Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas, kini menjadi sorotan utama di Dewan Keamanan PBB. Dalam sebuah pertemuan darurat yang diselenggarakan pada Kamis (15/1), kedua negara saling melancarkan tudingan tajam perihal penanganan protes besar-besaran di Iran, yang dikabarkan telah merenggut ribuan nyawa.
Duta Besar AS untuk PBB, Mike Waltz, dengan tegas menyatakan bahwa Presiden Donald Trump membuka seluruh opsi untuk merespons tindakan keras aparat Iran terhadap demonstran. Perlu diketahui, gelombang protes di Iran telah berlangsung sejak bulan lalu, dengan jumlah korban tewas mencapai lebih dari 2.500 orang, sebuah angka yang mengkhawatirkan.
Awalnya, gelombang demonstrasi di Iran dipicu oleh kemarahan publik atas lonjakan harga yang signifikan dan memburuknya kondisi perekonomian. Namun, keresahan ini kemudian berkembang jauh melampaui isu-isu ekonomi, bertransformasi menjadi kritik dan penentangan terang-terangan terhadap rezim ulama yang telah berkuasa sejak Revolusi Islam 1979.
Untuk menguatkan argumennya di forum internasional, dalam sidang PBB tersebut, seperti dilansir dari AP News pada Jumat (16/1), AS juga mendatangkan dua pembangkang Iran, yaitu Masih Alinejad dan Ahmad Batebi. Keduanya membeberkan dugaan pelanggaran HAM berat rezim Teheran. Alinejad secara khusus mengungkap upaya pembunuhan terhadap dirinya di AS, sementara Batebi menceritakan penderitaan akibat penyiksaan yang dialaminya selama ditahan di Iran.
Di sisi lain, Wakil Duta Besar Iran untuk PBB Hossein Darzi melayangkan tudingan balik. Ia menuduh AS di bawah Trump terlibat langsung dalam memicu kerusuhan dan secara sengaja menggunakan isu kemanusiaan sebagai dalih untuk menciptakan destabilisasi politik di Iran, sekaligus membuka jalan bagi potensi intervensi militer.
Kekhawatiran atas potensi konflik terbuka juga bergema dari sejumlah negara Timur Tengah. Para pejabat dari Mesir, Oman, Arab Saudi, dan Qatar dilaporkan telah memperingatkan Gedung Putih bahwa aksi militer AS terhadap Iran berisiko serius mengguncang ekonomi global dan memperburuk instabilitas kawasan yang sudah rapuh.
Di tengah perdebatan sengit tersebut, Rusia menjadi satu-satunya anggota Dewan Keamanan PBB yang secara terang-terangan membela langkah Iran. Rusia juga menyerukan agar AS segera menghentikan segala bentuk campur tangan dalam urusan internal Iran.