
Harga saham emiten sarang burung walet PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO) tak bergeming sedikit pun dan masih menikmati kenaikan 5,078% di tengah gonjang-ganjing pasar modal. Padahal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kini sudah menjauh dari level tertinggi 9.134 yang dicapai pada 20 Januari lalu.
Apalagi, Bursa Efek Indonesia (BEI) juga sempat menghentikan perdagangan saham atau trading halt kala IHSG rontok 8% ke level 7.654 hari ini, Kamis (29/1) pukul 09.26 WIB. Ini menjadi trading halt kedua yang dilakukan bursa pada 2026 dalam tempo dua hari saja. Penghentian pertama berlangsung pada perdagangan kemarin, Rabu (28/1) pukul 13.43 WIB.
Tidak adanya dampak pelemahan IHSG terhadap harga saham RLCO lantaran emiten sarang burung walet itu tengah disuspensi BEI sejak Rabu (21/1) pekan lalu. Sebelum itu, saham RLCO telah melonjak hingga 5.078% dan kini bertengger di Rp 8.700 dengan kapitalisasi pasarnya melonjak hingga Rp 27,19 triliun.
Seperti diketahui, RLCO baru mencatatkan saham perdananya alias IPO pada 8 Desember 2025 lalu. Sejak melantai di bursa, saham ini bahkan belum pernah bertengger di zona merah.
Baca juga:
- Luhut Temui Airlangga, Bahas Pengembangan Govtech
- Calon BUMN, Perminas Berdiri Sejak November 2025 dan 99% Saham Milik Danantara
- Profil Perminas, BUMN Baru yang Digadang Danantara Kelola Tambang Emas Martabe
Baru-baru ini, Bursa Efek Indonesia (BEI) mengumumkan akan membuka kembali perdagangan saham RLCO mulai besok, Jumat (30/1).
“Berdasarkan penilaian bursa, maka dengan ini diumumkan bahwa suspensi atas perdagangan saham PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO) di Pasar Reguler dan Pasar Tunai dibuka kembali mulai sesi I 30 Januari 2026,” tulis otoritas BEI, Kamis (29/1).
Harga Saham Terus Melesat sejak IPO Bulan lalu
RLCO resmi mencatatkan saham perdana di BEI pada 8 Desember 2025. Perusahaan ini menjadi emiten ke-25 yang melantai di bursa pada tahun lalu dengan menunjuk PT Samuel Sekuritas Indonesia sebagai penjamin dan pelaksana emisi efek perseroan.
Pada debutnya, harga saham RLCO dibuka meroket 34,52% ke level Rp 226, langsung menembus batas harga tertinggi perdagangan harian atau auto rejection atas (ARA). Volume saham yang diperdagangkan kala itu tercatat 60,60 ribu dengan nilai transaksi Rp 13,70 juta. Sementara frekuensi perdagangannya tercatat sebanyak 507 kali. Kapitalisasi pasarnya pun melesat setelah itu mencapai Rp 706,25 miliar.
Pada gelaran IPO, RLCO juga mencatatkan kelebihan permintaan atau oversubscribed hingga 948,25 kali. RLCO menawarkan saham di batas tertinggi yakni Rp 168 dalam rentang harga Rp 150–168 per saham.
Perseroan itu melepas 625 juta saham atau 20% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO. Dari situ, perusahaan berhasil menghimpun dana segar sekitar Rp 105 miliar pada akhir tahun lalu.
Direktur Utama Abadi Lestari Indonesia, Edwin Pranata, mengklaim langkah IPO perusahaannya sebagai tonggak penting dalam transformasi perusahaan dari pemain komoditas menjadi pelaku industri bernilai tambah.
Ia menyebut, dana yang diraup dari hasil IPO akan digunakan untuk memperkuat rantai pasok dan meningkatkan kapasitas produksi baik perusahaan maupun entitas anak. Dengan ambisi mengubah perusahaan lokal menjadi perusahaan global, RLCO menurut Edwin akan terus memperluas kehadiran produknya ke Cina, Hong Kong, Amerika Serikat, dan ke negara-negara Asia lainnya seperti Vietnam dan Thailand.
“Kami bangga sebagai perusahaan yang lahir dari Bojonegoro dan kini membawa produk bernilai tambah Indonesia ke berbagai pasar global,” kata Edwin dalam keterangan resminya, Senin (8/12).