Daftar 4 negara Eropa yang berhasil kelola sampah jadi energi lewat program WTE

Pemerintah Indonesia telah mengambil langkah strategis dengan menetapkan pembangunan Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) sebagai kebijakan nasional. Inisiatif ini merupakan respons konkret terhadap krisis sampah yang mendesak, sekaligus menetapkan target ambisius. Melalui Peraturan Presiden No. 109 Tahun 2025, pemerintah menargetkan 100% sampah di Indonesia dapat terkelola secara optimal pada tahun 2029.

Advertisements

Namun, pertanyaan krusial pun muncul: Seberapa efektifkah pendekatan PSEL ini dalam menjadi solusi jangka panjang bagi persoalan sampah di Indonesia?

Untuk mengulas potensi tersebut, kita bisa berkaca pada pengalaman sukses negara-negara di benua Eropa yang telah lama mengadopsi program Waste-to-Energy (WtE), atau pengelolaan sampah menjadi energi. Setidaknya empat negara di Eropa menonjol dalam implementasi teknologi canggih, efisiensi pembiayaan, dan model ekonomi sirkuler yang terbukti efektif dalam mengatasi tantangan sampah. Mari kita selami lebih jauh praktik terbaik dari mereka:

1. Denmark

Advertisements

Denmark menjadi garda terdepan dalam inovasi pengelolaan sampah, di mana sekitar 3,5 juta ton limbah dibakar setiap tahunnya untuk menghasilkan energi. Sejak tahun 2001, biomassa (kayu dan sedotan) telah menjadi sumber energi terbarukan terbesar di negara tersebut, diikuti oleh limbah dan energi angin.

Komitmen Denmark terhadap energi terbarukan terlihat jelas dari pertumbuhan pesatnya. Pada tahun 1997, hanya 10% produksi listrik dan 20% pemanas distrik yang berasal dari sumber terbarukan. Angka ini melonjak signifikan pada tahun 2007, mencapai 30% untuk produksi listrik dan 40% untuk pemanas distrik, menunjukkan efektivitas strategi limbah menjadi energi mereka.

Salah satu fasilitas Waste-to-Energy (WtE) paling ikonik di Denmark adalah Amager Bakke, yang juga dikenal sebagai CopenHill Energy Plant. Berlokasi strategis di Amager, Kopenhagen, fasilitas ini bukan hanya sekadar pembangkit listrik tenaga limbah, melainkan juga sebuah area rekreasi inovatif bagi masyarakat sekitar. Dibuka pada tahun 2017 sebagai pengganti pabrik pembakaran lama, Amager Bakke adalah bagian krusial dari visi Kopenhagen untuk menjadi kota bebas karbon pada tahun 2025.

Dengan kemampuan menghasilkan 57 megawatt (MW) listrik dan output pemanasan distrik yang substansial, Amager Bakke telah berhasil mengonversi 440.000 ton limbah sampah setiap tahunnya menjadi pasokan listrik bagi sekitar 150.000 rumah. Ini membuktikan bahwa pengolahan sampah menjadi energi tidak hanya berkelanjutan, tetapi juga produktif.

2. Swedia

Swedia dikenal sebagai salah satu negara paling maju dalam praktik Waste-to-Energy (WtE). Pada tahun 2020, data dari Asosiasi Pengelolaan Limbah Swedia menunjukkan bahwa hampir 50% limbah rumah tangga di negara tersebut berhasil diubah menjadi energi, menegaskan komitmen mereka terhadap keberlanjutan.

Pusat inovasi ini salah satunya adalah SYSAV Plant di Malmö. Fasilitas ini mengoperasikan model kerja sama regional yang melayani berbagai kotamadya, tidak hanya efektif mengatasi persoalan sampah, tetapi juga berperan vital dalam menyediakan pemanasan distrik bagi wilayah sekitarnya. Ini adalah contoh nyata bagaimana WtE dapat terintegrasi dalam infrastruktur energi lokal.

Tidak hanya menghasilkan listrik, SYSAV juga memperluas fungsinya ke ranah ekonomi sirkular dengan melakukan pengomposan dan daur ulang logam. Ini berarti sampah tidak hanya diubah menjadi energi, tetapi juga menjadi pupuk dan bahan baku berharga bagi industri lain. Dengan kemampuan menyerap lebih dari 600.000 ton sampah setiap tahun, SYSAV berhasil mengubahnya menjadi energi listrik sebesar 1,5 Terra WattHour (TWH), menjadikan pengelolaan sampah sebagai sumber daya berharga.

3. Jerman

Berdampingan dengan Swedia, Jerman juga merupakan pionir di Eropa dalam proyek Waste-to-Energy (WtE). Sistem pengelolaan sampah termal yang canggih di negara ini memungkinkan sampah residu diubah menjadi energi panas dan listrik melalui proses insinerasi di sekitar 100 fasilitas khusus.

Kehadiran fasilitas pengelolaan sampah ini tidak hanya sekadar solusi limbah, tetapi juga turut menggerakkan ekonomi sirkular. Limbah yang tidak dapat didaur ulang diolah menjadi sumber energi terdistribusi, berkontribusi pada kemandirian energi lokal. Inisiatif ini menarik perhatian investor global dan melibatkan perusahaan-perusahaan besar seperti EEW dan RWE, yang melihat potensi signifikan dalam sektor investasi energi ini.

Hingga saat ini, Jerman memiliki sekitar 100 pabrik WtE dengan kapasitas tahunan yang impresif, mencapai 20 juta ton. Sebagai contoh, pabrik Stapelfeld mampu mengolah 1.080 ton sampah per hari dan menghasilkan output listrik sebesar 35 MW, menunjukkan skala dan efisiensi operasi pengolahan sampah menjadi energi di negara tersebut.

4. Belanda

Belanda menempatkan Waste-to-Energy (WtE) sebagai komponen integral dalam strategi ekonomi sirkular mereka. Melalui program ini, sampah yang tidak dapat didaur ulang diubah secara efisien menjadi energi dan bahan baku yang bernilai. Inisiatif WtE di Belanda telah terbukti berhasil mengurangi ketergantungan negara pada sumber daya fosil dan menjadi pilar penting dalam upaya mencapai target ambisius nol limbah pada tahun 2050. Ini dicapai melalui implementasi teknologi canggih seperti insinerasi terkontrol dan proses pemulihan material yang mutakhir.

Kunci utama keberhasilan Belanda dalam pengelolaan sampah terletak pada integrasi harmonis antara WtE dan daur ulang. Dalam hierarki pengelolaan limbah, WtE berperan sebagai langkah terakhir, setelah upaya pencegahan, penggunaan kembali, dan daur ulang material telah dimaksimalkan. Artinya, prioritas utama tetap pada mengurangi sampah di sumbernya dan memanfaatkan kembali apa yang bisa, baru kemudian WtE mengelola sisa-sisa yang benar-benar tidak dapat didaur ulang. Pendekatan berlapis ini memastikan bahwa setiap ton sampah dimanfaatkan secara optimal.

Advertisements