Moody’s Ratings baru-baru ini merevisi outlook atau prospek peringkat emiten BUMN PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) atau PGN menjadi negatif, dari sebelumnya stabil. Keputusan ini diumumkan pada Jumat (6/2), meskipun lembaga pemeringkat internasional tersebut tetap mempertahankan peringkat Baa2 dan penilaian kredit dasar (baseline credit assessment/BCA) Baa2 untuk PGN.
Perubahan outlook terhadap PGN ini tidak terlepas dari langkah Moody’s yang sebelumnya menegaskan peringkat penerbit Pemerintah Indonesia di level Baa2, namun merevisi outlook peringkat utang RI menjadi negatif dari stabil pada Kamis (5/2) lalu. Kondisi ini menunjukkan adanya korelasi erat antara peringkat entitas BUMN dengan prospek kredit negara.
Menurut Moody’s, peringkat Baa2 PGN secara fundamental didasarkan pada kinerja bisnis entitas tersebut secara mandiri. Namun, mengingat mayoritas saham PGN dimiliki oleh negara dan operasional bisnisnya sangat berfokus di pasar domestik, peringkat PGN sangat rentan terhadap perubahan dalam peringkat kredit pemerintah Indonesia.
Di sisi lain, Moody’s menilai bahwa penilaian kredit dasar PGN tetap kuat. Hal ini mencerminkan proyeksi kondisi keuangan perseroan yang diperkirakan akan tetap solid dalam dua hingga tiga tahun ke depan. Posisi PGN sebagai pemain dominan dan terbesar dalam bisnis transmisi dan distribusi gas di Indonesia menjadi penopang utama kekuatan ini. Selain itu, outlook ekonomi domestik yang prospektif serta keterikatan kuat dengan pemerintah turut memperkuat penilaian tersebut.
Analisis Moody’s juga menyoroti perbaikan berkelanjutan dalam kondisi keuangan PGN selama beberapa tahun terakhir. Rasio arus kas terhadap utang menunjukkan peningkatan signifikan, dari 39% pada tahun 2023 menjadi 43% pada proyeksi tahun 2024. Bahkan, hingga 30 September 2025, rasio ini diperkirakan tetap berada di level yang sehat, yaitu 42%.
Bisnis inti PGN di sektor transmisi dan distribusi gas diperkirakan akan terus menjadi pilar utama penopang kinerja operasional perusahaan. Moody’s meyakini bahwa metrik keuangan PGN akan tetap kokoh, didukung oleh praktik pengelolaan utang yang prudent dan cadangan kas yang substansial.
Meskipun demikian, PGN juga dihadapkan pada sejumlah potensi tantangan. Beberapa di antaranya adalah penurunan alami produksi pada blok gas utama serta kemungkinan perpanjangan kebijakan batas harga gas yang dapat mempengaruhi margin profitabilitas perusahaan.
Lebih lanjut, Moody’s mengindikasikan bahwa dalam tiga hingga empat tahun ke depan, PGN berencana untuk mengalokasikan belanja modal (capex) yang signifikan. Investasi ini ditujukan untuk mengembangkan bisnis transmisi dan distribusi gas, serta memperluas kapasitas LNG guna mengamankan pasokan energi nasional. Risiko pelaksanaan investasi jumbo ini dinilai relatif terkendali, mengingat PGN memiliki rekam jejak dan pengalaman yang kuat dalam menjalankan proyek-proyek strategis.
Moody’s juga melihat adanya kemungkinan dukungan pemerintah yang tinggi bagi PGN jika sewaktu-waktu diperlukan. Namun, peringkat PGN tidak dinaikkan karena faktor ini, sebab kekuatan kredit mandiri perusahaan dinilai telah setara dengan peringkat kredit pemerintah.
Sebaliknya, Moody’s menyatakan bahwa peringkat dan BCA PGN berpotensi diturunkan apabila peringkat sovereign Indonesia juga mengalami penurunan. Selain itu, BCA juga dapat diturunkan jika kualitas kredit mandiri PGN melemah, ditandai dengan rasio arus kas terhadap utang (RCF/utang) yang secara berkelanjutan berada di bawah 28%.
Sebagai konteks, Moody’s sebelumnya telah mengemukakan adanya peningkatan risiko terhadap kepercayaan pasar terkait arah dan konsistensi kebijakan pemerintah. Mereka mencatat bahwa kebijakan pemerintah semakin sulit diprediksi dan kurang selaras dalam proses pengambilan keputusan maupun komunikasinya.
Jika tren ini terus berlanjut, dikhawatirkan dapat mengikis kepercayaan terhadap kebijakan yang selama ini telah berperan dalam menjaga pertumbuhan ekonomi serta stabilitas fiskal dan keuangan Indonesia.
Kendati demikian, peringkat kredit pemerintah Indonesia masih ditopang oleh fundamental ekonomi yang kuat dan ketahanan yang terbukti. Faktor-faktor struktural seperti sumber daya alam yang melimpah dan demografi yang mendukung tetap menjadi kekuatan utama bagi prospek kredit negara.