Babaumma – , JAKARTA – Pergerakan harga buyback emas Antam menunjukkan dinamika menarik pada hari Kamis (5/2/2026). Berdasarkan data terbaru dari Logam Mulia, harga buyback emas Antam tercatat turun Rp17.000, kini berada di level Rp2.720.000 per gram. Posisi ini menempatkannya cukup jauh dari rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) yang sempat tercapai di angka Rp2.989.000 pada Januari 2026.
Namun, penurunan harian ini tidak mencerminkan performa emas Antam sepanjang tahun berjalan. Pasalnya, harga buyback emas Antam justru tercatat telah mengalami kenaikan impresif sebesar 15,25% untuk periode 2026, menandakan potensi keuntungan bagi para investor yang telah memegang logam mulia ini.
Sebagai informasi penting bagi para pemilik emas, harga buyback merupakan patokan harga pembelian kembali yang ditetapkan oleh PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) untuk setiap gram emas batangan mereka. Mekanisme ini memberikan opsi bagi investor untuk merealisasikan keuntungan dari investasi emas mereka.
Secara umum, transaksi buyback emas mengacu pada aktivitas menjual kembali emas yang dimiliki, baik itu berupa logam mulia murni, emas batangan, atau bahkan perhiasan. Dalam kebanyakan kasus, harga yang ditawarkan untuk buyback cenderung sedikit lebih rendah dibandingkan harga jual emas di pasaran pada waktu yang bersamaan.
Meskipun demikian, peluang keuntungan dari buyback emas tetap terbuka lebar, terutama jika terjadi selisih yang signifikan antara harga jual awal Anda dan harga buyback yang berlaku. Kondisi ini sering kali menjadi daya tarik bagi investor yang ingin mengambil untung dari fluktuasi harga emas.
Penting untuk diingat bahwa sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No 34/PMK.10/2017, setiap transaksi penjualan kembali emas batangan kepada Antam dengan nominal di atas Rp10 juta akan dikenakan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22. Besarannya adalah 1,5 persen bagi pemegang Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan 3 persen untuk yang tidak memiliki NPWP. Perlu diketahui, PPh 22 ini akan langsung dipotong dari total nilai buyback yang diterima.
Pergerakan harga buyback emas Antam sendiri sangat erat kaitannya dengan dinamika mahar logam mulia di pasar global. Volatilitas harga di kancah internasional secara langsung memengaruhi nilai pembelian kembali emas di tingkat domestik.
Dilansir dari laporan sebelumnya oleh Bisnis, harga emas spot menunjukkan sinyal pemulihan, melonjak hingga 1,2% pada sesi perdagangan awal. Kenaikan ini terjadi setelah harga emas berhasil memulihkan sebagian kerugian yang dialami selama dua sesi sebelumnya, menyusul koreksi tajam. Secara lebih rinci, harga emas di pasar spot berhasil menguat 1,2% hingga mencapai level US$5.022,61 per ounce pada pukul 7.50 pagi waktu Singapura. Tidak hanya emas, harga perak juga turut bersinar, melonjak 2,3% menjadi US$90,20 per ounce.
Meskipun demikian, pada penutupan perdagangan hari Rabu sebelumnya, kedua logam mulia ini tercatat masih berada 11% di bawah level tertinggi sepanjang masa yang pernah dicapai pada 29 Januari 2026. Namun, perlu dicatat bahwa secara tahun berjalan, harga emas dan perak masih menunjukkan kenaikan yang substansial, yakni sekitar 15%. Secara spesifik, harga perak juga berhasil mempertahankan posisinya di atas US$90 per ounce.
Lonjakan harga logam mulia yang signifikan pada bulan lalu didorong oleh kombinasi berbagai faktor, termasuk momentum spekulatif yang kuat, gejolak geopolitik global yang meningkat, serta kekhawatiran yang melingkupi independensi bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve. Namun, euforia lonjakan tersebut sempat terhenti secara mendadak pada akhir pekan sebelumnya. Hal ini ditandai dengan harga perak yang mengalami penurunan harian terbesar sepanjang masa pada hari Jumat, sementara harga emas anjlok dengan tingkat keparahan yang belum terlihat sejak tahun 2013.
Kendati demikian, optimisme tetap membayangi pasar. Banyak investor dan analis senior meyakini bahwa fundamental yang menjadi pendorong utama kenaikan harga emas batangan menuju rekor tertinggi masih tetap solid. Sebagai contoh, Fidelity Fund, yang sempat menjual sebagian besar kepemilikan emasnya sesaat sebelum penurunan, kini tengah aktif mengamati peluang untuk kembali melakukan pembelian, demikian disampaikan oleh manajer portofolio George Efstathopoulos kepada Bloomberg News.
Sentimen positif ini juga diamini oleh sejumlah bank investasi global terkemuka. Deutsche Bank AG, misalnya, pada hari Senin menyatakan tetap mempertahankan perkiraan ambisius mereka bahwa harga emas batangan berpotensi melonjak hingga US$6.000 per ounce. Senada, Goldman Sachs Group Inc. dalam catatannya mengindikasikan adanya risiko kenaikan yang signifikan terhadap perkiraan harga emas akhir tahun mereka yang dipatok di level US$5.400.
Di tengah dinamika pasar ini, para pedagang kini mengalihkan fokus perhatian mereka ke arah kebijakan yang akan diambil oleh Kevin Warsh. Ia merupakan sosok yang dinominasikan oleh Presiden AS Donald Trump untuk menduduki jabatan ketua Federal Reserve berikutnya, sebuah posisi yang sangat strategis dalam menentukan arah ekonomi global. Presiden Trump sendiri, pada hari Rabu, secara tegas menyatakan bahwa ia tidak akan menominasikan Warsh apabila calon tersebut mengindikasikan keinginan untuk menaikkan suku bunga. Kebijakan suku bunga yang lebih rendah memang kerap menjadi pendorong utama bagi harga logam mulia, mengingat instrumen investasi ini tidak memberikan imbal hasil berupa bunga.