
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan program revitalisasi PT Pupuk Indonesia melalui revamping pabrik lama dan pembangunan pabrik baru akan berdampak langsung pada penurunan harga pupuk hingga 20%.
Amran mengatakan revitalisasi dilakukan melalui sejumlah program strategis, antara lain revamping ammonia pabrik-2 Pupuk Kaltim yang hari ini diresmikan. Selanjutnya revitalisasi pusri 3B dengan target operasi 2026.
“Kita hitung, harga pupuk bisa turun cukup 20%. Volumenya juga bertambah 700 ribu ton, tanpa menambah APBN. Bonusnya adalah revitalisasi seperti hari ini. Tujuh pabrik sampai 2029,” kata Amran.
“Itulah dahsyatnya kebijakan,” katanya saat meresmikan revamping pabrik Pupuk Kaltim, di Bontang, Kamis (29/1).
Revitalisasi ini menargetkan penambahan lima pabrik baru sebelum 2029. Fasilitas NPK Nitrat PKC ditargetkan beroperasi di 2027, pembangunan Pabrik Soda Ash PKT (2028), pembangunan Pabrik NPK Phonska VI PKG (2028), pembangunan Pabrik Amurea PIM III (2030) dan pembangunan Kawasan Industri Pupuk Fakfak (2030)
Amran mengingatkan, selain harga dan volume, ketepatan waktu distribusi pupuk menjadi faktor krusial bagi produktivitas pertanian nasional. Ia menegaskan keterlambatan pupuk, meski hanya satu minggu, dapat berdampak besar bagi hasil panen petani.
“Kalau terlambat satu minggu, hati-hati ini PR berikutnya. Terlambat satu minggu pupuk, itu hilang satu tahun produksi,” ujarnya.
Ia mencontohkan pengalaman pada periode 2023–2024, ketika keterlambatan dan keterbatasan pasokan pupuk memaksa Indonesia melakukan impor dalam jumlah besar.
“Kalau 7,4 juta ton pupuk terlambat seperti tahun sebelumnya, akibatnya kita impor 7 juta ton, nilainya kurang lebih Rp100 triliun. Kalau terlambat, ruginya petani Indonesia Rp48 triliun,” ungkap Amran.
Namun demikian, ia mengapresiasi kinerja Pupuk Indonesia dan Pupuk Kaltim yang dinilai mampu meningkatkan produksi secara signifikan.