
Babaumma – JAKARTA — Prospek reformasi integritas pasar modal Indonesia yang tengah digagas Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjadi sentimen makro pendorong utama pergerakan pasar saham domestik pada awal Februari 2026. Inisiatif strategis ini diharapkan dapat memperkuat fondasi pasar keuangan.
Dalam upaya ambisiusnya, OJK, bersinergi dengan Pemerintah dan para pemangku kepentingan terkait, telah merumuskan delapan rencana aksi komprehensif. Langkah-langkah ini dirancang untuk mengakselerasi reformasi pasar modal secara menyeluruh, dengan fokus pada peningkatan likuiditas, penguatan transparansi, dan pemeliharaan kepercayaan investor, yang pada akhirnya diharapkan dapat meningkatkan kredibilitas pasar keuangan domestik di tengah dinamika global.
Sejalan dengan sentimen positif dari reformasi OJK tersebut, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan akan menampilkan sinyal teknikal yang konstruktif pada perdagangan hari ini, Senin (2/2/2026). Optimisme ini mengindikasikan potensi penguatan di tengah kondisi pasar yang dinamis.
Tim Analis OCBC Sekuritas mengamati bahwa IHSG saat ini berada dalam tren bullish, sebuah indikasi kuat yang didukung oleh terbentuknya pola white candle disertai peningkatan signifikan pada volume perdagangan. “Secara teknikal, indeks diproyeksikan memiliki peluang kenaikan lanjutan, dengan level resistansi krusial di area 8.430 dan level support di kisaran 8.200,” demikian kutipan dari laporan Market Snap Morning OCBC Sekuritas pada Senin (2/2/2026).
Dalam analisisnya, OCBC Sekuritas turut menyoroti beberapa saham pilihan yang menarik perhatian pada perdagangan hari ini. Salah satunya adalah PT RMK Energy Tbk. (RMKE), yang baru saja mengumumkan rencana pembelian kembali saham (share buyback) dengan alokasi dana hingga Rp200 miliar. Kebijakan buyback ini diinterpretasikan sebagai sinyal kuat kepercayaan manajemen terhadap prospek fundamental perusahaan di masa depan, sekaligus merupakan langkah strategis untuk menjaga stabilitas harga saham di pasar.
Selain itu, perhatian juga tertuju pada saham PT Bumi Serpong Damai Tbk. (BSDE), yang berhasil mencatatkan kinerja positif luar biasa. Penjualan pemasaran (marketing sales) emiten properti ini sukses melampaui target yang ditetapkan untuk setahun penuh, sebuah pencapaian yang menandakan permintaan properti yang tetap solid, bahkan di tengah tantangan suku bunga dan dinamika daya beli konsumen.
Tak hanya itu, OCBC Sekuritas juga secara spesifik mencermati sejumlah saham yang menawarkan peluang perdagangan bersifat speculative buy, berdasarkan analisis teknikal terkini. Berikut adalah rekomendasi saham speculative buy dari OCBC Sekuritas beserta level pentingnya:
1. PT Mitra Adiperkasa Tbk. (MAPA): Saham ini berpotensi melanjutkan kenaikan, didukung oleh terbentuknya white candle dan peningkatan volume. Level resistance berada di 710, support di 670, dengan area entry optimal antara 680–690.
2. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI): BMRI dinilai berpeluang untuk melanjutkan penguatan. Indikasi ini terlihat dari terbentuknya pola white candle dan peningkatan volume transaksi. Level resistance-nya 4.850, support 4.620, dan area entry yang direkomendasikan adalah 4.740–4.780.
3. PT Samudera Indonesia Tbk. (SMDR): Saham ini berpotensi mengalami koreksi jangka pendek sebelum melanjutkan tren naik, didukung oleh pola white hanging man candle dan peningkatan volume. Dengan resistance 385 dan support 355, area entry yang diperhatikan adalah 365–375.
4. PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk. (HMSP): HMSP menunjukkan potensi kenaikan lanjutan, diperkuat oleh terbentuknya long white candle dan volume perdagangan yang meningkat. Level resistance 830, support 750, dan disarankan untuk entry di kisaran 800–810.
5. PT Elnusa Tbk. (ELSA): ELSA juga diproyeksikan memiliki potensi kenaikan lanjutan, didukung oleh terbentuknya white candle dengan volume yang meningkat. Resistance-nya 695, support 640, dengan area entry di 665–675.
Di samping rekomendasi tersebut, tim analis OCBC Sekuritas juga memantau aktivitas investor di pasar. Tercatat, saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) membukukan arus dana masuk (inflow) terbesar dengan nilai mencapai Rp177,6 miliar, diikuti oleh PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) dan PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN). Sebaliknya, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) menjadi emiten dengan arus dana keluar (outflow) terbesar, mencapai Rp277,4 miliar.
Disclaimer: Artikel ini disajikan semata-mata sebagai informasi dan tidak dimaksudkan untuk mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca. Penulis dan penerbit tidak bertanggung jawab atas segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi yang diambil pembaca.