
Meskipun lembaga pemeringkat global Moody’s Investors Service (Moody’s) baru-baru ini merevisi outlook kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif, dengan tetap mempertahankan peringkat Baa2, Bank Indonesia (BI) menegaskan bahwa fundamental sistem keuangan Indonesia tetap sangat kuat dan kokoh. Pernyataan ini disampaikan sebagai respons terhadap penyesuaian pandangan Moody’s, menekankan resiliensi ekonomi dan keuangan nasional di tengah dinamika global.
Direktur Departemen Kebijakan Makroprudensial BI, Alexander Lubis, dalam acara Editor Briefing BI di Pontianak, Kalimantan Barat, Jumat (6/2), menjelaskan bahwa kekhawatiran Moody’s sebagian besar berpusat pada aspek penerimaan negara dan beberapa faktor lainnya. Namun, dari sudut pandang Stabilitas Sistem Keuangan (SSK), BI meyakini bahwa pondasi keuangan Indonesia tetap dalam kondisi yang prima, memberikan landasan yang kuat bagi pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Alexander Lubis lebih lanjut menyoroti bahwa pertumbuhan kredit perbankan saat ini masih berada di bawah level optimalnya. Situasi ini justru menandakan adanya ruang ekspansi yang luas dan potensi besar bagi sektor perbankan untuk meningkatkan penyaluran kreditnya di masa mendatang, mendukung aktivitas ekonomi riil secara lebih maksimal.
Data terkini menunjukkan, sepanjang tahun 2025, kredit perbankan tercatat tumbuh signifikan sebesar 9,69 persen secara tahunan (yoy), angka yang berada dalam rentang target BI yaitu 8-11 persen (yoy). Untuk tahun ini, bank sentral bahkan menetapkan target yang lebih ambisius, memproyeksikan pertumbuhan kredit akan mencapai 8-12 persen (yoy), merefleksikan optimisme terhadap pemulihan dan geliat ekonomi.
Guna mencapai target yang telah ditetapkan, Alexander mengungkapkan bahwa Bank Indonesia telah menjalin kerja sama erat dengan pemerintah. Berbagai program strategis pemerintah, mulai dari inisiatif seperti “Makan Bergizi Gratis” hingga program-program yang berfokus pada hilirisasi pangan dan pemanfaatan Sumber Daya Alam (SDA), diyakini akan menjadi katalisator ampuh dalam mendorong akselerasi pertumbuhan kredit. “Kami terus mendalami berbagai peluang dan membantu agar pembiayaan dapat tumbuh lebih cepat, khususnya melalui hilirisasi pangan dan SDA,” jelas Alexander. “Langkah-langkah ini akan terus kami formulasikan dan sinergikan dengan kementerian/lembaga terkait. Inilah mengapa outlook pertumbuhan kredit 8-12 persen tetap realistis, karena semua variabel indikatornya masih mendukung angka tersebut.”
Pernyataan optimis ini sejalan dengan pandangan Gubernur BI Perry Warjiyo sebelumnya. Perry Warjiyo menegaskan bahwa penyesuaian outlook kredit oleh Moody’s sama sekali tidak mencerminkan adanya pelemahan fundamental dalam perekonomian Indonesia. Sebaliknya, di tengah gejolak dan ketidakpastian yang tinggi di kancah global, kinerja ekonomi domestik justru menunjukkan ketahanan dan soliditas yang luar biasa.
Sebagai bukti nyata, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan IV 2025 berhasil mencapai 5,39 persen, membawa pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun 2025 secara keseluruhan menjadi 5,11 persen. Selain itu, tingkat inflasi tetap terkendali pada angka 2,92 persen, berada dalam kisaran sasaran yang ditetapkan. Stabilitas nilai tukar rupiah pun terus diperkuat berkat komitmen kuat dan langkah-langkah strategis yang diambil oleh Bank Indonesia.
Gubernur Perry Warjiyo lebih lanjut menambahkan, “Stabilitas sistem keuangan juga tetap terjaga dengan baik, didukung oleh likuiditas yang memadai, permodalan perbankan yang senantiasa berada pada level tinggi, serta tingkat risiko kredit yang rendah.” Ia juga menekankan bahwa kemajuan digitalisasi sistem pembayaran, yang ditopang oleh infrastruktur yang stabil dan struktur industri yang sehat, secara signifikan turut berkontribusi dalam mendukung laju pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pernyataan ini dikutip dari keterangan resmi BI pada Jumat (6/2), menegaskan kembali posisi kuat ekonomi Indonesia di hadapan tantangan global.