Rusia, Ukraina, dan AS gelar pertemuan di Abu Dhabi, belum ada tanda perdamaian

Negosiator dari Rusia, Ukraina, dan Amerika Serikat dijadwalkan untuk bertemu di Uni Emirat Arab (UEA), menandai pertemuan pertama antara ketiga negara tersebut sejak Moskow melancarkan invasi skala penuh pada Februari 2022. Meskipun demikian, belum ada indikasi jelas dari kedua belah pihak yang bertikai—Rusia maupun Ukraina—mengenai potensi pelunakan posisi dalam sengketa yang sedang berlangsung.

Advertisements

Mengutip laporan BBC, Kremlin telah mengonfirmasi kehadiran pejabat Rusia dalam pembicaraan tersebut, menyusul pertemuan antara Presiden Vladimir Putin dan utusan AS di Moskow. Moskow memandang pembicaraan ini sebagai “bermanfaat dalam segala hal”, namun secara tegas menyatakan bahwa kesepakatan perdamaian jangka panjang mustahil dicapai sebelum sengketa teritorial diselesaikan.

Di sisi lain, Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, menyematkan harapan bahwa pembicaraan di Abu Dhabi ini akan menjadi langkah awal menuju pengakhiran konflik yang berkepanjangan. Ia memandang pertemuan ini sebagai “sebuah langkah—mudah-mudahan menuju pengakhiran perang—tetapi hal-hal yang berbeda dapat terjadi.”

Dalam pertemuan yang berlangsung pada Kamis malam, Presiden Putin didampingi dua ajudan Rusia, sementara delegasi AS diwakili oleh tiga tokoh penting, termasuk Steve Witkoff dan menantu Donald Trump, Jared Kushner. Yuri Ushakov, ajudan Kremlin, menggambarkan dialog tersebut sebagai “substantif, konstruktif, dan sangat jujur”. Namun, ia kembali menekankan bahwa perdamaian abadi tidak akan terwujud tanpa penyelesaian masalah teritorial. “Sampai hal ini tercapai, Rusia akan terus secara konsisten mengejar tujuan operasi militer khusus,” ujarnya. Ushakov juga mengungkapkan bahwa Putin menekankan Rusia “sangat tertarik” pada solusi diplomatik. Kendati demikian, ia menegaskan bahwa tanpa penyelesaian masalah teritorial sesuai “formula yang disepakati di Anchorage”—merujuk pada pertemuan puncak antara Trump dan Putin di Alaska pada tahun lalu—penyelesaian jangka panjang tidak akan tercapai.

Advertisements

Sebelumnya, tahun lalu, Witkoff pernah menyatakan bahwa Rusia telah menyetujui AS dan Eropa untuk memberikan jaminan keamanan kuat kepada Ukraina sebagai bagian dari potensi kesepakatan damai. Setelah bertemu dengan Trump di Davos, Zelensky juga menggarisbawahi bahwa status masa depan wilayah di Ukraina timur tetap menjadi poin krusial yang belum terselesaikan menjelang pembicaraan di Abu Dhabi. “Ini semua tentang tanah. Ini adalah masalah yang belum terselesaikan,” ujar Zelensky kepada para wartawan di Davos. Ia menegaskan bahwa Rusia juga harus menunjukkan kesediaan untuk berkompromi. “Masalah Donbas adalah kunci. Ini akan dibahas, begitu pula modalitas, bagaimana ketiga pihak melihatnya,” tambahnya.

Salah satu poin utama perselisihan teritorial adalah tuntutan Rusia agar Ukraina menyerahkan 25% wilayah Donetsk yang saat ini masih berada di bawah kendali Kyiv. Bulan lalu, Zelensky pernah mengungkapkan bahwa rencana AS beranggotakan 20 poin untuk mengakhiri perang sudah “90% siap”, sembari menegaskan perbedaan posisi Ukraina dengan Rusia terkait Donbas di Ukraina timur. Ia bahkan menawarkan penarikan pasukan hingga 40 km (25 mil) dari wilayah tersebut guna menciptakan zona ekonomi di Donbas, dengan syarat Rusia melakukan hal serupa. Adapun usulan Amerika Serikat untuk jantung industri Ukraina di Donbas adalah pembentukan zona ekonomi yang demiliterisasi dan bebas, sebagai imbalan atas jaminan keamanan bagi Kyiv. Dalam kesempatan di Davos, Zelensky juga menyatakan kepada wartawan bahwa ia telah mencapai kesepakatan dengan Donald Trump mengenai jaminan keamanan AS di masa depan untuk Ukraina, seandainya tercapai sebuah kesepakatan. Meski tidak merinci lebih lanjut, ia menyebutkan bahwa kesepakatan tersebut perlu diajukan ke Kongres AS dan parlemen Ukraina sebelum resmi ditandatangani.

Delegasi Ukraina dalam pembicaraan ini akan mencakup Kepala Dewan Keamanan dan Pertahanan Nasional Ukraina, Rustem Umerov, yang sebelumnya telah berdialog dengan pejabat AS di Davos, bersama Kyrylo Budanov (kepala kantor Zelensky) dan negosiator David Arakhamia. Mereka akan bergabung di UEA dengan Kepala Staf Umum, Andrii Hnatov. Sementara itu, delegasi Rusia di Abu Dhabi akan dipimpin oleh Jenderal Igor Kostyukov, Direktur Badan Intelijen Militer GRU Rusia. Selain itu, Utusan Investasi Kirill Dmitriev direncanakan akan mengadakan pertemuan terpisah dengan Witkoff untuk membahas aspek-aspek ekonomi.

Menyusul perkembangan diplomatik ini, semalam, baik Ukraina maupun Rusia sama-sama melaporkan adanya serangan pesawat tak berawak. Gubernur Oblast Penza, Oleg Melnichenko, melalui pesan di Telegram, mengumumkan bahwa serangan drone telah menyebabkan kebakaran di sebuah depot minyak di Penza, sebuah wilayah di tenggara Moskow. Sementara itu di Ukraina, Staf Umum Angkatan Bersenjata melaporkan terjadinya serangan udara yang melibatkan drone dan menghantam 12 lokasi berbeda semalam. Serangkaian serangan Rusia terhadap target infrastruktur vital belakangan ini telah menyebabkan jutaan warga Ukraina harus bertahan dalam suhu beku tanpa pasokan pemanas atau listrik.

Advertisements