
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara menargetkan mendirikan 20 proyek hilirisasi lintas sektor dengan nilai investasi sekitar US$ 26 miliar. Nilai itu setara Rp 404,25 triliun dengan asumsi kurs Rp 16.884 per hari ini, Jumat (13/2).
Chief Executive Officer (CEO) Danantatra, Rosan P Roeslani menyampaikan, program-proyek yang masuk dalam pipeline (daftar antrean) Danantara tersebut diperkirakan mampu menciptakan hingga 600 ribu lapangan kerja baru.
“Ini adalah proyek hilirisasi yang on the pipeline, yang di mana dari total 20 program hilirisasi ini, 6–7 sudah dimulai sejak minggu lalu,” kata Rosan dalam agenda Indonesia Economic Outlook 2026 di Wisma Danantara, Jakarta, Jumat (13/2).
Dia menyampaikan, dari total 20 program hilirisasi yang disiapkan, sebanyak enam proyek telah memulai tahap groundbreaking atau peletakan batu pertama pada 6 Februari 2025 lalu dengan nilai proyek mencapai US$ 7 miliar.
Keenam proyek tersebut kemudian dikelompokkan dalam tiga sektor. Yang pertama adalah sektor mineral yang mencakup proyek smelter alumina menjadi aluminium di Mempawah, Kalimantan Barat, serta pengolahan bauksit menjadi smelter grade alumina.
Kemudian, di sektor energi ada proyek bioavtur di Cilacap dan bioetanol di Banyuwangi. Dan yang terakhir adalah sektor pangan dan agrikultur yang mencakup proyek pengolahan garam serta kawasan bisnis terintegrasi.
“Termasuk setelahnya yang nomor 7 adalah hilirisasi kelapa terintegrasi, setelahnya kami juga sudah mulai dari beberapa bulan yang lalu,” ujarnya.
Seusai keenam proyek tersebut masuk tahap groundbreaking, Danantara kemudian menargetkan 14 proyek hilirisasi lainnya segera menyusul dengan nilai proyek sebesar US$ 19 miliar. Menurut dia, program hilirisasi menjadi kunci untuk menangkap nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri.
“Kalau kita lihat memang hilirisasi akan memberikan kontribusi yang sangat besar, karena kami ingin meng-capture all the value added yang ada di Indonesia dengan mengoptimalkan productivity,” kata dia.
Rosan menegaskan, pelaksanaan proyek hilirisasi akan tetap mengedepankan prinsip tata kelola yang baik, transparansi, akuntabilitas, dan integritas. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga kepercayaan investor sekaligus memastikan proyek berjalan sesuai target.
Percepatan hilirisasi juga diharapkan mendorong pertumbuhan industri berbasis sumber daya alam, memperkuat struktur ekonomi, serta meningkatkan penyerapan tenaga kerja dalam skala besar. Program ini menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah dan meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.
Daftar 20 Proyek Hilirisasi Danantara 2026:
- Alumina menjadi aluminium
- Bauksit menjadi smelter grade alumina
- Bioavtur dari UCO
- Bioetanol
- Bisnis ayam terintegrasi
- Pengolahan garam industri
- Hilirisasi batu bara ke DME
- Pengembangan oil refinery (pengilangan minyak) domestik
- Hilirisasi rumput laut menjadi carrageenan
- Pengembangan produk turunan minyak sawit (oleofood)
- Produksi copper rod, wire and tube
- Pengolahan aspal buton
- Produksi besi baja dari pasir besi
- Produksi stainless steel slab dari nikel
- Manufaktur modul surya terintegrasi dari bauksit dan silika
- Pengolahan manganese sulfate
- Pengembangan kapasitas penyimpanan minyak bumi
- Hilirisasi pala menjadi oleoresin
- Pengembangan ekosistem produksi ikan tilapia
- Hilirisasi kelapa terintegrasi