
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) diproyeksikan akan terus menjadi pendorong positif bagi saham-saham di sektor non-siklikal hingga tahun 2026. Fokus utama sentimen ini tertuju pada emiten-emiten pemasok makanan olahan, yang kinerjanya diuntungkan oleh berbagai faktor. Salah satunya adalah normalisasi harga komoditas global, yang berpotensi mengurangi tekanan biaya bahan baku. Selain itu, potensi penguatan nilai tukar rupiah juga dapat berperan signifikan dalam menekan pengeluaran untuk bahan baku impor, sehingga margin keuntungan emiten dapat terjaga dan bahkan meningkat.
Muhammad Wafi, Head of Research Korea Investment and Sekuritas Indonesia, menggarisbawahi bahwa implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) berpotensi menjadi “booster” atau pendorong tambahan yang substansial bagi kinerja emiten produsen susu dan makanan olahan. Menurutnya, program ini tidak hanya akan menjadikan sektor non-siklikal sebagai saham defensif yang stabil, tetapi juga akan memberikan “cerita pertumbuhan” yang menarik bagi investor.
Peningkatan volume penjualan yang diakibatkan oleh realisasi program MBG diharapkan mampu mengubah persepsi pasar terhadap saham-saham di sektor ini. “Realisasi program MBG juga bisa jadi booster volume buat emiten produsen susu dan makanan olahan, jadi gak cuma defensif, tapi punya growth story juga,” ujar Wafi kepada Katadata.co.id pada Senin (5/1), menjelaskan potensi transformasi fundamental sektor tersebut.
Baca juga:
- IHSG Diramal ke 8.900, Saham MDKA, TLKM, TINS, WIFI dan TPIA Jadi Rekomendasi
- Wall Street Melonjak di Tengah Kenaikan Harga Minyak dan Gejolak AS–Venezuela
- Deret Promo Kartu Debit Visa yang Baru Dirilis Bank Jakarta, Ini Daftarnya
Sementara itu, pemerintah telah mengumumkan fokusnya untuk menambah cadangan pangan dalam rangka persiapan program MBG tahun ini. Langkah ini diambil mengingat program unggulan Presiden Prabowo Subianto tersebut akan dijalankan secara penuh pada tahun 2026. Persiapan matang diperlukan untuk memastikan kelancaran distribusi dan ketersediaan pasokan.
Badan Gizi Nasional memproyeksikan skala kebutuhan pangan yang masif. Untuk 19 ribu dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), kebutuhan beras saja diperkirakan mencapai 91,2 ribu ton pada Januari 2026. Jika program MBG berjalan penuh, keperluan beras sepanjang tahun tersebut bahkan diperkirakan akan menembus angka 1 juta ton.
Tidak hanya beras, kebutuhan pangan lain juga tak kalah besar. Telur diproyeksikan mencapai 720 ribu ton per tahun, sementara minyak goreng diperkirakan menembus 750 ribu ton. “Ini belum menghitung kebutuhan ayam pedaging. Jadi setiap rantai pasok harus diperiksa kebutuhannya dengan baik,” tegas Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan pada Senin (29/12), menyoroti pentingnya manajemen rantai pasok yang efisien dan terencana.
Seiring dengan peningkatan cakupan dan skala program, pengeluaran belanja pemerintah untuk program MBG juga diproyeksikan akan melonjak signifikan. Dari Rp 116 triliun pada tahun 2025, anggaran ini diperkirakan akan meningkat drastis menjadi Rp 335 triliun pada tahun 2026, mencerminkan komitmen fiskal yang besar terhadap program ini.
Saham ICBP, MYOR, dan CMRY Direkomendasikan
Dalam analisisnya terhadap sektor ini, Wafi menempatkan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) sebagai pilihan utama. Dengan rekomendasi beli dan target harga Rp 13.000, ICBP dinilai sebagai pemimpin pasar yang paling siap untuk memanfaatkan momentum pemulihan daya beli masyarakat, khususnya dari segmen kelas menengah ke bawah. “Saya paling suka ICBP karena market leader yang paling siap menangkap pemulihan daya beli dari kelas bawah,” jelasnya.
Selain itu, PT Mayora Indah Tbk (MYOR) juga masuk dalam daftar rekomendasi beli dengan target harga Rp 3.100. Kinerja ekspor MYOR yang solid menjadi alasan utama, didukung oleh peningkatan pangsa pasar yang berkelanjutan untuk produk air minum dalam kemasannya.
Adapun PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY) diberikan rekomendasi hold dengan target harga Rp 5.700. CMRY dianggap sebagai proksi langsung dari pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis, sehingga memiliki peluang besar untuk mencatatkan kenaikan volume penjualan seiring dengan implementasi penuh program tersebut.