gilirannya memicu arus dana keluar dari aset-aset negara berkembang.

Advertisements

“Efeknya, rupiah berpotensi tertekan, dan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) berpotensi naik sementara. Hal ini terjadi karena harga SBN turun saat investor menuntut kompensasi risiko yang lebih besar,” jelas Josua kepada Katadata.co.id, Senin (5/1).

Meski demikian, Josua menekankan bahwa daya tahan Indonesia relatif lebih baik jika ditopang oleh fondasi domestik yang kuat dan kondisi eksternal yang sehat. Data terkini menunjukkan, surplus perdagangan Indonesia pada November 2025 masih terjaga solid, mencapai US$2,66 miliar atau setara Rp44,49 triliun (dengan kurs Rp16.725 per dolar AS).

Tren positif ini bukan kebetulan; neraca perdagangan Indonesia telah mencatatkan surplus selama 67 bulan berturut-turut. Secara kumulatif, surplus dari Januari hingga November 2025 telah mencapai US$38,54 miliar atau setara Rp644,28 triliun.

“Ini menjadi bantalan krusial bagi stabilitas rupiah, sebab pasokan devisa dari aktivitas perdagangan tetap tersedia. Namun, perlu dicatat bahwa surplus berpotensi menyempit secara bertahap jika pertumbuhan impor melampaui ekspor, terutama bila impor barang modal meningkat seiring penguatan investasi,” tambah Josua.

Dampak Terhadap harga Minyak Terbatas

Beralih ke sektor energi, Josua memproyeksikan bahwa dampak konflik Venezuela terhadap harga minyak dunia diperkirakan terbatas untuk sementara waktu. Alasannya, pasar minyak dunia masih mengalami surplus pasokan yang signifikan.

Lebih lanjut, Josua menjelaskan bahwa kisaran harga minyak pada tahun 2026 diperkirakan akan tetap relatif moderat. “Artinya, dalam skenario dasar, neraca perdagangan Indonesia tidak serta-merta akan memburuk dari sisi tagihan impor minyak,” ungkap Josua.

Untuk itu, ia menegaskan bahwa dampak terhadap harga minyak masih tergolong kecil. Justru, yang perlu diwaspadai adalah kombinasi pelemahan rupiah dengan penurunan harga komoditas ekspor, yang dipicu oleh perlambatan permintaan global.

“Sehingga, nilai ekspor bisa melemah, sementara impor tetap berjalan karena kebutuhan produksi dan investasi domestik,” imbuh Josua.

Pandangan serupa juga diungkapkan oleh Mohammad Faisal, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia. Faisal menegaskan bahwa dampak konflik AS dan Venezuela terhadap harga minyak relatif tidak terlalu signifikan.

Kegelisahan Pasar Perlu Segera Diredam

Faisal menyarankan agar di sektor keuangan, pelemahan rupiah yang sudah mulai terlihat di awal 2026 sejak penangkapan Maduro menjadi perhatian serius. Fenomena ini mencerminkan reaksi pasar yang sensitif dan pergerakan arus modal yang mulai bergeser.

“Ada peningkatan risiko geopolitik global yang biasanya akan memengaruhi sentimen pasar dan menekan. Umumnya, tekanan ini dirasakan oleh mata uang negara-negara emerging market, termasuk di antaranya Indonesia,” papar Faisal.

Oleh karena itu, Faisal mengingatkan bahwa pemerintah perlu segera mengantisipasi kondisi ini, khususnya dari sisi kebijakan moneter. Pelemahannilai tukar rupiah memiliki dampak signifikan terhadap sektor keuangan dan ekonomi secara luas.

“Dalam kondisi seperti ini, peran Bank Indonesia (BI) menjadi sangat sentral dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Ini penting sebagai peredam tekanan eksternal agar tidak memberikan dampak buruk yang lebih besar bagi ekonomi domestik,” ujarnya.

Faisal menambahkan, jika nilai tukar rupiah terus melemah, biaya produksi bagi sektor riil akan meningkat tajam. Terutama bagi industri yang sangat bergantung pada bahan baku, bahan penolong, maupun barang modal dari luar negeri.

“Jadi, biaya impor akan menjadi lebih mahal. Ini adalah aspek yang perlu diantisipasi secara menyeluruh, termasuk dampaknya terhadap sektor keuangannya sendiri,” pungkas Faisal.

Advertisements