Jelang libur panjang Imlek, IHSG parkir di zona merah

Babaumma – , JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Jumat (13/2/2026) dengan koreksi signifikan sebesar 0,64%, mendarat di level 8.212. Pelemahan ini mencerminkan kecenderungan pasar yang risk off, terutama menjelang libur panjang Imlek yang akan datang.

Advertisements

Dinamika pasar pada hari tersebut menunjukkan nilai transaksi yang cukup aktif, mencapai Rp24,41 triliun, angka ini bahkan lebih tinggi dibandingkan hari sebelumnya yang tercatat Rp23,85 triliun. Namun, sentimen jual mendominasi, terlihat dari 408 saham yang ditutup melemah, berbanding 267 saham yang menguat, dan 148 saham lainnya stagnan.

Tim Riset Sinarmas Sekuritas menyoroti beberapa saham berkapitalisasi besar yang menjadi pemberat utama laju IHSG. Di antaranya adalah saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Telkom Indonesia (persero) Tbk. (TLKM), dan PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN). Beban dari saham-saham ini menjadi faktor krusial dalam menekan indeks.

: Dividen Jumbo Belum Ampuh Tahan Outflow Asing, IHSG Masih Tertekan

Advertisements

Lebih lanjut, Sinarmas Sekuritas menegaskan, “Pelaku pasar cenderung risk off jelang libur Imlek pekan depan. Pelemahan IHSG dibebani oleh saham BBCA, TLKM, dan BREN,” jelas tim riset tersebut pada Jumat (13/2/2026), menggarisbawahi kehati-hatian investor dalam menyambut hari libur panjang.

Kondisi lesu ini tidak hanya melanda pasar domestik, melainkan juga sejalan dengan kinerja bursa-bursa utama Asia. Pada hari yang sama, Jumat (13/2/2026), Shanghai Composite anjlok 1,3% di tengah kekhawatiran tingginya pengeluaran untuk pengembangan teknologi AI dan jelang libur Imlek. Di Hong Kong, indeks Hang Seng terpangkas 1,7% akibat tekanan dari semua sektor serta sentimen negatif yang datang dari penurunan saham teknologi di bursa AS. Sementara itu, Nikkei 225 Jepang juga tidak luput dari koreksi, melemah 1,2%.

: : Di Depan Prabowo, Menko Airlangga Bilang IHSG Sudah Rebound

Senada dengan analisis tersebut, Tim Riset OCBC Sekuritas menambahkan bahwa pelemahan IHSG juga tercermin dari mayoritas indeks sektoral yang bergerak di zona merah. Sebanyak 7 dari 11 sektor ditutup melemah, menunjukkan tekanan jual yang merata di berbagai lini industri.

Dua sektor yang paling signifikan menghambat laju IHSG adalah sektor infrastruktur dan industri dasar (basic industri), yang masing-masing mencatatkan penurunan sebesar 1,23% dan 1,06%. Penurunan di sektor-sektor kunci ini turut memperparah sentimen negatif di pasar.

: : IHSG Hari ini (13/2) Melemah ke Level 8.212 Saat Presiden Gaungkan Indonesia Incorporated

Penutupan IHSG yang merosot memang selaras dengan mayoritas bursa regional yang juga melemah. Pasar Asia-Pasifik bergerak negatif pada perdagangan Jumat, mengikuti tren Wall Street yang juga ditutup dalam tekanan. Investor secara kolektif memilih untuk berhati-hati menjelang libur panjang, di mana bursa domestik akan ditutup sementara.

“IHSG ditutup turun seiring mayoritas bursa regional yang ditutup melemah,” pungkas tim riset OCBC Sekuritas, memperkuat pandangan bahwa pasar global saling terkait dalam tren pelemahan ini.

Untuk pekan depan, pasca libur panjang, perhatian investor akan tertuju pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang dijadwalkan pada 18-19 Februari 2026. Pasar memprediksi bahwa suku bunga acuan BI akan dipertahankan pada level 4,75%, menciptakan ekspektasi stabilitas di tengah fluktuasi pasar.

Tak hanya indeks saham, nilai tukar Rupiah juga mengalami tekanan, ditutup melemah ke level 16.830 per dolar AS dari 16.815 pada hari sebelumnya. Di sisi lain, yield Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun justru menunjukkan penurunan ke level 6,409% dari sebelumnya 6,436%, mengindikasikan adanya pergeseran minat investor terhadap aset dengan risiko lebih rendah.

Tim Riset Phintraco Sekuritas turut mengamini bahwa investor cenderung berhati-hati menjelang libur panjang. Sektor infrastruktur mencatat koreksi terbesar, sementara sektor transportasi justru membukukan penguatan paling signifikan. Kenaikan di sektor transportasi didorong oleh adanya katalis positif berupa insentif dari pemerintah bagi industri galangan kapal, memberikan sedikit optimisme di tengah koreksi pasar secara keseluruhan.

Advertisements