Pada pagi hari ini, Jumat (13/2), kabar baik datang dari sejumlah wilayah di Indonesia, termasuk kota besar seperti Bandung dan Jakarta, yang melaporkan kualitas udara sehat. Berdasarkan pantauan situs IQAir pada pukul 07.20 WIB, nilai Indeks Kualitas Udara (AQI) di area-area tersebut tidak melampaui angka 50, menempatkannya dalam kategori baik.
Dengan kualitas udara yang tergolong baik ini, masyarakat diimbau untuk tidak ragu beraktivitas di luar ruangan. “Ini adalah waktu yang ideal untuk melakukan aktivitas di luar ruangan dengan sedikit atau tanpa risiko yang ditimbulkan oleh udara yang dihirup,” demikian pernyataan dari IQAir yang dikutip pagi ini, menandakan kondisi optimal untuk menikmati udara segar tanpa kekhawatiran berlebih.
Selain Bandung dan Jakarta, beberapa wilayah lain di Indonesia juga mencatat kualitas udara terbaik pada pagi hari ini. Berikut adalah daftar kota dengan nilai AQI yang masuk kategori sehat:
- Bandung, Jawa Barat, dengan poin AQI 39 atau dalam kategori baik
- Palangkaraya, Kalimantan Tengah, dengan poin AQI 39 atau dalam kategori baik
- Badung, Bali, dengan poin AQI 44 atau dalam kategori baik
- Jakarta, dengan poin AQI 50 atau dalam kategori baik
- Bogor, Jawa Barat, dengan poin AQI 51 atau dalam kategori sedang
Namun, tidak semua wilayah seberuntung itu. Di sisi lain, Kota Pontianak di Kalimantan Barat justru tercatat memiliki kualitas udara terburuk di Indonesia pagi ini. Dengan poin AQI mencapai 152, kondisi udara Pontianak tergolong tidak sehat, yang mengindikasikan adanya potensi risiko kesehatan.
Pada kondisi kualitas udara yang tidak sehat, masyarakat umum, terutama kelompok sensitif seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit jantung dan paru-paru, sangat rentan mengalami efek kesehatan yang merugikan. IQAir pun menegaskan, “Ketika kualitas udara dikategorikan tidak sehat, masyarakat umum, terutama kelompok yang sensitif, mungkin mulai mengalami efek kesehatan.” Oleh karena itu, IQAir menyarankan untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan dalam kondisi tersebut. Selain itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga kerap mengimbau masyarakat untuk menggunakan masker, khususnya jika berada di lokasi dengan tingkat pencemaran udara tinggi demi menjaga kesehatan.
Dalam skala global, beberapa kota besar menghadapi tantangan polusi udara yang jauh lebih serius. Lahore, Pakistan, mencatat kualitas udara terburuk dengan AQI 219, masuk kategori sangat tidak sehat. Menyusul di antaranya:
- Lahore, Pakistan, dengan poin AQI 219 atau dalam kategori sangat tidak sehat
- Dhaka, Bangladesh, dengan poin AQI 215 atau dalam kategori sangat tidak sehat
- Delhi, India, dengan poin AQI 196 atau dalam kategori tidak sehat
- Karachi, Pakistan, dengan poin AQI 185 atau dalam kategori tidak sehat
- Ulaanbaatar, Mongolia, dengan poin AQI 172 atau dalam kategori tidak sehat
Berbanding terbalik dengan kondisi tersebut, Kota Krasnoyarsk di Rusia dan Kota Bern di Swiss justru menunjukkan capaian luar biasa dengan kualitas udara paling sehat di dunia, keduanya mencatat poin AQI 0. Posisi selanjutnya dihuni oleh Auckland di Selandia Baru dengan poin AQI 3, serta Copenhagen di Denmark dengan poin AQI 9.
Perlu diketahui bahwa Indeks Kualitas Udara (AQI) merupakan standar pengukuran yang menunjukkan konsentrasi polutan udara, yang secara langsung merepresentasikan kategori kualitas udara. Rumus indeks ini umumnya mempertimbangkan enam polutan utama, yaitu partikulat halus (PM2.5), partikulat kasar (PM10), karbon monoksida, sulfur dioksida, nitrogen dioksida, dan ozon permukaan tanah. Pemahaman tentang kategori AQI sangat penting untuk menilai risiko kesehatan:
- Kategori baik memiliki rentang skor AQI 0-50.
- Kategori sedang memiliki rentang skor 51-100.
- Kategori tidak sehat untuk kelompok sensitif berada pada rentang skor 101-150.
- Kategori tidak sehat memiliki rentang skor AQI 151-200.
- Kategori sangat tidak sehat pada rentang 201-299.
- Dan kategori berbahaya pada rentang 300-500.
Secara spesifik, kualitas udara dalam kategori sangat tidak sehat berpotensi merugikan kesehatan pada sebagian populasi yang terpapar. Sementara itu, kualitas udara kategori berbahaya dapat menimbulkan kerugian kesehatan yang serius dan meluas pada seluruh populasi manusia.