Nilai tukar rupiah menunjukkan performa positif pada perdagangan pagi ini, Selasa (17/3), dengan menguat 0,08% ke level 16.984 per dolar AS. Penguatan rupiah ini terjadi menjelang pengumuman suku bunga Bank Indonesia (BI), yang menjadi sorotan utama pasar.
Data Bloomberg mencatat, kurs rupiah sempat dibuka menguat signifikan sebesar 21 poin di posisi 16.976 per dolar AS. Namun, pergerakannya sedikit melandai, sehingga pada pukul 10.30 WIB, rupiah terpantau berada di level 16.984 per dolar AS, sedikit melemah dari posisi pembukaan namun tetap dalam tren penguatan.
Menurut Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, kebangkitan rupiah salah satunya dipicu oleh harapan akan penurunan harga minyak global. Harapan ini muncul seiring dengan kemungkinan Selat Hormuz dapat kembali dilewati dengan aman, menyusul seruan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kepada berbagai negara untuk membantu mengamankan jalur vital tersebut pasca-pemblokiran oleh Iran.
Namun, di tengah dinamika geopolitik tersebut, harga minyak acuan dunia justru menunjukkan kenaikan 2% pada awal perdagangan Selasa (17/3). Kenaikan ini mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap pasokan global, mengingat sebagian besar akses Selat Hormuz masih ditutup dan adanya penolakan dari sejumlah sekutu Amerika Serikat (AS) untuk mengirimkan kapal guna mengamankan jalur minyak vital tersebut.
Secara spesifik, harga minyak Brent melonjak US$ 2,48 atau 2,5%, mencapai US$ 102,69 per barel. Senada, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga naik US$ 2,42 atau 2,6%, diperdagangkan pada level US$ 95,92 per barel.
Kenaikan harga ini kontras dengan penutupan sesi perdagangan sebelumnya, di mana kedua jenis minyak acuan tersebut sempat mengalami penurunan harga berkisar 2-5%. Penurunan tersebut terjadi karena adanya informasi bahwa beberapa kapal tanker berhasil melewati Selat Hormuz, meredakan kekhawatiran pasokan sesaat.
Fokus pasar domestik kini beralih pada pengumuman suku bunga acuan Bank Indonesia (BI-Rate) yang dijadwalkan hari ini setelah Rapat Dewan Gubernur (RDG). Saat ini, BI-Rate berada di level 4,75%. Mayoritas ekonom memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga acuan pada level 4,75%.
Prediksi ini didasari oleh pertimbangan masih kuatnya tekanan eksternal yang terus membayangi dan berpotensi memicu pelemahan rupiah. Stabilitas nilai tukar menjadi prioritas di tengah ketidakpastian global.
“Tekanan eksternal masih cukup kuat, sehingga daya tarik aset rupiah perlu tetap dipertahankan,” jelas Kepala Ekonom BCA, David Sumual, seperti dikutip dari Antara. Lebih lanjut, Sumual menekankan bahwa stabilitas nilai tukar rupiah akan sangat bergantung pada seberapa cepat konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran mereda, serta prospek sovereign rating Indonesia di masa mendatang.
Sementara itu, Department Head of Macroeconomic and Financial Market Research Permata Bank, Faisal Rachman, menyoroti dampak konflik geopolitik yang berkepanjangan. Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi memicu lonjakan harga minyak global dan inflasi global.
Rachman juga mengungkapkan bahwa pasar telah merevisi prospek pemotongan suku bunga The Fed. Kini, pemotongan diperkirakan hanya akan terjadi satu kali pada tahun ini, kemungkinan besar pada Desember 2026. Ini berarti, ruang bagi BI untuk memangkas BI-Rate akan semakin terbatas. Dalam jangka pendek, BI-Rate lebih cenderung difungsikan sebagai instrumen untuk menjaga stabilitas pasar.
“Jika Fed melakukan pemotongan suku bunga (rate cut) sekali saja tahun ini, ada kemungkinan BI-Rate juga hanya akan mengalami satu kali pemotongan,” papar Faisal.
Namun, skenario dapat berubah jika tensi geopolitik terus memanas dan berkepanjangan, ditambah dengan harga minyak yang bertahan di atas US$100 per barel. Dalam kondisi seperti ini, bukan hanya pemotongan suku bunga yang tidak terjadi, bahkan ada kemungkinan Bank Indonesia akan beralih ke sikap yang lebih hawkish, yakni menaikkan suku bunga acuan.
Di sisi lain, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M Rizal Taufikurahman, tetap optimistis terhadap peluang penguatan rupiah. Namun, ia memperingatkan bahwa dalam jangka pendek, rupiah masih akan dibayangi oleh faktor eksternal yang kuat dan dinamis.
Rizal menambahkan, penguatan rupiah yang lebih solid, disertai dengan masuknya kembali arus modal asing, hanya akan terwujud jika stabilitas global membaik secara signifikan. Selain itu, fundamental domestik, terutama kondisi fiskal, tingkat inflasi, dan kredibilitas kebijakan pemerintah, harus tetap terjaga dengan baik untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan rupiah.