
Regulator keamanan saluran pipa Amerika Serikat (AS) menjatuhkan denda terbesar mereka terhadap perusahaan yang bertanggung jawab atas kebocoran 1,1 juta galon minyak ke Teluk Meksiko di lepas pantai Louisiana pada 2023.
Menurut laporan Associated Press (AP), denda yang dikenakan kepada Third Coast itu mencapai US$ 9,6 juta (Rp 160,9 miliar, kurs Rp 16.760/US$). Denda tunggal ini hampir setara dengan total denda normal sebesar US$ 8 juta (Rp 134,06 miliar) hingga US$ 10 juta (Rp 167,6 miliar) untuk semua denda yang biasanya dijatuhkan setiap tahun oleh Pipeline and Hazardous Materials Safety Administration.
Direktur Eksekutif Pipeline Safety Trust, Bill Caram, mengatakan kebocoran ini terjadi akibat kegagalan sistemik di seluruh perusahaan.
“Ini menunjukkan ketidakmampuan mendasar operator dalam menerapkan peraturan keselamatan pipa, sehingga denda yang memecahkan rekor ini dinilai layak dan perlu,” kata Caram, seperti dikutip AP, Senin (5/1).
Namun, Caram menilai denda sebesar US$ 9,6 juta (Rp 160,9 miliar) itu tampaknya tidak akan menjadi beban besar bagi Third Coast untuk membayarnya.
Third Coast memiliki kepemilikan pada sekitar 1.900 mil (3.058 km) jaringan pipa. Pada September 2025, perusahaan yang berbasis di Houston itu mengumumkan bahwa mereka telah mendapatkan pinjaman hampir senilai US$ 1 miliar (Rp 16,76 triliun).
“Namun, bahkan denda yang memecahkan rekor sering kali tidak berdampak signifikan secara finansial bagi operator pipa. Denda yang diusulkan ini mewakili kurang dari 3% dari estimasi pendapatan tahunan Third Coast Midstream,” kata Caram.
“Pencegahan yang efektif memerlukan hukuman yang membuat ketidakpatuhan menjadi lebih mahal daripada kepatuhan,” sambungnya.
Third Coast Tidak Terapkan Prosedur Darurat dengan Tepat
Badan tersebut mengatakan Third Coast tidak menetapkan prosedur darurat yang tepat. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa Dewan Keselamatan Transportasi Nasional (NTSB) menemukan bahwa operator gagal menghentikan aliran pipa selama hampir 13 jam setelah pengukur mereka pertama kali menunjukkan adanya masalah.
PHMSA juga mengatakan perusahaan tidak menilai risiko secara memadai atau merawat pipa Main Pass Oil Gathering berdiameter 18 inci dengan benar.
“Mereka gagal melakukan analisis atau evaluasi integritas baru setelah perubahan keadaan yang mengungkap faktor risiko baru dan meningkat,” kata badan tersebut.
Hal itu sejalan dengan pernyataan NTSB dalam laporan akhirnya pada Juni, bahwa Third Coast melewatkan beberapa peluang untuk mengevaluasi bagaimana bahaya geologi dapat mengancam integritas pipa mereka.
NTSB mengatakan kebocoran di lepas pantai Louisiana tersebut merupakan akibat tanah longsor bawah laut yang disebabkan oleh bahaya seperti badai, yang gagal ditangani oleh Third Coast selaku pemilik pipa meskipun ancaman tersebut sudah lama dikenal di industri.
Seorang juru bicara Third Coast mengatakan perusahaan telah bekerja untuk menangani kekhawatiran regulator terkait kebocoran tersebut, sehingga mereka terkejut dengan beberapa detail yang dimasukkan badan itu dalam tuduhannya serta besarnya denda.
“Setelah keterlibatan yang konstruktif dengan PHMSA selama dua tahun terakhir, kami terkejut melihat beberapa bagian dari tuduhan terbaru yang menurut kami tidak akurat dan melampaui preseden yang ada. Kami akan menanggapi kekhawatiran ini bersama badan tersebut ke depan,” kata juru bicara perusahaan.
Jumlah minyak yang tumpah dalam insiden ini jauh lebih sedikit dibandingkan bencana minyak BP tahun 2010, ketika 134 juta galon dilepaskan dalam beberapa minggu setelah ledakan rig minyak. Namun, NTSB menilai kebocoran tersebut bisa jauh lebih kecil jika para pekerja di ruang kendali Third Coast bertindak lebih cepat.