Usai Moody’s pangkas outlook kredit RI, rupiah melemah pagi ini

Pada perdagangan Jumat (6/2) pagi, nilai tukar rupiah terpantau melemah signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Berdasarkan data Bloomberg, mata uang Garuda anjlok ke level 16.886 per dolar AS, mencatatkan pelemahan 44,50 poin atau 0,20% pada pukul 09.35 WIB. Situasi ini langsung menarik perhatian investor dan pelaku pasar keuangan.

Advertisements

Pelemahan rupiah ini bukan tanpa sebab. Senior Economist KB Valbury Sekuritas, Fikri C. Permana, menyoroti bahwa sejumlah faktor, baik dari domestik maupun internasional, menjadi pemicu utama gejolak ini. Padahal, sebelumnya Fikri sempat memprediksi adanya potensi apresiasi rupiah, mencapai level Rp 16.820 per dolar AS, namun realitas pasar berkata lain.

Salah satu faktor domestik yang paling menonjol adalah keputusan lembaga pemeringkat kredit terkemuka, Moody’s Ratings. Fikri menjelaskan, perubahan outlook sovereign rating Indonesia dari sebelumnya stabil menjadi negatif telah memberikan sentimen negatif yang signifikan terhadap kepercayaan pasar dan berpotensi memengaruhi arus investasi asing.

Selain itu, sentimen global turut membebani rupiah. Meningkatnya ekspektasi pasar akan potensi penurunan fed rate oleh bank sentral AS, Federal Reserve, juga menjadi penyebab. Ekspektasi ini semakin diperkuat oleh data tenaga kerja AS yang kurang menggembirakan, termasuk angka weekly initial jobless claims yang menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja yang lebih lemah dari perkiraan.

Advertisements

Dampak dari sentimen negatif ini tidak hanya terbatas pada nilai tukar rupiah, melainkan juga merembet ke pasar saham domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turut merasakan tekanan, dibuka melemah tajam hingga 2,29% dan sempat menyentuh level 7.918 pada perdagangan hari ini, menandai awal hari yang sulit bagi bursa efek.

Pada perdagangan IHSG, tercatat volume perdagangan sebesar 1,87 miliar saham dengan nilai transaksi mencapai Rp 1,01 triliun, sementara kapitalisasi pasarnya berada di angka Rp 14.311 triliun. Penurunan IHSG ini secara langsung diakibatkan oleh pengumuman Moody’s Ratings yang mengubah outlook peringkat utang Pemerintah Indonesia menjadi negatif, sebuah perubahan krusial dari posisi stabil sebelumnya yang mengejutkan pasar.

Melengkapi gambaran pelemahan pasar, indeks bergengsi LQ45 juga ikut terperosok, anjlok sebesar 2,02%. Hampir seluruh sektor saham di bursa efek tak luput dari tekanan jual. Sektor teknologi memimpin penurunan dengan tergelincir 3,77%, diikuti oleh energi 2,56%, dan infrastruktur 2,72%, menunjukkan tekanan yang merata di sektor-sektor utama.

Selanjutnya, sektor bahan baku melemah 3,02%, transportasi 1,61%, dan kesehatan 0,66%. Sementara itu, sektor industri juga merosot 2,06%, finansial 1,10%, konsumer siklikal sebesar 2,90%, properti 1,44%, serta nonsiklikal turun 1,13%. Kondisi ini secara gamblang menunjukkan sentimen negatif yang merata di seluruh lini pasar keuangan Indonesia pada perdagangan hari itu, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap prospek ekonomi di tengah sentimen domestik dan global.

Advertisements